Setia kepada Allah! Itulah seruan Gereja dan panggilan iman umat Kristen sepanjang zaman. Setia berarti taat, beriman dan berpegang teguh pada isi perjanjian dengan Allah. Sementara janji Allah tidak perlu diragukan karena Allah adalah bersifat setia (Ibr. Khesed). Alkitab mencatat 241 kali bahwa Allah memiliki kasih setia kepada umat-Nya (Mzm. 106:1). Allah tidak pernah berubah (Ibr. 13:8). Jika Allah adalah setia maka umat tebusan-Nya juga terpanggil setia mengabdikan hidupnya, mengagungkan nama-Nya dan memuliakan Allah seumur hidupnya.
Alkitab mencatat bahwa ikatan perjanjian antara Allah dan umat-Nya selalu tidak berjalan mulus. Perjanjian kudus itu sering ternodai dengan ketidaktaatan dan ketidaksetiaan umat-Nya seperti menduakan Allah, meninggalkan Allah. Akan tetapi Allah tetap setia dan sabar. Malah terhadap umat-Nya Allah melakukan tiga hal penting supaya umat-Nya boleh setia kepada Allah. Pertama, Allah mengutus hamba-hamba-Nya (para nabi dan rasul) untuk menyampaikan pesan dan menyuarakan kesetiaan kepada Allah. Kedua, Allah mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus, supaya oleh-Nya manusia boleh belajar dan meneladani ketaatan-Nya kepada Bapa di sorga. Paulus mencatat hal penting ini, "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah menyerahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil. 2:8); "Itu sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama" (Fil.2:9). Ketiga, Allah mencurahkan Roh Kudus yang memimpin umat-Nya setia kepada Allah (Gal. 5:22).
Dogma Kristen membicarakan banyak hal, akan tetapi semua ajaran itu berujung kepada panggilan percaya dan setia kepada Allah. Manusia bebas memilih untuk setia atau tidak, berikut konsekuensinya. Kepada mereka yang setia diberi berkat di bumi dan di sorga. Dan kepada mereka yang tidak setia diberi ganjaran dan kutuk (bnd. Ul. 28; Why. 2:7).
Berikut ini sebuah refleksi kesetiaan diceritakan dalam Kejadian 39-41, yaitu Yusuf, anak Yakub. Dari keterpurukan hingga kemuliaan yang diperoleh berkat kesetiaannya kepada Allah. Drama kehidupannya sangat menarik. Berawal dari pengkhianatan saudara-saudaranya, lantas dimasukkan ke dalam sumur, kemudian dijual ke Mesir; ia difitnah isteri Potifar dan dimasukkan ke dalam penjara. Dari penjara ia dipanggil Firaun menjadi orang kedua penguasa di Mesir. Perjalanan pahit! Perjalanan yang berliku! Perjalanan hidup yang melelahkan! Yusuf tidak putus asa. Ia tidak meninggalkan Allah, ia tetap setia kepada Allah. Karena tidak meninggalkan Allah, maka Yusuf pun selalu dalam penyertaan TUHAN. Kejadian 39:2a: Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya (Kej. 39:2a). Potifar, tuannya pun mengakui bahwa Yusuf disertai Tuhan dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya.
Kesetiaan Yusuf sangat teruji dan terpuji. Ketika isteri Potifar terus menggodanya untuk tidur bersamanya. Yusuf menolak dan berkata: "...bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kej. 39:9b). Tidak ada alasan penolakan selain tidak kedapatan berdosa di hadapan TUHAN. Ia taat, ia teguh beriman, ia selalu mengagungkan, menguduskan dan memuliakan nama Allah. Itulah alasan baginya untuk lari dari godaan yang kuat itu.
Kehidupan yang dialaminya boleh dikatakan sial. Sesaat lamanya ia di rumah Potifar sebagai kepercayaan, sekarang sudah masuk penjara. Adakah nasibnya berakhir di penjara? Tidak! Bila dari sumur ia pergi ke Mesir, sekarang dari penjara ia diangkat menjadi orang terhormat dan mulia di Mesir. Maka tidaklah terlalu maju bila orang percaya berkata: TUHAN akan selalu menolong orang yang dikasihi-Nya kapan pun dan dimana pun; walaupun ia jatuh tidak dibiarkan sampai tergeletak sebab TUHAN menopang tangannya (Mzm. 37:24). Benar seperti tertulis dalam 1 Tawarikh 17:27: "Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, akan diberkati selamanya".
Firaun memanggil Yusuf dari penjara untuk mengartikan mimpinya. Yusuf mengartikan mimpi Firaun dengan benar dan tepat, sampai Firaun mengaku: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya itu kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau" (Kej. 41:39); Lalu, Firaun mengangkat dan memberi kuasa kepada Yusuf, yaitu menguasai seluruh tanah Mesir (ay.40). Bahkan kepada Yusuf diberi nama Zafnat Paaneah (dalam bhs. Batak Toba: Zopenat Paneah: Sipangolu portibion). Nama itu diberi, karena Yusuf berhasil menanggulangi kelaparan yang terjadi di Mesir dan dunia sekitar.
Allah bukanlah Allah zaman dahulu kala; Allah adalah Allah yang kekal selama-lamanya. Jika Allah mengasihi Yusuf, itu juga berlaku bagi siapa saja, kapan saja dan di mana saja, asalkan taat dan setia kepada-Nya. Perjalanan boleh panjang, tetapi Allah tidak dilupakan. Perjalanan berliku-liku tetapi Allah Penuntunnya; perjalanan selalu sulit tetapi Tuhan Penolong; perjalanan bisa melelahkan tetapi Tuhan memberi semangat dan kekuatan; banyak godaan tetapi hanya nama Allah yang dimuliakan. Hendaknya setiap orang mengabdikan diri dan memuji Allah, seperti syair lagu dari Kidung Jemaat, No. 9: "Puji, hai jiwaku pujilah TUHAN selagi ada nafasmu! Allahku patutlah kuagungkan sepanjang umur hidupku. Hayatku Dia yang beri; Dia kupuji tak henti. Haleluya, haleluya; Jangan engkau pertaruhkan nasib kepada insan yang fana...". Setialah kepada TUHAN, Penolongmu. Kiranya pesan kitab Wahyu ini didengar setiap orang yang bertelinga: "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan" (Why. 2:10b). Be Faithfull!
(f)