Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Hidup Sukacita dan Ucapan Syukur

* Bahan Bacaan: Filipi 1 : 3 – 11 * Pdt. Jansen Simanjuntak, MTh, MM
- Minggu, 11 Juni 2017 22:31 WIB
1.891 view
Satu hal yang sangat luar biasa dalam diri Paulus, walau dia saat itu di dalam penjara karena memberitakan Injil dan Kerajaan Allah, dia tetap menyuarakan dan menasihati jemaat Filipi untuk tetap mengucap syukur dan bergembira. Paulus tidak terpaku melihat dan mengutuki atau menangisi rantai borgolnya. Tetapi dari tembok penjara sempit yang membatasi gerak-geriknya, mata imannya menatap jauh ke depan, ke akhir segala sesuatu, yaitu "hari Tuhan." Prinsip hidup dan Iman seperti yang dihidupi oleh Paulus inilah yang kita perlukan dalam kondisi kita sekarang ini, yaitu "optimisme dan pengharapan eskhatologis." Dengan optimisme dan pengharapan seperti itu, kita boleh bersemangat, kita boleh bergairah untuk menapaki hidup dan kehidupan ini di dalam sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan. Paulus dan jemaat Filipi mempunyai hubungan yang sangat mesra dan penuh kasih. Mengingat jemaat Filipi bukan saja membuat Paulus mengucap syukur kepada Allah, tetapi dia juga berdoa dengan sukacita.

Bapak/ibu, saudara, saudariku! Ada banyak orang berdoa dengan keluhan dan air mata, ada orang yang berdoa dengan jeritan dan tangis, ada pula orang berdoa dengan merasa terpaksa untuk berdoa. Tetapi Paulus berdoa dengan sukacita, karena sungguh luar biasa pengaruh dari kehidupan jemaat Filipi dalam pelayanan Paulus. Ada banyak alasan manusia untuk bersyukur kepada Tuhan, ada orang yang bersyukur karena dia sehat sentosa, ada orang bersyukur karena mendapat harta melimpah, ada orang bersyukur karena promosi jabatan dan lain-lain. Namun Paulus bersyukur kepada Allah karena "persekutuan jemaat Filipi dengan berita Injil dari dulu sampai sekarang." Jemaat Filipi ternyata menerima Injil dengan sepenuh hati dan menghidupinya dalam kehidupan mereka setiap hari. Mereka turut serta dalam setiap pergumulan Injil yang dialami oleh Paulus. Mereka turut mendapat bagian membantu Paulus ketika dalam penjara. Mereka juga turut mendapat bagian membantu Paulus ketika sedang membela dan meneguhkan berita Injil. Persekutuan jemaat Filipi dalam berita Injil melahirkan kerinduan yang dalam bahkan membuat mereka selalu berada dalam hati Paulus. Lebih dari itu, kehidupan jemaat yang bersekutu dalam berita Injil membuat Paulus bersyukur setiap kali mengingat jemaat Filipi.

Bapak/ibu, saudara, saudariku! Betapa indahnya hubungan yang baik antara jemaat dan pelayannya yang menimbulkan ingatan dan hati dalam syukur kepada Allah. Dari kehidupan jemaat yang sangat baik ini, Paulus berkeyakinan sesungguhnya bahwa ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara jemaat Filipi, akan meneruskannya sampai pada akhirnya, pada hari Kristus Yesus. Pekerjaan yang baik di dalam jemaat Filipi adalah pekerjaan Allah sendiri. Inilah juga yang diyakini Paulus akan berlangsung terus-menerus dalam jemaat Filipi hingga kedatangan Kristus Yesus kedua kalinya. Paulus menjelaskan hal itu bahwa sesungguhnya tujuan hidup orang percaya itu adalah memasuki hari Kristus Yesus. Memasuki kesempurnaan hidup bersama dengan Kristus Yesus.

Paulus dengan tegas mau mengatakan, bahwa kebaikan yang sedang berlangsung kini bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah yang di tempuh hingga kesempurnaannya pada hari Kristus Yesus, sebab kehidupan orang percaya berada dalam perjalanan menuju hari Kristus. Dengan keyakinan penuh, Paulus yang bersyukur itu dapat melihat bahwa Allah yang memulai pekerjaan yang baik dalam diri orang percaya akan meneruskannya sampai pada hari Kristus Yesus. Mari bersyukur kepada Allah, sehingga kita dapat melihat Allah bekerja dalam kehidupan kita.

Bapak/ibu, saudara, saudariku! Lalu apa yang didoakan Paulus dalam sukacita atas jemaat Filipi? Kebanyakan orang berdoa untuk dirinya dan kelompoknya. Doa dinaikkan untuk kepentingan sendiri. Dan sering terjadi, manusia meminta (berdoa) kepada Allah agar Allah memberikan kebahagiaan, kekayaan dan berbagai keinginan mereka. Manusia sering memohon kepada Allah untuk memenuhi berbagai hal dalam keinginan manusia itu sendiri. Allah dijadikan sebagai Tuhan untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Berbeda dengan Paulus, dia berdoa dengan sukacita untuk kehidupan jemaat Filipi. Dia berdoa, agar kasih jemaat Filipi makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan segala macam pengertian. Paulus tidak mendoakan jemaat Filipi agar semakin kaya. Paulus tidak berdoa agar jemaat itu makin mendapat posisi atau jabatan. Dia tidak berdoa untuk berbagai keinginan manusia lainnya, melainkan dia berdoa agar kasih mereka semakin melimpah, yaitu kasih yang semakin dewasa di dalam pengetahuan dan pengertian yang benar. Kasih yang semakin melimpah akan membangun hubungan yang baik dan damai di antara sesama anggota persekutuan. Kasih yang semakin melimpah membangun nilai-nilai kemanusiaan yang bermakna dan berkualitas.

Bapak/ibu, saudara, saudari! Ketiga hal itulah sesungguhnya kebutuhan dasar orang percaya untuk mampu membedakan yang baik dari yang jahat, sehingga pada akhirnya dapat memilih yang baik. Pada zaman modern yang semakin kabur pengertian antara yang baik dan yang jahat, orang percaya memerlukan hikmat Allah, dan hikmat Allah itu tertuang dalam kasih yang melimpah. Orang percaya atas pertolongan Tuhan dapat memilih yang baik dalam hidupnya. Sama seperti Paulus, kiranya kita bersyukur kepada Allah atas persekutuan kita dalam berita Injil dan keikutsertaan kita dalam karunia Allah. Masa penantian kita akan kedatangan Tuhan, kiranya kita isi dengan kasih yang semakin melimpah dengan pekerjaan baik, dengan hidup suci dan penuh buah kebenaran untuk memuliakan dan memuji Tuhan. Amin. (l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru