Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Renungan

Penderitaan yang Seketika (1 Petrus 5:10)

* Oleh Pdt Sunggul Pasaribu MPAK
- Minggu, 27 September 2015 14:47 WIB
5.177 view
Penderitaan yang Seketika (1 Petrus 5:10)
Penulis George MacDonald menulis, "Allah telah datang untuk menghapus air mata kita. Dia tengah melakukannya; Dia akan melakukannya sesegera mungkin kalau Dia bisa. Kalau belum bisa, Dia akan membiarkan air mata itu mengalir tanpa kepahitan. Pada akhirnya Dia memberi tahu kita bahwa meratap adalah hal yang membahagiakan, karena penghiburan akan datang."

Selagi menanti datangnya penghiburan, kita boleh merasa yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan kita dicobai di luar batas kemampuan kita. Setiap permasalahan sudah diatur tepat pada waktunya. Setiap situasi sulit sudah disaring melalui kasih-Nya yang sempurna. Kita tidak akan menderita lebih lama lagi. Kita juga tidak akan menderita lebih berat lagi. "Allah memberikan angin yang menyejukkan bagi domba yang sedang dicukur," demikian bunyi pepatah Basque kuno. Dengan kata lain, Allah tidak akan membiarkan mereka yang paling ringtih dibebani kesulitan yang tidak sanggup mereka tanggung.

Mungkin ada sungai yang dalam yang harus Anda seberangi. Atau barangkali ada api yang akan menguji karakter Anda yang sejati. Tetapi di tengah-tengah semua itu, Allah berjanji akan menjadi mitra, pendamping, sahabat Anda yang setia. Dia akan "melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu" (1 Petrus 5:10).

Di masa-masa susah, saya sering mengeluh, "Siapa yang butuh penderitaan? Saya tidak perlu!" Namun, Yesaya 28 dan pengalaman saya sendiri telah membuktikan bahwa pertanyaan seperti itu merupakan reaksi yang kurang tepat. Kita memang tidak memerlukan kesusahan, tetapi kita perlu diubah dan bertumbuh menjadi dewasa justru di saat penderitaan menghampiri kita. Namun di tangan Allah, kesusahan dapat menjadi alat yang efektif untuk memacu pertumbuhan yang kita perlukan.

Dalam kitab Yesaya 28:23-28, kita membaca perumpamaan Nabi Yesaya "yang puitis". Perumpamaan itu ditulis untuk membantu orang Israel agar dapat memahami bagaimana cara Allah bekerja dan apa yang ingin diwujudkan- Nya dalam hidup mereka ketika melalui masa-masa sukar.

Seorang petani digambarkan sedang membajak tanahnya dengan sangat terampil, menabur benih, kemudian mengirik hasil panennya. Jika tanah dapat bicara, mungkin ia akan mengeluh, "Siapa yang mau dibajak dengan menyakitkan seperti ini?" Namun, penderitaan bukannya tidak berguna. Yesaya menceritakan bahwa petani telah diajar Allah untuk bekerja menurut ukuran dan tepat waktu; memperlakukan gandum yang lembut dengan hati-hati dan gandum jenis lain dengan dipukul-pukul. Sehingga masa panen pun pasti segera tiba.

Saat menghadapi masa-masa sukar, kita mendapatkan jaminan bahwa Allah petani itu adalah Allah kita juga, yang "ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan" (ayat 29). Dia selalu memperlakukan kita secara bijaksana dan mempunyai tujuan, sehingga menghasilkan "buah kebenaran yang memberikan damai" (Ibrani 12:11).

Mengapa orang Kristen perlu bersikap memilih bertahan dan tegar terhadap penderitaan? Jawabannya ada pada 1 Petrus 5:10, mengatakan : " Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya ". Di sini rasul Petrus bersaksi bahwa penderitaan ada batas waktu bertahan, seketika saja manusia merasa sakit dan menderita, tetapi sesudahnya manusia akan menjadi kebal terhadap segala jenis kesusahan.

Jika demikian bahwa setiap penderitaan sifatnya sementara, atau seketika, mengapa kita tidak sabar untuk menderita? Bila seorang anak didik tidak bertahan untuk belajar dengan tekun, ulet, dan berani mengasah pikiran tidaklah mungkin kita menemukan seorang cendikiawan yang cerdik, berhikmah, dan sukses dalm karyanya. Jika seorang petani tidak sabar, dan tabah menahan terik matahari dan mengolah benih tanamannya tidak mungkin kita bisa menikmati hasil panen petani sebagai kebutuhan sehari-hari kita. Bila saja seorang pedagang tidak sanggup menderita menikmati keuntungan yang sedikit pastilah akan merugi karena ia membelanjakan yang seharusnya modal penjualannya.

Ingatlah nasehat ini, jika saudara ingin memanen dalam tempo hitungan bulan maka tanamlah padi dan palawija, dan jika saudara ingin memanen dalam hitungan tahun maka tanlamlah pohon kelapa, dan bila saudara ingin memanen selamanya maka tanamlah budi. Demikianlah kita mampu menumbuhkan sikap kesabaran, ketabahan, keuletan, gigih, dan patriotis. Karena penderitaan itu seketika maka bersyukurlah dalam segala hal, baik dalam suka dan duka, maupun masa panen atau masa paceklik, di musin kemarau atau di musin penghujan. Sebab setiap kesusahan dan penderitaan akan membawa masalahnya sendiri, sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya. Amin.! (k)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru