Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Peluncuran Buku Pdt Dr Darwin Lumbantobing :

“Gerejaku, Agamaku dan Agamanya, Apa Bedanya?”

- Minggu, 30 Agustus 2015 14:42 WIB
521 view
“Gerejaku, Agamaku dan Agamanya, Apa Bedanya?”
Pematangsiantar (SIB)- Membangun komunitas damai untuk semua didasarkan pada teks Alkitab yang tertulis dalam Matius 5 : 9 yang berbunyi “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”. Jadi, tujuannya adalah untuk menghadirkan keselamatan di tengah-tengah kehidupan manusia dan hal itu sebenarnya merupakan inisiatif Allah untuk menghadirkan damai sejahtera di tengah-tengah umatNya.

Hal itu disampaikan Ketua STT HKBP Pematangsiantar/Ketua Rapat Pendeta HKBP, Pdt Dr Darwin Lumbantobing pada acara peluncuran buku yang ditulisnya berjudul “Gerejaku, Agamaku dan Agamanya, apa bedanya?” Damai sejahtera yang dimaksud di sini bukan hanya ketika perang atau malapetaka tidak terjadi, tapi damai sejahtera adalah ketika hubungan horizontal manusia harmonis terhadap sesama manusia dan ciptaan lainnya dan hubungan yang harmonis itu merupakan implikasi dan implementasi dari hubungan harmonis yang secara vertikal dengan Allah.

Dengan demikian damai dan kedamaian bukan hanya merupakan kondisi dan suasana kehidupan, tetapi juga pola keberadaan hakekat hidup. Itulah makna nubuatan Nabi Yesaya tentang datangnya Raja Damai yang secara figuratif menggambarkan kondisi, situasi, keberadaan dan hakekat damai itu secara konkrit.
Khotbah Yesus di bukit yang terkenal itu, Yesus menyatakan suatu statemen  yang sangat fundamental yaitu “Berbahagialah yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”. Damai itu harus dihadirkan, diciptakan dan dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang atau satu komunitas sehingga menjadi realitas, dengan demikian terciptalah kondisi, suasana dan keberadaan damai itu.

Untuk tugas tersebut, Yesus memanggil para muridnya (pemuridan) dalam rangka persiapan untuk pengutusan membawa misi mesianis yaitu untuk menghadirkan dan menciptakan damai. Tidak ada pemuridan tanpa pengutusan, dan tidak pernah terjadi pengutusan tanpa pemuridan lebih dahulu. Sebab setiap murid wajib hidup seperti Kristus hidup, melakukan apa yang telah dilakukan Yesus, mengasihi seperti Yesus mengasihi, mengampuni orang lain seperti Yesus mengampuni orang lain.

Menjadi murid Yesus harus dapat mengikuti jejaknya. Dengan alasan itulah kita dapat memahami dengan mudah mengapa penulis Perjanjian Baru selalu menekankan bahwa murid-murid Yesus orang-orang percaya kepadanya, harus menjadi perpanjangan tangan Kristus yaitu melaksanakan missi messianis, untuk diutus menghadirkan, menciptakan dan membawa damai. Hal itulah yang dilakukan Yesus ketika Ia mengutus kedua belas dan ketujuh puluh orang muridNya.
Membangun komunitas damai untuk semua dalam konteks kehidupan budaya, sosial dan bangsa Indonesia mengharuskan gereja tidak lagi hanya melakukan pelayanan tradisional dan formalitas saja. Sesuai dengan pluralitas yang sudah merupakan identitas kita bersama, maka persekutuan, kesaksian dan pelayanan gereja harus menjangkau orang lain, yang berbeda suku, bangsa, bahkan yang berbeda kepercayaan. Peranan gereja sebagai garam dan terang akan memotivasi gereja dan orang-orang percaya untuk menjadi pembawa damai bagi orang lain. Hanya dengan demikian gereja dan semua orang percaya kepada Yesus Kristus dapat menjadi komunitas damai untuk semua orang, makhluk dan ciptaan lainnya.

Kepelbagaian bidang kehidupan yang ada pada masa ini harus ditata sedemikian rupa, sehingga terjadi pelangi kehidupan yang indah, menarik dan tidak membosankan. Itulah sebabnya kepelbagaian hidup yang ada sekarang tidak hanya dipahami sebagai ancaman dalam kehidupan, tetapi sekaligus sebagai kesempatan dan kekuatan untuk berkarya, bersekutu dan melayani agar lebih hidup, bergairah dan memiliki semangat yang tinggi.

Oleh karenanya, semua pihak harus dapat hidup berdampingan dengan kondisi damai sejahtera. Semua pihak, gereja, lembaga pemerintah dan non pemerintah harus berusaha dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain, secara damai dan sejahtera. Itulah yang diupayakan dalam pembentukan komunitas damai di berbagai kehidupan, ujar Pdt Dr Darwin Lumbantobing. (R-18/h)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru