Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

“Disalibkan” Karena Beriman

* Oleh: Pdt. Estomihi Hutagalung
- Minggu, 14 Mei 2017 20:10 WIB
590 view
“Disalibkan” Karena Beriman
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari" (Lukas 9: 23)

Sebuah penistaan keagungan hidup dan tanda kemanusiaan yang bodoh dan lemah. Itulah kesimpulan pemaknaan nilai hidup oleh mereka yang berdiri tegak di atas spirit ala Nietzsche "usai membaca" kisah pelayanan Tuhan Yesus yang berakhir tragis di kayu salib.

Sebab bagi Nietzsche, sikap kekristenan atas ajaran Yesus yang menempatkan hidup tanpa kekerasan adalah sebuah tanda kehinaan dan ketiadaan harga diri. Dan pilihan politik Yesus yang tidak memprovokasi massa untuk menggulingkan penguasa yang lalim, dimaknai sebagai tanda kehidupan yang bodoh dan lemah.

Bagi tokoh yang menjadi ikon kaum libertarian ini, hidup yang bermakna didasarkan pada keberanian untuk menempatkan kekerasan sebagai alat perlawanan guna menumbangkan segala penghalang ambisi kehidupan. Hidup yang berkemenangan harus ditempuh dengan segala cara sebab kebanggaannya adalah mata ganti mata gigi ganti gigi.

Itulah sebabnya, Nietzsche menempatkan kekristenan sebagai tanda keberagamaan umat yang lemah dan menempatkan keyakinannya pada sebuah tajuk "agama sebagai candu kehidupan". Dan dari spirit demikianlah banyak orang disadarkan atas sebuah proposisi bahwa di dalam diri manusia terdapat keinginan untuk berkuasa tanpa batas.
***

Pada faktanya, realitas pemaknaan demikian sudah dihadapi oleh Rasul Paulus ketika mengingatkan jemaat Korintus mengenai salib sebagai fundamental iman Kristen. Pada surat yang pertama pada Korintus pasal 1; 23, Paulus mengingatkan bahwa "tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan; untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan".

Dan perjuangan hidup atas ajaran Yesus yang mendasarkan hidup kasih yang melampaui batas nilai sectarian dogmatis, dapat dianggap sebagai sebuah upaya untuk mengganggu stabilitas sosial politik. Tindakan demikian juga dikategorikan sebagai sebuah upaya untuk menghancurkan nilai, meruntuhkan ajaran keagamaan yang telah diwarisi secara turun temurun.

Sehingga, sikap hidup atas ajaran Yesus demikian, dikategorikan sebagai tindakan penistaan agama dan menjadi ancaman untuk menggulingkan pemerintah. Sebab dalam dictum politik Yahudi diyakini bahwa "tidak ada kejahatan yang tak terampuni selain kejahatan menghujat Allah". Itulah sebabnya Yesus harus dihukum mati di kayu salib.

Itu berarti, bagi orang yang tidak menempatkan iman percayanya pada kehidupan Yesus, akan memaknai kasih, damai sejahtera, pengampunan, pengharapan pada nilai yang rendah dan lemah. Orang yang tidak menempatkan imannya pada Yesus akan memraktekkan hidup dengan kekerasan, unjuk rasa kekuatan sehingga menimbulkan teror, rasa takut yang berkepanjangan.

Tetapi sejarah pergulatan iman Kristen telah mewariskan sebuah kesadaran fundamental bahwa salib adalah cara bertindak dan buah kasih dari Allah untuk memutus rantai sejarah kekerasan. Salib berkaitan pada inti iman Kristen dan menjadi dasar dari nilai kehidupan orang kristen. Nilai kasih telah melampaui doktrin nilai sectarian dogmatis.

Umat beriman pada Yesus, walau berada dalam realitas sosialnya yang jamak melakukan tindak kekerasan, tidak boleh kalah dengan realitas sosial berpijaknya. Justru dalam realitas sosial sebagaimana pernah ditandai oleh Nietzsche sebagai der wille zur wahrheit: suatu manifestasi nihilisme, maka kehadiran orang Kristen harus berani menetapkan hidup pada nilai salib.

Sebab, kasih dapat memutus rantai kekerasan dan membangkitkan umat pada kehidupan damai sejahtera, meneguhkan semangat pemimpin yang berani menanggung risiko demi kesejahteraan umat. Salib sebagai wujud kasih akan mampu menggairahkan rasa empati untuk hidup berdamai dan berjuang demi perwujudan cita-cita kebangsaan.

Dengan demikian, walaupun ada pihak yang merendahkan umat Kristen yang mengimani sikap nilai hidup kasih dan menganggap orang Kristen sebagai kaum yang lemah tak berdaya, umat Tuhan tidak boleh menyerah. Sebab pada panggilan hidup demikianlah esensi ajaran Yesus diwujudkan dan menjadi tanda kesaksian bagi orang yang belum percaya.

Itu berarti orang Kristen harus berani untuk menempatkan diri pada pilihan hidup oleh kasih walau menderita, bahkan disalibkan karena beriman. Walau gereja dibom oleh teroris, umat Kristen tidak melawan dengan kekerasan. Keyakinan akan nilai salib demikian menjadi dasar imperatif bagi umat Tuhan untuk menjadi pelaku aktif dalam memutus siklus kebencian, kekerasan. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru