Memilih adalah anugerah pemberian Tuhan kepada manusia dan anugerah ini adalah pertanda bahwa setiap manusia mempunyai tanggung-jawab di dalam hidupnya. Kemampuan mengambil keputusan pilihan adalah salah satu ciri manusia sebagai ciptaan Tuhan. Manusia sebagai makhluk yang bertanggung-jawab, terpanggil juga mempunyai tanggung-jawab politik dalam arti diberkati menjadi berkat (Kej.12:2). Politik adalah segala hal yang bersangkut-paut dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Jadi politik berarti ‘pengelolaan hidup bermasyarakat dan bernegara’.
Kalau demikian, tidak ada satu manusiapun atau sesuatu kelompok masyarakat yang dapat menghindarkan diri dari masalah politik. Demikian juga setiap orang Kristen maupun organisasi gereja sebagai institusi yang hadir di tengah masyarakat. Setiap warga gereja diutus ke dalam dunia untuk berkarya bagi dunia ini.
Dasar pengutusan itu adalah karya Allah sendiri yang telah menciptakan, yang terus memelihara, yang telah menebus dan yang terus berkarya menyempurnakan ciptaan-Nya dengan selalu memberikan kebaikannya bagi dunia. Kekuasaan manusia ditetapkan oleh Allah maka setiap orang, termasuk gereja berkewajiban berperan dalam pelaksanaan kekuasaan itu agar sesuai kehendak Allah (Roma 13:1-2; 1 Petrus 2:13; 1 Tim.2:1-4 dan Titus 3:1).
MENGAPA ORANG KRISTEN IKUT DALAM PILKADA?
Yesus maupun Paulus menganjurkan agar kita menghormati pemerintahan yang ada selama itu dianggap sebagai kuasa yang mengatur tata-tertib di dalam masyarakat (Mat.22:21;Roma.13:1-3). Di dalam sejarah dunia ada beberapa sistem pemerintahan, sistem kerajaan, sistem diktator, teokrasi dll. Salah satu sistem pemerintahan sekarang ialah demokrasi.
Sistem demokrasi timbul di negara di mana orang Kristen merupakan mayoritas. Pengertian demokrasi sebenarnya berarti pemerintahan rakyat, kuasa rakyat (demos=rakyat; kratos=pemerintahan, kuasa). Kuasa itu diperoleh dengan pemungutan suara, sehingga sekali 5 tahun diadakan pemilu. Demikian juga sistem yang kita pakai di Indonesia, pemilu dilaksanakan sekali lima tahun. Kita menyetujui demokrasi karena memperhatikan dan menghargai suara dari tiap rakyat.
Hak bersuara dari setiap rakyat adalah sama. Yang selalu kita dukung ialah bentuk pemerintahan yang demokratis yang menjamin kebebasan beragama dan menjamin kebebasan memilih agama bagi tiap-tiap rakyat.
“Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah†(Roma 13:1). Orang Kristen boleh berpolitik dan boleh berkuasa. Orang Kristen berpolitik bukan untuk menghapuskan kuasa, tetapi untuk berusaha supaya kuasa dapat dipakai untuk tujuan yang benar dan adil. Orang Kristen perlu belajar bagaimana menghubungkan moralitas dengan kuasa supaya ia berhasil memperbaiki masyarakat.
BAGAIMANA SIKAP KITA TERHADAP PILKADA?
Apakah kita ikut pilkada? Atau pertanyaan, apakah Yesus ikut Pilkada? Apakah Yesus menjadi anggota partai politik? Pada zaman itu ada empat partai politik yang juga merupakan mazhab dalam agama Yahudi. Jadi, Yesus mempunyai sedikitnya empat pilihan.
Pertama, partai Eseni. Semua anggotanya laki-laki yang belum kawin. Mereka melarang anggotanya menjadi tentara, pegawai negeri, atau pedagang. Mereka bekerja keras sebagai petani atau pengrajin, namun tidak mempunyai harta pribadi sebab semua penghasilan, digabung sebagai milik bersama. Berbeda dengan orang Yahudi lain yang berdoa sambil berkiblat ke Bait Allah, orang Eseni berkiblat ke matahari. Mereka juga mengasingkan diri dari urusan duniawi, bahkan ada yang tinggal di biara berdaya tamping seribu orang di Qumran.
Kedua, partai Sikari atau Zelot. Kebanyakan terdiri atas para tukang, nelayan, dan pedagang kecil. Mereka melawan pemerintah penjajah secara sembunyi dengan kekerasan senjata. Membayar pajak dianggap sebagai mengkhianati Allah. Mereka percaya bahwa Kerajaan Allah akan datang bila Israel menjadi suci dan merdeka.
Ketiga, Partai Saduki. Terdiri atas tuan tanah, imam dan orang-orang berkedudukan tinggi. Mereka menyetujui bahwa imam besar diangkat oleh Roma dan Bait Allah diawasi oleh tentara Roma dengan imbalan bahwa orang Yahudi bebas beribadah.
Keempat, partai Farisi. Terdiri atas orang-orang terpelajar, guru, pegawai negeri, dan ahli taurat. Kaum Farisi merasa diri sebagai polisi agama, yaitu mengawasi semua orang untuk menjalankan Taurat, terutama dalam hal pulsa, hari sabat dan persepuluhan.
Yesus tidak menjadi anggota salah satu partai itu. Akan tetapi, Yesus berpolitik. Ia mempunyai sikap politik. Sikap politik-Nya antara lain tampak ketika orang bertanya apakah pantas membayar pajak kepada pemerintah penjajah. Yesus menjawab,†Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Allahâ€(Mat.22:21). Sepintas lalu, jawaban Yesus ini terkesan menyangkut urusan pajak, namun sebetulnya jawab itu mengandung sebuah isu yang bersifat mendasar, yaitu tentang hubungan agama dan negara. Dalam jawab itu Yesus menunjukkan bahwa orang mempunyai dwi-kewajiban atau dwitanggung jawab.
Pertama,â€Apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar?â€. Kedua “Apa yang wajib kamu berikan kepada Allahâ€. Dengan kata lain, orang mempunyai dwikewarganegaraan, sebagai warga Negara Kerajaan Roma dan sebagai warga Negara Kerajaan Allah. Selanjutnya, jawab Yesus itu berimplikasi bahwa negara dan agama merupakan dua entitas yang berbeda. Negara dan agama mempunyai bidang, urusan, tugas dan wewenangnya masing-masing. Tidak boleh Negara dan agama dicampur menjadi satu. Sikap politik Yesus yang lain tampak dalam pernyataan-Nya,â€Kamu adalah garam dunia…kamu adalah terang duniaâ€(Mat.5:13-14). Jangankan menjauh dari dunia, Yesus malah menyuruh pengikut-Nya menjadi orang yang menggarami (artinya:menjadi pencegah kebusukan) dan menerangi (artinya:menjadi hati nurani) dunia.
Sikap politik Yesus itu menjadi dasar bagi keterlibatan gereja dalam politik. Jelas, gereja bukanlah lembaga politik. Gereja tidak menyamakan diri dengan sebuah partai politik. Gereja tidak menganjurkan umatnya memilih partai tertentu. Akan tetapi, gereja melakukan pendidikan politik. Salah satu bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK) Orang Dewasa adalah pendidikan politik melalui khotbah, buku, pemahaman Alkitab dan yang lainnya. Itu bukan berarti bahwa kita menjadi anggota suatu partai, melainkan bahwa kita mempunyai kesadaran politik. Kita bukan bersikap masa bodoh, melainkan mengkritisi keadaan dengan cara setiap hari membaca fakta dan opini di surat kabar. Kristus adalah Tuhan atas diri kita sebagai individu dan juga atas diri kita sebagai bangsa dan Negara. Oleh sebab itu, kita turut berpartisipasi dalam menentukan warna keyakinan dan kebijakan mengatur Negara. Salah satu cara partisipasi itu adalah ikut pemilu dan pilkada.
Pemimpin macam apa yang diharapkan dan diidamkan oleh rakyat Indonesia ke depan? Berdasarkan atas arti dan makna kata dari jabatan pemimpin sebagai pelindung dan pembela, maka pemimpin yang diharapkan adalah:
Pertama, Pemimpin yang diharapkan oleh rakyat adalah pemimpin yang mengedepankan pengayoman, melindungi dan membela rakyat. Bukan seorang pemimpin yang mengedepankan kekuasaan.
Kedua, Pemimpin yang diidamkan adalah pemimpin yang akan mampu melakukan peningkatan dalam kehidupan ekonomi dan kesejahteraan pada umumnya.
Ketiga, Pemimpin yang berani mengatakan apa yang salah dan bersedia menjalankan hukum secara konsisten dan konsekuen.
Dengan ikut pemilu dan pilkada, kita ikut menentukan nasib hari depan masyarakat sebab suara kita akan ikut dihitung. Di situlah kita bisa memilih pemimpin yang bersih, gesit, cakap, kreatif, produktif, kata menyatu dengan perbuatan, dan adil terhadap semua golongan etnik atau agama. Dengan partisipasi itu kita sedang bersikap politis. Yesus pun jelas bersikap politis.Akan tetapi, apakah Yesus ikut pemilu dan pilkada? Tentu saja tidak sebab Kaisar Tiberius, Gubernur Pontius Pilatus, dan Gubernur Herodes Antipas muncul dengan cara siluman. Lalu seandainya Yesus ada bersama kita sekarang ini, apakah Dia ikut pemilu atau pilkada? So pasti! Siapa yang dipilih-Nya? Itu rahasia, karena ‘pemilu’ bersifat ‘bebas’ dan ‘rahasia’. Silahkan ikut di dalam’pemilu’. Tuhan memberkati! (y)