Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Gereja Katolik Diminta Dukung Kampanye Pengolahan Limbah Plastik

- Minggu, 18 Juni 2017 20:20 WIB
950 view
Jakarta (SIB)- Komitmen pemerintah Indonesia untuk mengurangi sampah plastik yang mencemari laut dan merugikan persediaan ikan kemungkinan akan dirusak oleh kurangnya kehendak untuk mengubah sikap dari masyarakat dewasa ini, demikian disampaikan gereja dan aktivis.

Mereka menekan lagi keraguan atas kampanye pemerintah yang ambisius yang diluncurkan pada bulan Februari untuk menghapus 70 persen sisa-sisa sampah plastik di lautan masing -masing negara pada akhir tahun 2025.

Pesimisme mereka tetap ada meski Indonesia mengkampanyekan hal tersebut pada Konferensi Kelautan PBB yang pertama di New York 5-9 Juni lalu, di mana semua negara yang hadir mengetuai secara bersama.

Saat menjelaskan kampanyenya, delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Kelautan Luhut Panjaitan mengatakan pada konferensi tersebut bahwa Indonesia bermaksud untuk menangani sampah laut dengan mengurangi sampah plastik dengan meningkatkan kesadaran dan menerapkan strategi pengurangan, penggunaan kembali dan daur ulang.

Komitmen pemerintah baik, namun masyarakat perlu diyakinkan, kata para pemerhati lingkungan.

Mengurangi sisa-sisa sampah plastik sebesar 70 persen dalam kerangka waktu yang diberikan sepertinya terlalu cepat mengingat sikap masyarakat terhadap pengelolaan limbah, kata Pastor Peter C. Aman, direktur Komisi Keadilan Perdamaian dan  Keutuhan Ciptaan.

"Kesadaran lingkungan bukan bagian dari jiwa Indonesia, terutama yang berkaitan dengan sampah plastik. Di Jakarta 80 persen sampahnya plastik," katanya.
"Konsumerisme sangat kuat di masyarakat kita, orang-orang pergi ke mall dan pulang ke rumah dengan membawa kantong plastik. Pemerintah harus menekan perusahaan untuk menghasilkan alternatif lain selain  plastik."

Namun, dia meminta dukungan Gereja Katolik untuk kampanye tersebut.

"Gereja Katolik sudah berkampanye sekian lama tentang bagaimana cara mengelola sampah ini," katanya.

Hanie Ismail, ketua kelompok Komunitas Nol Limbah di Surabaya, Jawa Timur, mengatakan bahwa pemerintah harus mengubah gaya hidup semua elemen masyarakat.

Lautan sampah plastik masih menjadi masalah utama di Surabaya walaupun kelompoknya dan yang lainnya menganjurkan pentingnya untuk membuang sampah secara benar  selama bertahun-tahun.

"Ini tugas yang sangat besar," katanya. (ucanews.com/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru