Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Tuhan yang Memberi, Tuhan yang Mengambil

* Oleh Pdt Sunggul Pasaribu MPAK
- Minggu, 30 April 2017 14:49 WIB
2.540 view
Tuhan yang Memberi, Tuhan yang Mengambil
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama Alias Ahok usai mendengar hasil dari hitung cepat sementara bahwa dia kalah dari lawannya menyatakan "Jabatan, Tuhan yang beri, Tuhan yang ambil. (Baca harian "SIB" halaman 1 Head-Line, terbitan Kamis, 20 April 2017).

Ungkapan seperti ini adalah timbul dari kesadaran bahwa sumber segala sesuatu, apakah harta kekayaan, jabatan, nafas kehidupan adalah berasal dari Tuhan. Tidak ada satu pun yang ada di dunia ini di luar ciptaan-Nya, di luar pengetahuan Tuhan, tidak ada penderitaan atau kesusahan tanpa sepengetahuan Tuhan, kepemilikan yang ada bagi manusia merupakan atas pemberiaan-Nya. Inilah yang dirasakan oleh Basuki Tjahaya Purnama meskipun ia sedang menghadapi kekecewaan atas kekalahan yang dialaminya. Bukankah biasanya orang yang kalah akan merasa seperti kehilangan sesuatu atau tertipu orang lain, atau seperti orang yang tidak ada apa-apanya lagi di dunia ini. Sehingga seringkali orang yang merasa kalah terbeban berat.

Namun tidak demikian sikap hidup Basuki Tjahaya Purnama, justru sebaliknya, dia mengakui dan bersaksi atas jabatan yang dimilikinya adalah bersumber dan merupakan amanah dan pemberian Tuhan semata. Luar biasa ya!

Meskipun sebenarnya bahwa pernyataan Basuki Tjahaya Purnama seperti ini adalah persis sama dengan apa yang dikatakan sebagaimana dalam kitab Ayub 1:21: "katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN".

Apa yang terjadi dalam hidup Ayub di mana penghancuran yang dilakukan iblis terhadap seluruh hidupnya justru hanya disikapi Ayub sebagai cobaan semata. Oleh karena itulah dia tidak terlihat menjadi putus asa meskipun ia kehilangan banyak hal.

Iblis sangat tidak suka melihat orang percaya memiliki hubungan karib dengan Tuhan. Itulah sebabnya Iblis berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan kita dari Tuhan, apa pun caranya. Salah satunya berusaha menanamkan keraguan dalam hati orang percaya mengenai kebaikan dan penyertaan Tuhan. Iblis tahu benar apa yang menjadi kelemahan manusia, karena seringkali manusia mengukur besarnya kebaikan Tuhan dari kemampuan-Nya memberikan berkat berupaya materi. Banyak yang berpikir bahwa semakin kaya semakin terbukti bahwa ia diberkati oleh Tuhan. Inilah celah yang secara jitu dimanfaatkan Iblis untuk meruntuhkan iman orang percaya, yaitu berusaha menghilangkan atau merampas harta yang dimiliki mereka.

Saat Hani (bukan nama sebenarnya) meninggal dunia setelah dua tahun menderita kanker, banyak sahabat mengomentari sikapnya yang tidak pernah mengeluh. Meskipun tahu kemungkinan sembuhnya kecil, ia tetap bersukacita dan bersemangat. Ia menguatkan suaminya dan kedua anak mereka yang masih kecil. Hani menjadi guru bagi suami dan kedua anaknya, sekaligus murid karena ia belajar dari penyakitnya."Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub?" Itulah pertanyaan Tuhan kepada Iblis.

Tuhan sangat menghargai Ayub karena ia saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (ay. 8). Tuhan menerima tantangan Iblis dengan mengizinkannya mencobai Ayub (ay. 12). Ayub harus menanggung kesusahan yang parah secara beruntun. Ayub tidak mengerti penyebab penderitaannya, tetapi ia menyatakan kepercayaannya yang teguh kepada Allah, yang berhak mengizinkan kenyamanan, kesulitan, maupun kebaikan di dalam hidupnya. Ia tetap memuji Tuhan meski kondisinya tidak mudah (ay. 21).

Di dalam penderitaan, penting bagi kita merenungkan keinginan Tuhan, bukan keinginan kita. Jika keinginan kita bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan Dia mengizinkan kita mengalami kesulitan dan penderitaan hidup, tetaplah percaya bahwa Tuhan selalu merencanakan yang terbaik. Dia tidak mungkin mencelakakan dan membinasakan kita. Jika kita meresponsnya dengan sikap yang positif, kita akan tetap bersukacita dan bertumbuh dalam pengenalan akan Dia.
Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus.

Penulis sengaja mengangkat kesaksian Basuki Tjahaya Purnama ini untuk menjadi bahan renungan ketika kita menghadapi suatu cobaan baik di bidang tugas dan pekerjaan, dalam soal harta kekayaan, atau jabatan. Di saat seorang pedagang mengalami kerugian, atau bagi seorang pejabat harus dicopot jabatannya, atau seorang pekerja dalam tugasnya tidak maksimal berhasil sukses supaya kita jangan terlalu cepat berputus asa. Kita diingatkan bahwa ternyata segala sesuatu itu berasal dari Tuhan, dan pada akhirnya Tuhan juga yang akan menentukan. Maka orang Kristen harus berani bersikap dan menyatakan: Terpujlah Tuhan, sebab Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Amin.! (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru