Pada abad ke-21 saat ini, gereja-gereja semakin banyak menghadapi tantangan. Gereja sangat memerlukan orang Kristen yang memiliki iman yang murni berdasarkan pada Firman Allah. Gereja-gereja di Korea, antara lain dari denominasi Gereja Presbyterian adalah salah satu gereja terbesar yang berjuang untuk selalu memandang dan menyampaikan kasih Tuhan ke seluruh dunia. Korea menerima Injil 140 tahun yang lalu. Pada tahun 1912 Gereja Presbyterian Korea mengorganisir sinode dalam Sidang Raya dan memutuskan mengutus tiga keluarga misionaris ke China. Tahun 2012 mereka telah mengutus 24.000 orang misionaris ke 170 negara dan tahun 2020 mereka telah mengutus misionaris 60.000 orang ke seluruh dunia. Gereja Korea menjadi gereja yang misioner yang mendedikasi di dalam pelaksanaan misi.
Dalam doa dan kesaksian mereka, selalu terdengar kalimat "Hanya Tuhan" bahwa akar utama dari iman adalah "Yesus Kristus". Yesus Kristus adalah pusat dari iman kita dan pusat dari gereja. "Hanya Tuhan" juga menjadi motto warga jemaat. Bagi mereka gereja adalah tempat terjadinya karya Firman Allah, tempat pertemuan dengan Allah dan tempat Allah memberikan anugerah dan berkat. Allah memberi berkat melalui gereja. Orang-orang yang datang ke gereja mendapat berkat. Gereja memberitakan injil dan menyampaikan kasih Tuhan. Gereja melaksanakan pelayanan sosial. Sehingga kehidupan anggota jemaat harus mengasihi, menghargai dan saling membantu. Anggota jemaat harus setia pada Tuhan dan gereja.
Gereja Korea menekankan dua unsur dalam pelayanannya yaitu Doa Pagi dan Jiwa Mosem (hamba yang taat secara mutlak kepada Tuhan). Mosem juga berarti teladan selalu bergembira, hidup sederhana dan harus bekerja dengan setia. Doa pagi adalah suatu persekutuan yang diadakan pada pagi-pagi sekali. Tujuannya, yang pertama adalah mengalami kekudusan Allah dan yang kedua melatih jemaat untuk menjadi pelayan yang akan melayani tetangga, gereja dan dunia. Di dalam Kitab Perjanjian Lama ada banyak tokoh yang menjadi teladan dalam kehidupan iman, antara lain Yakub (Kej. 28:18); Musa (Kel. 24:1-11); Ezra(Neh. 8:1-18). Doa pagi-pagi juga bisa kita pelajari di dalam Kitab Perjanjian Baru dari kehidupan Yesus Kristus (Mrk.1:35; Luk. 6:12, 13) dan kehidupan Para Rasul (Kis.2:1; 5:21) menjadi teladan bagi orang Kristen.
Gereja-gereja di Korea mengembangkan program doa pagi-pagi yang kreatif, sebagai tempat latihan rohani. Gereja melatih jemaat supaya mereka memulai hari dengan Firman Tuhan. Gereja berjuang supaya melalui doa pagi-pagi jemaat mengalami kekudusan Allah, dan menjadikan orang yang melayani. Pagi-pagi adalah waktu yang paling baik untuk melatih jemaat. Orang-orang yang datang pada pagi-pagi adalah jemaat yang sungguh merindukan Tuhan sehingga hati mereka selalu terbuka maka mereka menerima firman dengan baik. Pagi-pagi hati jemaat lembut seperti tanah yang baik, sehingga mudah mendapat hasil. Pada pagi-pagi pikiran jemaat murni dan bersih, sehingga jemaat bisa menerima firman dengan baik.
Bahan khotbah setiap pagi dibagikan kepada jemaat. Mobilisasi secara keseluruhan jemaat, antara lain anak-anak sekolah minggu dan remaja, pemuda dan dewasa. Pengelolaan ruang doa dan acara disiarkan ke rumah-rumah sakit dan melalui internet ke dalam negeri dan seluruh dunia. Persembahan dipakai untuk tujuan yang tertentu, misalnya membantu organisasi NGO, orang-orang miskin, dan bantuan ke Korea Utara.
Untuk melaksanakan tugas misi gereja, mereka memiliki beberapa komisi misi. Untuk luar negeri ada beberapa komisi yaitu: Komisi Perencanaan, Komisi Pendidikan, Komisi Bantuan ke Korea Utara. Di dalam negeri ada beberapa komisi yaitu: Komisi Misi untuk Pedesaan (pertanian dan peternakan), Perintisan, Medis, Diaspora. Kegiatan misi gereja dilaksanakan melalui komisi-komisi yang banyak melibatkan kaum awam. Secara khusus, gereja-gereja Korea memiliki misi untuk Korea Utara saudara mereka sebagai persiapan untuk masa Reunifikasi - antara lain menolong dan menampung orang-orang yang melarikan diri dari Korea Utara dengan memberikan pendidikan.Beberapa kegiatan misi yang yang terlihat sederhana tapi sangat penting ke luar negeri antara lain mendukung program beasiswa di beberapa universitas di luar Korea. Pelayanan Penggalian Sumur di negara-negera yang kesuliatan air minum seperti Afrika, Misi Pertanian dan Peternakkan organik dengan gereja-gereja di sekitar asia - termasuk Indonesia. Program ini juga telah digagas penulis dengan gereja HKBP dengan melatih dua puluh orang pendeta dan petani setiap tahun belajar ke Korea.
Minjung dalam Misi
Teologi Minjung menjadi ideologi para petani di daerah pedesaan di Korea. Teologi yang sungguh dihayati dan menjadi filosofi para pendeta yang melayani di pedesaan dan bersama para petani di daerah pedesaan di Korea. Teologi Minjung adalah gerakan dan kebangkitan kaum miskin, petani dan buruh yang berjuang untuk kehidupan, keadilan, dan kesejahteraan dari situasi sosial yang penuh dengan ketimpangan. Dalam perkembangannya saat ini, penulis mengenal Pendeta Han Kyeng Ho bersama teman-teman pendeta lainnya sudah berjuang kurang lebih 18 tahun untuk gerakan ini di daerah Wonju Korea. Gerakan itu semakin besar dan akhirnya berhasil memberi kesejahteraan bagi para petani dengan cara hidup dan bertani organik.
Mereka mendirikan koperasi petani yang digagasi gereja yang mereka layani bersama di desa. Dimana semua hasil pertanian mereka akan ditampung bersama di tempat distribusi yang mereka bangun dan kelola secara profesional kemudian mereka jual di mini market yang telah mereka bangun bersama untuk bisa dijual sampai ke kota-kota besar, bahkan menjangkau semua kota secara online. Para petani sudah semakin maju, bukan hanya bertani padi, sayur atau buah-buahan. Tetapi juga sekaligus beternak ayam, babi, kambing dan sapi. Para petani sudah menguasai teknologi, seperti halnya Pak Kim (seorang penatua) bersama isterinya mampu bertani dengan mengelola lahan dua hektare, tapi hasil pertanian dan peternakan bisa mereka buat sampai pada tahap pengemasan (packing). Mereka menanam tomat sampai tahap pembuatan menjadi jus tomat dengan kemasan yang menarik dan bagus sekali. Mereka beternak sapi dan kambing membuat susu menjadi yogurt dan sampai tahap pengemasan, daging sapi menjadi sosis dan ham. Padi dan gandum menjadi tepung. Bahkan energi yang digunakan untuk rumah dan semua mesin dengan menggunakan energi matahari. Dengan begitu hasil pertanian bisa mendapat untung sampai sepuluh kali lipat.
Life Giving Agriculture
Enam tahun yang lalu (21-25 November 2011), Bidang Diakonia HKBP di Distrik Dairi Sidikalang mengundang teman-teman pendeta dan petani Korea ini. Organisasi mereka diberi nama Life Giving Agriculture Forum in Korea (KLGAF), di mana Pendeta Han Kyeong Ho menjadi ketuanya sampai sekarang. Forum yang digagasi oleh kalangan rohaniawan gereja-gereja desa di Korea ini telah membuahkan hasil di mana warga jemaat mereka bukan hanya menjadi petani organik tetapi juga telah melahirkan gerakan konsumer organik di gereja gereja kota. Gerakan ini telah berjalan lebih dari 30 tahun dan telah mampu membangun hubungan antar gereja desa sebagai basis produsen pertanian organik dan gereja urban/kota sebagai basis konsumer atau pasar dari hasil pertanian organik tersebut.
Melihat dan mengetahui potensi gerakan ini, November 2011 Departemen Diakonia HKBP bekerjasama dan KLGAF mengadakan konsultasi LGANS (Life Giving Agriculture North Sumatera) agar Sumut dan Korea saling belajar untuk mengembangkan pelayanan jemaat melalui pertanian organik. Konsultasi ini dihadiri 25 orang pendeta HKBP perwakilan tiap distrik di Sumatera dan 15 orang dari Korea, di antaranya ada pendeta dan petani langsung dari Korea. Diundang juga para petani yang ada di Sidikalang Dairi. Kemudian pertemuan ini dilanjutkan di Medan, dengan mengundang 30 orang pendeta yang melayani di Medan yang diharapkan menjadi pusat pemasaran hasil pertanian dari daerah. Selain konsultasi para petani juga langsung dilatih membuat persemaian padi model terbaru di Korea dengan hasil yang maksimal.
Dalam pertemuan ini HKBPmenjelaskan pendekatan teologi orang Batak mengenal Allah adalah sebagai petani, itulah yang banyak dilakukan oleh penginjil dari Jerman memperkenalkan Allah di dalam pelayanan gereja, yaitu konsep Pargodungan. Bagaimana supaya orang Batak mendapatkan gizi yang baik dari pertanian dan menerima pendidikan yang baik melalui sekolah-sekolah yang didirikan di lingkungan gereja. Dampak kekristenan di tanah batak sangat terasa, ketika Indonesia ingin merdeka tahun 1945 tidak lepas dari perjuangan orang Kristen Batak di Sumut. Sekarang ini secara keseluruhan ada lima juta warga jemaat gereja-gereja Batak yang tersebar hampir di semua propinsi dan kabupaten di Indonesia bahkan ada di Malasyia, Singapura dan Amerika. Itu terjadi karena Kekristenan di tanah Batak sangat mengandalkan pendidikan yang di lakukan oleh gereja, dan hasilnya banyak lulusan pendidikan dari gereja ada di semua sektor di pemerintahan termasuk di bidang militer.
Indonesia memang negara kaya tapi miskin karena mereka tertindas secara politik global. Kenyataannya lebih cepat UU penanaman modal atau saham lahir daripada UU untuk membela nasib masyarakat miskin dan petani. Itulah yang membuat gereja-gereja di Indonesia harus turun dan membela masyarakat dan warga jemaat melalui aksi dan pendampingan kepada petani. "Bagaimana dengan kebijakan pemerintah di Korea menanggapi keadaan orang miskin dan petani di Korea? Ketika ketidakadilan oleh pemerintah terjadi, maka semua petani demonstrasi turun ke jalan-jalan dan bahkan menanam padi di jalan aspal yang dibangun oleh pemerintah. Mereka mengatakan, "Kami merubah metode bagaimana memobilisasi dan mendidik para petani sampai bisa berhasil. Pola pikirnya harus diubah. Perlu belajar teknologi pertanian lebih baik lagi, bagaimana membuat jaringan penjualan hasil pertanian antara jemaat desa dan kota. Dunia saat ini sudah menjadi suatu pemasaranâ€.
Selama hampir 35 tahun Korea dijajah Jepang, agama Kristen menghembuskan semangat besar kepada orang-orang di Korea. Orang Kristen di Korea sangat suka membaca cerita Alkitab, yaitu kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Situasi peristiwa keluaran itu mereka nilai sangat mirip dengan situasi Korea sehingga gereja Korea juga sangat rindu dilepaskan dari penjajahan Jepang. Jemaat Kristen sangat berperan besar pada waktu itu menggagas kemerdekaan negara Korea. Dari 33 orang yang membuat dokumennya, 16 orang diantara beragama Kristen. Itulah yang membuat kemudian pada tahun 2013 Dewan Gereja Dunia mengadakan program JPIC di Korea, dengan tema, "Tuhan yang hidup memimpin kita ke dalam keadilan dan damai sejahtera."
Penutup
Berpendirian teguh, berani memegang kebenaran, itulah semangat Minjung yang misional. Kalau kemiskinan membuat orang menjadi maling, perampok, rajin korupsi, itu orang miskin yang hina. Kalau kemiskinan dijadikan alasan untuk melacurkan diri, itu bukan orang yang memiliki Semangat Minjung yang misional. Kalau orang bersedia melakukan apa saja demi uang, demi melepaskan diri dari kemiskinan, dan tanpa ragu melanggar moralitas dan hukum, maka ia tidak pantas dihormati karena tidak memiliki Semangat Minjung yang misional.Orang yang tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan militer sekali pun ia tidak memiliki senjata kecuali dirinya sendiri, inilah orang-orang yang tidak mudah tunduk oleh berbagai tekanan penguasa, tidak tergoyahkan oleh kuasa politik yang tak bermoral. Orang-orang yang berani dan gigih memperjuangkan kepentingan-kepentingan mayoritas, meski pun ia termasuk kelompok minoritas secara jumlah dan kekuatan, adalah Semangat Minjungyang misional.
Semangat Minjung yang misional hanya bisa dibangun lewat ujian, lewat kesulitan, melalui penderitaan. Ia tidak bisa dibangun dalam kemanjaan dan kehidupan yang serba mudah. Ia tidak bisa dibentuk hanya dengan membaca atau ikut sekolah formal semata. Tetapi sesungguhnya itulah tujuan pendidikan yang sejati. Tujuan pendidikan bukanlah membuat orang jadi kaya-berkuasa-terkenal, melainkan menjadi manusia yang mulia, manusia yang manusiawi. Tetaplah menghamba dengan Semangat Minjung yang misional "Menjadi orang yang taat kepada Tuhan, mencari pimpinan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan," Percaya kepada Tuhan ketimbang percaya pada diri sendiri atau pada apa dan siapa pun; hidup berdasarkan kebenaran Firman Tuhan, mengenal dan memuliakan Tuhan lewat hidup dan pekerjaan" (Roma 14:17). Tuhan memberkati. (c)