Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
RENUNGAN

Jadilah Orang Kaya Harta dan Rohani!

* Oleh: Pdt Estomihi Hutagalung MTh
- Minggu, 31 Mei 2015 14:58 WIB
746 view
Jadilah Orang Kaya Harta dan Rohani!
Tentu saja bukan hanya kaum libertarian, yang menganggap kapitalisme sebagai sebuah realitas keberhasilan hidup, akan merasa terusik usai membaca kisah Lazarus yang miskin dalam Lukas 16: 19-31. Narasi sosial atas bingkai kekayaan, yang dalam tradisi Latin disebut Devas, dengan jubah ungunya, diperhadapkan dengan realitas Lazarus yang hidup bersama dengan anjing. 

Pada perspektif tertentu, narasi demikian akan dapat mendorong banyak orang untuk membuat kesimpulan akan adanya permusuhan kekayaan dan kemiskinan. Dan juga akan dapat berimplikasi teologis bahwa orang kaya ditolak Tuhan, tempatnya di neraka. Lalu menganggap orang miskin dengan "gratis" masuk sorga atas perlakuan kasar orang kaya. 

Bukan demikian dengan kaum Weberian. Dalam temuan Max Weber bahwa adanya interpretasi terhadap Injil akan mendorong orang Kristen untuk bekerja keras sehingga memperoleh kekayaan. Nilai spiritual demikian sangat kuat berkembang di Eropa masa Weber. Temuan ini berimplikasi teologis bahwa kekayaan tidaklah dosa tetapi menjadi saluran berkat.

Oleh karenanya, cerita Injil yang diungkap oleh Yesus juga berdimensi pada etos sosial orang beriman. Narasi demikian, bukan semata-mata bicara tentang realitas surga atau neraka dengan menghiraukan realitas hidup masa kini.

Dimensi sosial beriman atas narasi ini tidak hanya sebatas mengasihi orang miskin (preperential option for the poor). Yesus hendak mengajak kita untuk menyadari makna kehadiran orang beriman dalam dunia yang penuh pergumulan yang ditandai jarak lebar kehidupan orang kaya dan orang miskin. Yesus mengajak kita mewujudkan panggilan iman bagi orang lain, yang rendah status hidupnya atau yang kaya status sosialnya. 

Dan kesadaran makna beriman demikian, menjadi sebuah investasi hidup yang bersifat eskatologis yaitu pencapaian hidup di sorga. Itu berarti, cerita Lazarus dengan Devas oleh Yesus tidak semata-mata untuk menggapai hidup di masa depan yaitu apakah hidup di surga atau hidup di neraka!

Pembacaan atas teks demikian, hendak menyadarkan orang beriman untuk mewujudkan panggilan hidup (berufung: istilah Weber) dalam realitas hidup masa kini sehingga berdampak pada realitas hidup kekal yaitu sorga. Implikasi kesadaran ini membawa setiap orang Kristen untuk bertindak di masa kini sebagai buah iman guna meraih kehidupan kekal di sorga. 

Maka, Yesus mengundang kita pada suatu pemaknaan hidup fungsional. Sebab, hidup yang berarti, ditentukan pada bagaimana orang beriman menghadapi realitas kemiskinan atau kekayaan. Kedua nilai sosial ini tidak boleh dipandang berseberangan. Sebab Yesus bergaul dengan orang kaya (Zakeus) yang menyerahkan setengah kekayaannya. Dan pada aspek lain, Yesus menyampaikan sabda hidup "Berbahagialah orang miskin".

Sesungguhnya, penulis Injil Lukas sedang berhadapan dengan manusia yang memaknai hidup dengan idiologi pragmatis; yang menempatkan harta, kekayaan dan nilai materialisme sebagai mahkotanya. Dan konstruksi hidup demikian akan semakin dipersubur atas moto "hidup hanya sekali" maka nikmatilah hidup dengan sepuas-puasnya. Dan kita diingatkan peringatan penting bahwa kecenderungan hidup pragmatisme akan bermuara pada kehilangan esensinya.

Maka untuk menyadarkan manusia atas spirit pragmatisme itulah Yesus menyatakan pengajaran-Nya dengan perspektif hiperbolik, perbandingan yang sangat kontras antara hidup orang kaya dan orang miskin. Hiperbolik demikian juga bermuatan untuk meluruskan prinsip hidup dari fragmatisme menjadi orang beriman yang bersifat realistis eskatologis. 

Suatu kehidupan yang menyadari bahwa "kaki berpijak di bumi dan membutuhkan uang, makanan, harga diri, nama baik tetapi pada saat yang sama disadarkan akan adanya iman yang mengharapkan hidup kekal di surga".

Maka, Yesus mengajak kita untuk menghadapi realitas hidup yang kontras tersebut atas kepribadian yang kontras juga. Dan cerita Yesus ini bukan sekadar membentangkan fakta dikotomis, perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan. Cerita Yesus berimplikasi pada etos pribadi yaitu menuntut adanya perbedaan kepribadian (karakter) yang kontras apabila dua status sosial (kemiskinan atau kekayaan) melekat pada seseorang. 

Yesus membantu kita melihat kepribadian Lazarus ketika mengalami kelaparan yang hebat, kepedihan yang sangat dalam tanpa harus menyalahkan orang lain atau menyalahkan Tuhan. Spirit Ayub dapat menjadi acuan pemaknaan demikian. Lazarus tidak mengasihani diri sendiri dengan bahasa romantik sambil bertanya, "Mengapa saya menderita walaupun kaya? Mengapa saya tidak bisa kaya? Tetapi, dengan kepribadian demikian, Yesus mengundang setiap orang untuk berani menghadapi realitas hidupnya sendiri.

Maka, kekayaan atau kemiskinan tidak boleh menjadi tujuan hidup orang beriman tetapi sarana memaknai hidup masa kini menuju hidup kekal. Dan sebagai orang beriman, maka hidup masa kini harus dimaknai dengan bekerja keras. Semakin rajin beribadah semakin rajin bekerja. Dan jika kita menjadi kaya, itulah sarana memaknai hidup. Untuk membantu biaya sekolah, kebutuhan obat bagi pengungsi gunung Sinabung, misalnya.

Marilah kita bekerja keras, dengan tidak membenci kemiskinan atau "menuhankan" kekayaan tetapi carilah harta sebanyak mungkin, simpan sebanyak mungkin dan berikan sebanyak mungkin. Itulah cara orang beriman dalam memaknai hidup masa kini demi kehidupan kekal yaitu surga. Jadilah Orang Kaya Harta dan kaya Rohani! Amin. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru