Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026

Pucuk Pimpinan HKI Himbau Masyarakat Jangan Merusak Ciptaan Tuhan

- Minggu, 07 Februari 2016 14:16 WIB
290 view
Pematangsiantar (SIB)- Kawasan Danau Toba dijadikan sebagai geopark dunia yang berarti menjadi taman dunia, di mana setiap orang yang datang ke Danau Toba akan dapat menikmati keindahan alam/pemandangan, kenyamanan hidup dan hubungan antar manusia yang harmonis.

Hal itu disampaikan Ephorus dan Sekjen HKI (Huria Kristen Indonesia), Pdt M Pahala Hutabarat STh MM dan Pdt Dr Batara Sihombing didampingi Pdt Dr HR Panjaitan dan Pdt Jansen Simanjuntak MTh MM, Kadep Koinonia dan Marturia HKI Pusat yang diwawancarai SIB di Kantor Pusat HKI, Jalan Melanthon Siregar Pematangsiantar, Rabu (3/2). Beberapa danau di dunia sudah berhasil melaksanakannya walaupun wilayahnya lebih kecil dari Kawasan Danau Toba.

Tentu kita dapat membayangkan kalau semua pinggiran Danau Toba di Sumatera dan Pulau Samosir ditanami dengan pohon-pohon yang berbunga dan berbuah yang menghasilkan bunga yang beraneka warna, maka pemandangan akan sangat indah. Tentu kita masih ingat ketika bukit di atas Tomok ditanami dengan pohon pinus yang bertuliskan “rumah ciptaan, orang yang melintas di Parapat pasti akan berhenti untuk melihat dan menikmati indahnya pemandangan di bukit Tomok tersebut.

Karena itu Kawasan Danau Toba harus dihijaukan dan ditanami dengan pohon yang dapat berbunga. Alangkah indahnya tepian pantai Danau Toba tidak dikotori kerambah-kerambah yang merusak pemandangan sehingga air Danau Toba dapat menjadi konsumsi bagi masyarakat sekitar dan tempat bermain-main dan tempat wisata.

Tentu yang pertama perlu mendapat penyadaran adalah masyarakat sekitar kawasan Danau Toba yang dilakukan oleh pemerintah secara terpadu baik di tingkat daerah dan pusat agar jangan merusak lingkungan kawasan Danau Toba tapi harus terlibat untuk menanam, merawat dan memelihara pohon-pohonan penghijauan yang ditanam oleh pemerintah maupun berbagai lapisan masyarakat.

Sebenarnya, kata Pdt HR Panjaitan dulunya sudah ada ketentuan bahwa bangunan tetap dan sementara tidak terdapat di pinggiran kawasan Danau Toba agar ada lokasi penanaman pohon penghijauan demi melestarikan kawasan Danau Toba. Tapi nyatanya sekarang sudah banyak bangunan tetap dan sementara terlihat di pinggiran pantai Danau Toba dan hal itu tentu dapat merusak keindahan Danau Toba.

Seluruh elemen masyarakat harus bertanggungjawab untuk melestarikan kawasan Danau Toba sebab, Tuhan juga telah meminta kepada manusia untuk menjaga, merawat dan memelihara ciptaan Tuhan. Seperti perumpamaan yang diberikan Yesus tentang pohon ara yang tidak berbuah karena pemiliknya tidak merawat dan memelihara pohon ara untuk itu Yesus berkata kepada pemilik pohon ara karena sudah tiga tahun Aku datang mencari buah pada pohon ara ini, dan Aku tidak menemukannya. Karena itu tebanglah pohon ara yang tidak berbuah ini, sebab untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma.

Artinya segala tumbuh-tumbuhan yang diciptakan oleh Tuhan harus dipelihara, dirawat dan dikelola dengan baik agar menghasilkan buah yang banyak. Itu sebabnya Tuhan Yesus marah kepada pemilik pohon ara itu, karena tidak merawat dan memelihara pohon ara sehingga tidak berbuah, ujar Pdt M Pahala Hutabarat, Pdt Batara Sihombing, Pdt HR Panjaitan dan Pdt Jansen Simanjuntak.

Seperti diberitakan SIB, Rabu (3/2) Pemerintahan Jokowi terus berupaya melakukan upaya percepatan pengembangan Danau Toba sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia. Kali ini, dalam rapat Kabinet di Jakarta, Selasa (2/2). Presiden mengatakan, pengembangan Danau Toba menjadi keharusan sehingga wajib didukung jaringan konektivitas berkaitan dengan pelabuhan, bandar udara maupun jalan raya. (R-18/d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru