Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Renungan

Jangan Kompromi Dengan Godaan! (Ul 26:4-10; Rom 10:8-13; Luk 4:1-13)

* Oleh Pst. Benny Manurung, OFMCap
- Minggu, 14 Februari 2016 18:07 WIB
709 view
Abraham Maslow adalah seorang psikolog yang berasal dari Amerika dan menjadi seorang pelopor aliran psikologi humanistik. Ia terkenal dengan teorinya tentang hierarki kebutuhan manusia. Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan hidup yang akan selalu berusaha untuk dipenuhi sepanjang masa hidupnya. Lima tingkatan yang dapat membedakan setiap manusia dari sisi kesejahteraan hidupnya, teori yang telah resmi diakui dalam dunia psikologi.

Kebutuhan tersebut berjenjang dari yang paling mendesak hingga yang akan muncul dengan sendirinya saat kebutuhan sebelumnya telah dipenuhi. Setiap orang pasti akan melalui tingkatan-tingkatan itu, dan dengan serius berusaha untuk memenuhinya, namun hanya sedikit yang mampu mencapai tingkatan tertinggi dari piramida ini.

Lima tingkat kebutuhan dasar menurut teori Maslow adalah sebagai berikut:1. Kebutuhan Fisiologis, contohnya adalah : Sandang/pakaian, pangan/ makanan, papan/rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya, 2.Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan, seperti: bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan semacamnya, 3. Kebutuhan Sosial, misalnya adalah: kebutuhan untuk memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain, 4. Kebutuhan Penghargaan yakni eksternal (pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya) dan Internal (pribadi tingkat ini tidak memerlukan pujian atau penghargaan dari orang lain untuk merasakan kepuasan dalam hidupnya), dan 5. Kebutuhan aktualisasi diri.

Rupanya, setan paham benar akan situasi kebutuhan manusia. Dan, ketika Yesus sudah lemah dan sedang lapar karena berpuasa selama 40 hari, setan pun mencobainya. Apa yang dikemukakan oleh Abraham Maslow kemudian adalah hal yang sungguh nyata ditawarkan oleh iblis kepada Yesus. Pencobaan pertama adalah merubah batu menjadi roti. Yesus mengingatkan kita bahwa manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa, mempunyai kebutuhan jasmani dan rohani. Dan kita harus mengingat bahwa kebutuhan jiwa mempunyai tempat yang lebih tinggi dari kebutuhan jasmani, karena jiwa bersifat selamanya sedangkan badan bersifat sementara. Dengan demikian, Iblis senantiasa mengingatkan kita akan kebutuhan jasmani, dan Yesus mengingatkan bahwa kita harus memperhatikan keadaan jiwa kita dengan bergantung pada firman yang keluar dari mulut Allah. Dan jika firman itu telah menjadi daging, maka untuk bertahan dari percobaan kedagingan kita harus bergantung pada Sang Firman, yaitu Yesus sendiri, yang adalah Firman (lih. Yoh 1:1).

Pencobaan kedua ialah bahwa godaan kerajaan dunia dengan sujud menyembah iblis dan tidak untuk menyembah Allah. Disinilah iblis memberikan percobaan keinginan mata atau kekuasaan, uang, kerajaan duniawi, yang pada akhirnya menjadi satu paket dengan sujud menyembah si iblis. Dan pada percobaan ini, Yesus menegaskan "Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Mt 4:10) Dan inilah yang menjadi perintah pertama dari 10 perintah Allah, dimana Gereja Katolik mengambil dari Kel. 20:2-5, yang diformulasikan oleh St. Agustinus "Akulah Tuhan, Allahmu: Jangan ada allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit dan di bumi, dan jangan sujud menyembah kepadanya" Dengan demikian, di bagian terakhir ini, Yesus memberikan perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, hati dan segenap akal budi (lih. Mt 22:37).

Dan, pencobaan ketiga ialah godaan iblis dengan perkataan "Jatuhkanlah diriMu ke bawah". Pencobaan terakhir yang diberikan oleh iblis kepada Yesus adalah pencobaan yang paling berbahaya, yang telah menjatuhkan Adam dan Hawa. Inilah pencobaan yang digambarkan oleh Rasul Yohanes sebagai "keangkuhan hidup". Keangkuhan atau kesombongan adalah ibu dari segala dosa. Untuk menangkal pencobaan ini, maka Yesus menjawab dengan "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"" (Mt 4:7). Kesombongan menggoda kita  dengan mengatakan bahwa kita dapat melakukan semuanya sendiri, termasuk hidup tanpa Allah. Kesombongan membuat kita salah dalam menilai diri kita sendiri. Kesombongan membuat kita yang sebenarnya tidak dapat hidup tanpa Tuhan, berpikir bahwa kita dapat melakukan semuanya sendiri dan tidak perlu melibatkan Tuhan. Di dalam konteks inilah, kita diingatkan oleh Yesus untuk tidak mencobai Tuhan Allah-Mu, yaitu untuk tidak menganggap diri kita sama seperti Tuhan, yang dapat menentukan segala sesuatu sendiri.

Setiap saat hidup kita sebenarnya berhadapan dengan godaan-godaan. Pepatah bijak mengatakan, apa adanya dirimu saat ini adalah akibat dari sebuah pilihan. Bila kita tawar-menawar dengan godaan, memang godaan akan semakin kuat dan kecenderungan kita memilih kebaikan semakin lemah. Mengandalkan Tuhan adalah salah satu teladan yang ditunjukkan oleh Yesus. Musa dalam bacaan pertama mengingkatkan bangsa Israel dengan meneguhkan sebuah syahadat yang harus dipegang kuat oleh bangsa Israel, atau biasa disebut "Shema Israel": "Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya. Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat, maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami. Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat. Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya." (Ul 26:5-9)
Mari menyelami keagungan Tuhan. Arti beriman semakin efektif bila kita sungguh-sungguh percaya: mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati. (bdk. Rom 10:9-10). (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru