Gereja saat ini hidup di era digital. Bagi orang Kristen kemajuan teknologi komunikasi dan digital ini adalah berkat Tuhan. Ini merupakan kemudahan pemberian Tuhan untuk pelayanan. Dalam hal ini, saatnya gereja memadukan spiritual, intelektual dan digital dalam pelayanan.
Secara implisit dalam Konfessi HKBP (Pasal 5) tercermin sikap positif HKBP terhadap teknologi digital dan Tuhan memberi pengetahuan kepada manusia untuk memuji Allah. Rapat Pendeta HKBP 2019 juga menyatakan bahwa "Revolusi Industri ke-4 dan perkembangan teknologi yang sangat cepat adalah anugerah Tuhan. Gereja dapat memanfaatkan perkembangan teknologi itu untuk meningkatkan dan mempermudah pelayanan khususnya pelayanan jarak jauh. Namun harus disadari bahwa era digital dan Revolusi Industri 4.0 ini bisa menimbulkan hal-hal negatif yang harus diwaspadai dan dihindari karena potensial membuat iman pendeta dan warga jemaat lemah akibat berita hoax dan ujaran kebencian dan isu sara, menyuburkan roh mammonisme yang sejalan dengan konsumerisme. Informasi yang tanpa saringan bisa mereduksi iman dan bisa mengurangi ketergantungan kepada Tuhan.
Sebagai alat, IT sangat tergantung pada bagaimana si pengguna menggunakannya. Rapat Pendeta HKBP 2019 merekomendasikan Pimpinan HKBP untuk membuat pedoman atau rambu-rambu penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan. Pedoman dan rambu-rambu dimaksud masih harus dikerjakan oleh HKBP ke depan.
Dengan menerima kemajuan teknologi digital sebagai berkat, HKBP dapat menggunakannya sebagai alat pelayanan. Sedikitnya lima bidang pelayanan dan penatalayanan HKBP berkaitan dengan penggunaan teknologi digital, yaitu ibadah online, database jemaat dan para pelayan gereja, sistem online keuangan, aplikasi digitalisasi dokumen-dokumen HKBP dan aplikasi produk-produk warga jemaat HKBP.
1.Ibadah Online
Pandemi Covid-19 "memaksa" gereja-gereja melakukan ibadah online. Sebelum pandemi ini merebak sudah ada beberapa gereja di Indonesia yang melakukan ibadah online. Hasil survey Bilangan baru-baru menunjukkan bahwa yang lebih siap dengan ibadah online adalah gereja-gereja Pentakosta dan Kharismatik dibandingkan dengan gereja main line (arus utama). Survey yang sama juga menunjukkan bahwa sesudah Covid ini berlalu beberapa gereja akan tetap melakukan ibadah online dan offline (di gereja) sekaligus.
Satu hal yang sangat esensial dalam ibadah Minggu dan Perayaan Gerejawi adalah "Perjumpaan umat dengan Allah dan sesama umat percaya." Apakah Allah hadir dalam ibadah virtual? Kita hanya berpegang pada janjiNya: di mana berkumpul dua atau tiga orang, Ia ada di tengah-tegah mereka. Dengan demikian, bolehkah ibadah secara virtual atau online? Jawabannya boleh dan baik pada waktu yang tepat. IT adalah alat. Sebagai alat, ia dapat digunakan untuk perjumpaan umat dengan Allah dan sesama umat. Memang dalam Konfessi HKBP dikatakan supaya orang Kristen bersekutu bersama pada hari Minggu (Konfessi HKBP 1996 Pasal 11). Tetapi persekutuan tidak sepenuhnya hilang dalam ibadah online.
2.Database Jemaat dan Pelayan HKBP
Sebagai gereja besar dengan ribuan pelayan gereja (Pendeta, Guru Jemaat, Bibelvoruw, Diakones, juga Sintua), HKBP membutuhkan database jemaat dan pelayan HKBP. Balitbang HKBP, semasa kepemimpinan Pdt Daniel Taruli Asi Harahap, MTh, sudah memulai pembuatan database HKBP, tinggal melanjutkannya dengan beberapa penyesuaian menurut kebutuhan. Di HKBP ada banyak ahli atau pakar IT yang rela mempersembahkan keahlian mereka untuk tersedianya database jemaat dan pelayan gereja. Secara teknis, database ini tidak sulit diselesaikan. Roy Deddy Hasiholan Lumbantobing, S.T., M.I.C.T., (dosen salah satu Perguruan Tinggi swasta di Toba) yang saya wawancarai beberapa hari yang lalu (percakapan tersebut tersedia di youtube) mengatakan bahwa untuk mempermudah penyelesaian database jemaat dan pelayan gereja dapat dilakukan dengan meng-input data masing-masing jemaat dan masing-masing pelayan gereja. Admin di Kantor Pusat hanya melakukan approved untuk masuk ke database.
Kalau database ini diselesaikan, maka pimpinan HKBP, para Praeses, seluruh pelayan dan warga jemaat bisa dengan cepat mengetahui atau mengenal jemaat dan para pelayan. Misalnya database jemaat berisikan: sejarah berdirinya jemaat, gambaran umum kehidupan warga jemaat dalam persekutuan jemaat, gambaran umum kehidupan warga jemaat dalam masyarakat, potensi warga jemaat, asset jemaat dan sebagainya. Database pelayan gereja penuh waktu misalnya berisikan data pribadi, latar belakang pendidikan, kursus atau pelatihan yang pernah diikuti, keluarga, tempat-tempat pelayanan yang sudah dijalani, bakat atau talentanya, keahlian, tulisannya, tanggungannya, minatnya, kondisi kesehatannya dan sebagainya. Termasuk Sintua HKBP yang jumlahnya sekitar 40.000 orang tersedia curiculum vitaenya dalam database. Dengan tersedianya database jemaat dan pelayan gereja pelayanan HKBP dapat lebih baik dan dapat tertolong dalam mewujudkan visinya menjadi berkat bagi dunia.
3.Aplikasi dokumen-dokumen penting HKBP
HKBP memiliki beberapa dokumen penting yang seharusnya dimiliki oleh para pelayan HKBP dan warga jemaat seperti Bibel dan Buku Ende digital, Konfessi HKBP, Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon (RPP) HKBP, Aturan dan Peraturan HKBP, Bahan Pengajaran Sidi, Almanak, Renungan Harian, dan dokumentasi kegiatan gereja di lingkungan HKBP. Sampai sekarang semua dokumen ini masih dalam bentuk cetak. Bagaimana caranya supaya dokumen-dokumen ini selain dalam bentuk cetakan juga bisa tersedia dalam bentuk digital dan dapat diakses para pelayan dan warga jemaat? Teknologi sudah lama tersedia. Tinggal bagaimana HKBP menggunakan teknologi agar dokumen-dokumen ini bisa dimiliki pelayan dan warga jemaat dalam bentuk digital dan dapat dibaca di laptop atau di smartphone. Yang mengerjakan ini pun banyak warga HKBP yang mampu dan mau mempersembahkan keahliannya demi pelayanan HKBP yang lebih baik dan optimal. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, para pelayan dan warga jemaat dapat memilih apakah membeli dokumen dalam bentuk buku atau bentuk digital.
4.Sistem Keuangan Online
Gereja tidak hidup karena uang, tetapi gereja yang hidup pasti punya uang, demikian kata-kata mencerahkan dari Pdt Dr Justin Sihombing. Kalau HKBP memiliki uang, itu bukan kesalahan dan bukan dosa. Uang adalah bagian dari berkat Tuhan yang harus dikelola dengan sikap takut akan Tuhan. Untuk pengelolaan keuangan yang lebih baik dan lebih mudah mempertanggung-jawabkannya, kemajuan teknologi menyediakan sistem keuangan online.
Semasa melayani sebagai Ketua STT HKBP, kami menerapkan system keuangan online, dimana Ketua STT, Bendahara, Sekretaris Jenderal HKBP dan Badan Audit bisa mengakses pengeluaran dan pemasukan STT HKBP secara online setiap saat.Unit-unit pelayanan HKBP sudah saatnya menerapkan sistem keuangan online. Demikian halnya di tingkat pusat, penerapan sistem keuangan online akan lebih mudah menuntun pada pengelolaan keuangan dengan baik dan bertanggungjawab. Pengelolaan keuangan yang baik akan dengan sendirinya menciptakan trust.
Dalam hal tertentu, pengumpulan persembahan juga dimungkinkan berbagai perubahan cara tanpa perubahan esensi. Di masa persembahan warga jemaat dapat diserahkan secara online. Misalnya, ada rekening jemaat atau kantor Pusat dengan sistem QRIS (pembayaran non tunai) di mana warga jemaat dapat menyerahkan persembahannya dengan scan barcode QRIS yang tersedia. Uang cash dan uang virtual sama nilainya sebagai persembahan.
5.Aplikasi produk-produk warga jemaat HKBP
Tugas gerejalah membangun persekutuan sesama warga jemaat dan tugas gereja juga menyejahterakan warga jemaat. Dalam diskusi kami dengan Bapak Roy Deddy Hasiholan Lumban-tobing, S.T., M.I.C.T (silahkan menontonnya di youtube) terungkap bahwa sebagai bagian pelayanan gereja untuk jemaat di era digital, penting dibangun beberapa aplikasi yang utamanya berbasis website dan mobile. HKBP dapatmenyediakan aplikasi yang menyediakan platform bagi jemaat untuk mempromosikan dan menjual produk UMKM/UKM yang dimilikinya ke komunitas jemaat gereja HKBP yang jumlahnya besar. Platform tersebut menjadi eksklusif dan bagian penting pengembangan ekonomi jemaat gereja. Dengan memanfaatkan berbagai kanal komunikasi gereja serta memaksimalkan prinsip gotong royong jemaat, maka institusi gereja dapat membantu untuk memfasilitasi, mengedukasi, mempromosikan bahkan memastikan jemaat mengutamakan platform tersebut untuk transaksi ekonomi. Dalam hal ini HKBP hadir bagi jemaat, di luar layanan ibadah dan mitra jemaat dalam peningkatan kesejahteraan secara komunal. (d)