Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Bukan Apa, Tapi Bagaimana

* Oleh : Pdt Dr Luhut P Hutajulu MTh * (Mateus 6:25-34;khususnya ayat 34)
- Minggu, 07 Mei 2017 22:51 WIB
350 view
"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."ay.34
Ada dua orang sama-sama berada di Rumah Sakit. Mata mereka sama-sama menerawang ke bintang-bintang. Tetapi antara keduanya ada bedanya. Yang seorang menikmati indahnya malam. Wajahnya tenteram. Yang lain, merasa tertusuk oleh pahitnya hidup. Matanya redup.

Apa yang dilihat oleh kedua orang itu sama. Namun mereka melihatnya dari dua sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu, hasilnya pun berlainan. Yang satu, menikmati keindahan. Yang lain, malah tertekan. Pengalaman bukanlah apa yang dialami seseorang, melainkan apa yang dilakukan seseorang terhadap apa yang terjadi pada dirinya.

Yang teramat menentukan memang bukanlah apa yang dilihat. Melainkan bagaimana orang melihatnya. Di situlah letak soalnya. Orang yang satu, orang percaya, menjadi penuh syukur dan sukacita. Ia dengan wajah berseri-seri berkata," Setiap kali aku bangun di pagi hari, matahari tampak jauh lebih indah. Hari-hari hidupku menjadi jauh lebih berharga dan bermakna." Karena kita setiap bangun langsung mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberi hari yang baru. Sedangkan orang yang satu lagi, biasa-biasa saja, malah dikatakan terlalu cepat pagi ini, tidak bisa diperlambat? Tidak murung tentu saja, tapi tidak terlalu bahagia. "Ia yang percaya, sembuh. Aku, yang tidak percaya, juga sembuh. Nah, apa bedanya?! Di sini soalnya bukan soal Tuhan, tapi soal kemampuan dokter," begitu reaksinya.

Perbedaannya tidak terletak pada apa yang dialaminya, melainkan pada bagaimana menghayatinya. Iman atau percaya itu memberikan sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu, bintang tampak lebih kemilau. Mentari terasa lebih bercahaya. Udara menjadi lebih segar. Dan seluruh hidup jadi lebih bermakna.
Ada tiga hal yang menjadi ciri khas orang beriman.

Yang pertama, ia tidak hanya mencerca keadaan. Tidak Cuma mengeluh dan bersungut-sungut di belakang. Ini bukan karena ia tak punya alasan yang sah untuk mengeluh. O, ia punya segudang alasan untuk menjadi berang atas yang ia lihat di dalam kenyataan. Ketidakberesan, ketidakbecusan, kesewenang-wenangan. Dan ia dapat dengan mudah membuka daftar yang lebih panjang lagi. Tapi orang beriman menyadari, bahwa hidup ini memang tak selalu berjalan seperti yang diinginkan. Nah, bila kita memang tak mampu untuk mengubah kenyataan, mengapa bukan kita yang mengubah sudut pandang? It s better to lighten small candle than to curse the darkness. Lebih bagus menyalakan lilin kecil daripada mengutuki kegelapan.

Yang kedua, orang beriman itu mempunyai kaca mata yang lain untuk memandang kehidupan. Hidup ini sebenarnya indah! Tetapi begitu sering orang tak mampu menikmati keindahannya, karena ia memakai kaca-mata yang salah. Bila ia memakai kaca mata hitam, maka tentu saja semua kelihatan gelap. Dan bila ia memakai kaca-mata buram, tak ayal lagi semuanya akan kelihatan suram.

Yang ketiga, orang beriman tidak hanya merenung, tetapi akan melakukan sesuatu. Betapapun kecilnya. Betapapun sederhananya. Bila aliran listrik terputus, ia tidak hanya mencerca kegelapan. Ia akan mulai menyalakan lilin. Mengapa persoalan dalam hidup kita sering bagaikan benang kusut? Membuat kita tidak tahu mesti mulai dari mana untuk menguraikannya? Sering kali adalah karena kita amat bernafsu untuk menyelesaikan semua perkara sekaligus dan seketika. Pada hal kita mesti belajar pada petani. Yang sabar dan amat telaten menunggu. Sambil berbuat sesuatu. Hari ini membajak. Besok menanam. Seminggu menyiangi. Walaupun tahu baru beberapa bulan lagi ia akan menuai.

Cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri sudah semakin memudar. Tidak jarang manusia cenderung terlalu dini untuk memvonis dirinya sebagai pribadi yang tidak berguna, pribadi yang gagal, atau bahkan muncul keinginan untuk mengakhiri hidup karena dirasakan hidup tanpa makna dari waktu ke waktu.

Tetapi  bila Anda menghadapi persoalan rumit, kerjakanlah apa yang dapat Anda lakukan. Jangan menjadi frustrasi karena apa yang tidak dapat diselesaikan. Hari ini tak selesai? Tunggu besok. Besok tak selesai juga? Siapa tahu lusa. Terus bekerja. Jangan putus asa, Tuhan menyertai dan menguatkan kita. (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru