Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Renungan

Gembalakanlah Bangsa Kami di Tahun 2016

* Oleh : Sunggul Pasaribu,MPAK
- Minggu, 10 Januari 2016 15:06 WIB
596 view
Gembalakanlah Bangsa Kami di Tahun 2016
Pada suasana natal beberapa hari yang lalu penulis menerima SMS, demikian isinya ; "Mari kita hitung berkat Tuhan dengan rumus matematika. Tambahkan campur tangan Tuhan dalam setiap rencana dan langkahmu- Kurangkan perbuatan salah dan dosa-dosamu ke depan-Kalikan betapa besar anugerah yang saudara terima selama setahun ini-Bagikan berkat Tuhan yang saudara miliki kepada mereka yang pantas dan sepatutnya menerimanya".

Demikianlah cara kita menghitung kasih setia Tuhan dalam hidup kita selama setahun berjalan di tahun 2015. Karena acapkali kita lupa terhadap kasih dan campur tangan Tuhan. Janganlah menganggap apa yang kita peroleh selama ini adalah semata-mata sebagai buah tangan kita semata atau sebagai hasil deviden (pembagian laba atas modal) yang ditanam.

Seperti pengakuan pemazmur: "Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan" (Mazmur 77:20). Pengakuan pemazmur ini, ada banyak jalan dan cara Tuhan yang terkadang sulit ia mengerti, bahkan sering tidak masuk akal. Tetapi Allah menyediakan keselamatan baginya.

Lebih jauh penulis Mazmur kembali terkenang pada peristiwa penyertaan Tuhan atas nenek moyang mereka ketika menyeberangi laut Mati sepulang dari Mesir menuju tanah Kanaan dan peristiwa menyeberangi sungai Babylon sepulang dari pembuangan dari negeri Babel. Beginilah pengalaman pemazmur melewati hari-hari yang penuh tantangan (Mazmur 77:17-21). Pemazmur merasakan bagaimana mereka menangis di tepi sungai Babylon di kala itu. Ia tidak mau lagi menyeberangi sungai itu. Dasarnya terlalu licin, arusnya terlalu kuat, para tawanan Babylon tidak kuat menahan derita di pembuangan. Mereka tidak bisa tidur, memikirkan bagaimana mereka bisa melewatinya, tutur sang pemazmur (Mazmur 77:2-5). 

Namun pemazmur mengingat perbuatan Tuhan, keajaiban- keajaiban-Nya dari zaman purbakala. Melalui laut jalan- Nya, dan lorong-Nya, melalui muka air yang luas, Dia tidak meninggalkan jejak kaki.  Demikianlah keberadaan mereka bersama Allah. Meskipun mereka tidak dapat melihat-Nya, Namun mereka selalu merasakan kehadiran Tuhan. Tanpa terlihat, Dia menuntun umat-Nya seperti kawanan domba. Mereka tidak takut pada arus dan badai kehidupan, karena kekuatan dan keperkasaan Tuhan yang menuntun hidupnya. 

Tuhan sebagai Gembala, Dialah yang menuntun, Dia memimpin umat Israel dengan perantaraan Musa dan Harun. Dia menuntun melalui nasihat bijak dari sejak nenek moyang hingga ayah dan ibu Israel, seperti pengajaran seorang guru terhadap muridnya, bagai genggaman erat seorang sahabat yang saleh, ibarat seorang istri atau suami yang penuh kasih menyentuh dan membelai anak bayinya, bagai tangan-tangan yang penuh kasih sang dermawan kepada si miskin, bagai gulungan ombak menderu menghantar air ke tepian pantai, bagai angin sepoi-sepoi membisikkan suara kenyamanan dan kedamaian, demikianlah Tuhan memimpin, menuntun kehidupan kita. 

Mari.! Coba rasakan dan hitung seberapa besar Kasih Tuhan menuntun dan menggembalakan hidup saudara! Jika perusahaan dan Bank setiap di ujung tahun akan melakukan tutup buku agar mengetahui untung atau rugi, serta evaluasi kinerja. Hendaklah kita juga menghitung berkat yang dilimpahkan Tuhan kepada kita selama tahun ini. Kita pantas merenungkan betapa Allah itu kasih dan baik. Ia tidak melihat dan menghitung kesalahan dan dosa yang kita perbuat. Ia juga tidak berhenti memelihara dan menyelamatkan bangsaNya, hamba-hamba Tuhan, gerejaNya, dan kerajaanNya tidak dibiarkanNya musnah oleh seteru dunia meski kita masih merasakan tantangan dan cobaan yang silih berganti di negeri ini.

Kini, kita sudah melewati hari-hari yang suram, sulit, penuh tantangan dan pencobaan selama tahun dua ribu lima belas ini - namun karena kebaikan dan bimbingan Tuhan jualah yang telah menyertai perjalanan hidup kita sehingga kita beroleh selamat.

Ke depan yang perlu kita hitung, seberapa sering kita menaruh harapan dan memegang genggaman tangan Tuhan untuk setiap rencana dan derap langkah kita.
Merujuk kepada pergumulan iman kita pada hari-hari yang telah berlalu, kita seharusnya lebih mendekatkan diri kepada kuat kuasa Tuhan. Melihat berbagai peristiwa alam, gejolak sosial selama ini, seharusnya kita lebih menyayangi bumi beserta isinya, lebih menyayangi diri, lebih menyayangi masa depan daripada masa kini meski menggiurkan. 

Mencermati berbagai kejahatan sosial dan perilaku korupsi oleh para elit bangsa ini, serta sikap diskriminasi yang masih dialami sebagian masyarakat di belahan bumi ini, seharusnya kita memperbaiki karakter kita masing-masing. Oleh karena itu, jangan pernah sedetik pun mengabaikan campur tangan Tuhan dalam menapaki kehidupan di tahun dua ribu enam belas ini. Semoga..! (Penulis berdomisili di Pematangsiantar) (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru