Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

KN-LWF Gelar Seminar Pophetic Diakonia Related To Power And Structure

- Minggu, 02 April 2017 21:16 WIB
504 view
Pematangsiantar (SIB)- Dalam rangka memperingati 500 Tahun Reformasi Marthin Luther, Komite Nasional Lutheran World Federation Indonesia (KN-LWF) menggelar seminar akhir pekan lalu, dengan thema Prophetic Diakonia Related To Power and Structure. Seminar dibuka Sekretaris Eksekutif KN-LWF Pdt Basa Hutabarat MMIN, dengan pembicara Kadep Diakonia HKBP Pdt Debora Sinaga MTh dan Direktur Karina FM Pastor Thomas Sinabariba OFMCap.

Koordinator Diakonia KN LWF Indonesia Janri Damanik kepada SIB mengharapkan agar gereja semakin menyuarakan hal-hal menyangkut kehidupan manusia seperti ketidakadilan, pengerusakan lingkungan hidup, diskriminasi, kemiskinan dan lainnya. Diharapkannya untuk tidak larut dalam liturgi dan ibadah, pembinaan fisik, namun juga didorong menjadi jemaat yang diakonal, siap diperbaharui dan memperbaharui. Kerjasama antar pelaku diakonia dalam bentuk aksi bersama sangatlah dibutuhkan.

Sementara itu, Kepala Departemen Diakonia HKBP Pdt Debora Sinaga MTh mengatakan, sifat dan sikap gereja dalam ber-diakonia berdasar pada sifat dan sikap Yesus Kristus sebagaimana telah dinyatakan dan dilakukan di dalam pelayanan-Nya. Sebagaimana Kristus hidup demikianlah juga gereja hidup. Yesus Kristus bukan hidup untuk diri-Nya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Demikian juga orang Kristen telah menjadi warga gereja atau tubuh Kristus. Baik secara pribadi maupun secara bersama-sama, gereja harus melakukan pelayanan terhadap sesama anggota pesekutuan dan terhadap orang lain di luar persekutuan.

Berdasarkan kasih inilah semua pelayanan gereja dilaksanakan. Oleh karena itu, semua pelayanan haruslah menjadi suatu jawaban terhadap Allah yang lebih dahulu mengasihi kita. Jadi, konsep diakonia ditentukan keseluruhannya oleh Yesus Kristus melalui kehidupan, pekerjaan dan perkataan-Nya. Dari sudut pandang sosiologi dapatlah dikatakan bahwa diakonia merupakan suatu sikap solidaritas yang mendalam terhadap orang lain berdasarkan kasih. Solidaritas itu diwujudkan dalam diakonia. Artinya dalam diakonia ada sikap tanpa pamrih, sikap yang menekankan hidup bersama dengan tidak mencari keuntungan diri sendiri.

Karenanya tujuan pekerjaan diakonal adalah membantu orang lain dan menempatkannya pada posisi yang benar di hadapan sesama manusia dan Tuhan Allah. Memperdulikan keberadaan umat manusia secara utuh yaitu kebutuhan rohani, jasmani dan kebutuhan sosial. Tujuan diakonia juga mendukung realisasi sebuah persekutuan cinta kasih dan membangun serta mengarahkan orang untuk hidup di dalamnya. Oleh sebab itu, diakonia mempunyai fungsi kritis dalam jemaat maupun di dalam masyarakat.

Adapun bentuk-bentuk diakonia seperti Diakonia Karitatif adalah diakonia yang lebih cenderung menekankan perbuatan belas kasihan yang bersifat kedermawanan atau pemberian secara sukarela.

Motivasi perbuatan karitatif pada dasarnya adalah dorongan prikemanusiaan yang bersifat naluriah semata-mata.

Diakonia Reformatif atau Pembangunan. Yang mana model diakonia ini lebih menekankan pembangunan. Pendekatan yang dilakukan adalah Community Development  seperti pembangunan pusat kesehatan, penyuluhan, bimas, usaha bersama simpan pinjam, dan lain-lain.

Diakonia Transformatif tidak bisa dilepaskan dari misi Allah untuk meyelamatkan isi dunia di mana pembangunan gereja tidak boleh menjadi penghalang dan hilangnya semangat diakonia transformatif dari orang percaya. Untuk itu, diakonia transformatif memiliki tendensi pada  beberapa dimensi kehidupan, yaitu Diakonia sebagai ibadah,Diakonia sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan hidup,Diakonia sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian dan persaudaraan dengan sesama manusia. Diakonia sebagai upaya untuk menciptakan keadilan sosial dan perwujudan Kerajaan Allah,Diakonia sebagai upaya menciptakan kemanusiaan dan kesejahteraan bagi semua.

Prophetic Diakonia masa kini sudah semakin tidak terdengar karena keperdulian gereja terhadap orang-orang yang termarginalisasi semakin terabaikan akibat pengaruh globalisasi di bidang teknologi dan informasi bahkan era digital saat ini karena rasa kebersamaan sudah digantikan dengan sifat individiualisme dan egoisme yang semakin tinggi. Orang lebih suka berkomunikasi di dunia maya dengan media sosial yang ada dibandingkan dengan dunia sekelilingnya yang secara langsung bisa menerima dampaknya jika terjadi hubungan timbal balik, interaksi, melalui tatap muka, dialog yang secara langsung. (C03/h)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru