Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
Promosikan Toleransi Beragama

Paus Fransiskus Kebaktian di Gereja Koptik Mesir yang Dibom ISIS

- Minggu, 07 Mei 2017 22:55 WIB
370 view
Kairo (SIB)- Paus Fransiskus mengunjungi gereja Mesir yang pernah dilanda ledakan bom yang didalangi kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Paus Fransiskus ikut menghadiri kebaktian di gereja tersebut.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (29/4), Paus Fransiskus ikut dalam prosesi yang digelar di dekat kantor Paus Koptik Tawadros II hingga Gereja Saint Peter dan Saint Paul, yang menjadi lokasi ledakan bom bunuh diri yang menewaskan 29 orang pada 11 Desember 2016.

Paus Fransikus dipandu oleh para jemaat gereja yang membawa foto Yesus Kristus. Di dalam gereja, Paus Fransiskus duduk di sebelah Paus Tawadros dan para pendeta gereja tersebut.

Serangan bom pada 11 Desember tahun lalu diikuti oleh dua ledakan bom di dua gereja Mesir pada April ini. Ledakan bom kembar di dua gereja berbeda, yakni di Tanta dan Alexandria, itu menewaskan total 45 orang. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas ledakan bom itu.

Kunjungan Paus Fransiskus ke Mesir yang dimulai sejak Jumat (28/4) waktu setempat ini, bertujuan mempromosikan toleransi beragama. Selama dua hari, Paus akan bertemu dan berdialog dengan pemimpin dan tokoh muslim di Mesir.

Paus Fransiskus akan bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, juga Sheikh Ahmed al-Tayeb selaku Imam Besar Al-Azhar, kemudian juga Paus Tawadros II yang merupakan Kepala Gereja Koptik Ortodoks.

Kunjungan Paus Fransiskus ini juga dimaksudkan untuk menunjukkan dukungan bagi warga Kristen Koptik yang tengah menghadapi ancaman teror dari ISIS. Warga Kristen Koptik mencapai 10 persen dari total 90 juta penduduk Mesir.

Pesan Damai Paus
Sementara dalam pidatonya di Al-Azhar University, Paus menyerukan agar para pemimpin umat beragama melaksanakan tanggung jawabnya, menguak kedok kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan.

Para pemuka agama juga diimbau menyampaikan pesan perdamaian dan toleransi.

"Sebagai pemimpin umat, adalah panggilan bagi kita untuk menguak kekerasan berkedok sesuatu yang suci," kata Paus Fransiskus, disambut tepuk tangan meriah hadirin, seperti dikutip dari CBS News.

"Marilah kita mengatakan sekali lagi, dengan tegas dan jelas, tidak untuk setiap kekerasan, pembalasan, dan kebencian yang dilakukan atas nama agama atau atas nama Tuhan."

Untuk melawan secara efektif kebiadaban orang-orang yang menimbulkan kebencian dan kekerasan, kata Paus Fransiskus, para pemuka perlu merangkul kaum muda.

"Membantu mereka dalam perjalanan menuju kedewasaan dan memberikan bekal pada mereka bagaimana merespons para penghasut kekerasan."
Paus Fransiskus juga mendesak dihentikannya pendanaan untuk kelompok-kelompok ekstrem yang memilih jalan kekerasan.

"Penting untuk memblokir arus dana dan senjata pada mereka yang mengambil jalan kekerasan, dan mengatasnamakan tindakannya atas nama sesuatu yang suci," kata Paus Fransiskus.

Ia juga mengutuk apa yang diistilahkannya sebagai kebangkitan bentuk-bentuk demagogis populisme.

Kebangkitan populisme, menurut pria bernama asli Jorge Mario Bergoglio itu, sangat merugikan perdamaian dan stabilitas dunia.

"Sangat membingungkan untuk dicerna. Saat ini realitas konkret kehidupan masyarakat kian diabaikan demi permusuhan yang tidak jelas," kata dia.

Sementara itu, Imam Besar Al Azhar, Syekh Ahmed al-Tayeb, mengucapkan terima kasih atas pernyataan Paus Fransiskus - yang dianggap membantu meredakan gelombang kesalahpahaman terhadap Muslim dan Islam - yang kerap diasosiasikan dengan teror.

"Kita perlu membersihkan agama dari gagasan yang salah, kesalehan palsu, dan implementasi curang yang memicu konflik, kebencian, dan kekerasan," kata dia.

"Islam bukanlah agama teroris. Yang terjadi adalah sebagian kecil penganutnya membajak sejumlah ayat untuk memicu pertumpahan darah."

Kedatangan Paus Fransiskus ke Al Azhar adalah bagian dari upaya memperbaiki ikatan usai keputusan para pemimpin Muslim Mesir untuk memutuskan hubungan dengan Vatikan, gara-gara komentar Paus Benediktus.

Sementara, dalam pidato di depan Presiden Abdel-Fattah El-Sissi dan diplomat dari seluruh dunia, Fransiskus dengan tegas mendukung tindakan keras pemerintah Mesir terhadap militan.

Presiden El-Sissi juga mengatakan, militan yang melakukan tindakan teror tak layak mengklaim dirinya Muslim.

"Islam yang sejati tidak memerintahkan untuk membunuh orang-orang tak bersalah," kata Presiden Mesir, saat berdiri di samping Paus Fransiskus. (Detikcom/Lip6.com/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru