Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Ephorus GKPA Pdt Adolv Bastian Marpaung Mmin MTh:

Esensi Pernikahan Tergerus Oleh Persoalan Ekonomi, Gereja Harus Peka

- Minggu, 31 Mei 2015 14:49 WIB
757 view
Esensi Pernikahan Tergerus Oleh Persoalan Ekonomi, Gereja Harus Peka
Ephorus GKPA , Pdt Adolv Bastian Marpaung MMin, MTh.
Padangsidimpuan (SIB)- Banyaknya persoalan yang dihadapi ditambah kian terpuruknya ekonomi sangat mempengaruhi esensi pernikahan sehingga tidak sesuai lagi dengan iman Kristen. “Esensi pernikahan telah tergerus oleh persoalan ekonomi yang menghantam rumah tangga khususnya jemaat Kristen,” ujar Ephorus GKPA , Pdt Adolv Bastian Marpaung MMin, MTh kepada SIB, Jumat (22/5) di kantornya.

Lebih lanjut Pimpinan Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) menyampaikan, bahwa persoalan keluarga Kristen harus disikapi dengan bijak, cepat dan transparan oleh Gereja. Jemaat jangan sampai dibiarkan berjuang sendiri menyelesaikan permasalahannya termasuk mengenai keutuhan pernikahan mereka.

Banyak  permasalahan yang mencuat akhir-akhir ini menyangkut persoalan dalam rumah tangga. Seperti kasus perselingkuhan, kasus perceraian dan cekcok dalam rumah tangga sehinggga anak- anak yang jadi korban. Untuk itu Gereja jangan tutup mata mengenai hal itu karena harus disikapi sesuai dengan iman kekristenan.

Menurut Ephorus GKPA, bahwa saat ini ada tren berkembang di kota- kota besar dimana penggembalaan (parmahanion) ketika pra-nikah sangat mereka butuhkan. Pasangan yang akan melaksanakan pernikahan selalu menginginkan agar mereka dibimbing selama 3–6 bulan sebelum mengikat pernikahan.

Parmahanion pra nikah sangat diperlukan agar janji pernikahan dan esensi pernikahan itu jangan sampai dipengaruhi kehidupan duniawi yang semakin berkembang pesat dan bisa memangsa korban yaitu pasangan suami istri yang masih muda.

Kenapa gereja terkesan lamban menyikapi permasalahan tersebut? Menurut Pdt Adolv Bastian Marpaung ini, bahwa kebanyakan gereja terlena dan sudah banyak yang hanya memikirkan untung dan rugi dalam hal pelayanan. Menyebabkan gereja lupa terhadap jemaat yang sangat membutuhkan pertolongan secepatnya.

Guna menyikapi permasalahan tersebut, maka gereja jangan menunggu melainkan harus jemput bola, perbanyak kegiatan atau interaksi positif sehingga jemaat merasa turut ambil bagian dalam setiap gerak dan langkah gereja itu sendiri. “Ingat kelangsungan pernikahan Kristen tidak hanya tanggung jawab pasangan suami istri, melainkan adalah juga tanggung jawab Gereja dan Pendeta ataupun Parhalado,” ujarnya. (E08/d)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru