Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 04 Februari 2026
Ketua Rapat Pendeta HKBP Pdt Dr Darwin Lumbantobing

Demoralisasi Harus Dihempang Melalui Restorasi Kehidupan Keluarga

- Minggu, 14 Februari 2016 18:09 WIB
884 view
Demoralisasi Harus Dihempang Melalui Restorasi Kehidupan Keluarga
P.Siantar (SIB)- Ketua Rapat Pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pdt Dr Darwin Lumbantobing mengatakan, Keluarga merupakan satu-satunya harapan dan benteng terakhir mengawasi, membina, membentuk dan memelihara nilai-nilai etis, moral dan peradaban kemanusiaan, termasuk nilai-nilai kekristenan. Oleh karena itu keutuhan kehidupan keluarga sangat perlu dipelihara dan dipertahankan. Sebab peranannya sangat potensil menyangga kehidupan moral masyarakat dan nilai-nilai etis kekristenan tersebut”, kata Pdt Dr Darwin Lumbantobing  kepada wartawan, baru-baru ini.

Dikatakan,  akhir-akhir ini, dikuatirkan telah terjadi degradasi moral dalam keluarga. Kehidupan suami isteri dan anak telah dirongrong sehingga meruntuhkan keutuhan keluarga. Dalam keadaan seperti itu,  peranan keluarga tidak mungkin lagi diharapkan dapat menyangga kehidupan etis dan moral. Kondisi keluarga seperti itu membutuhkan pemulihan untuk mengembalikan fungsi keluarga yang sebenarnya. Oleh karena itu, kehidupan keluarga perlu direstorasi, dibangun kembali, disegarkan kembali dan dipulihkan kembali agar dapat melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya. Dengan alasan tersebut, maka Tahun Keluarga HKBP 2016, harus  disambut sebagai bentuk restorasi kehidupan keluarga jemaat HKBP.       

Pdt Darwin menyebut, sasaran atau objek pokok dalam setiap program restorasi yang dimaksud adalah hubungan sesama anggota keluarga, bapak, ibu, anak dan anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu, harus ada perubahan, pembaharuan hidup dari semua anggota keluarga. Tahun Keluarga ini menjadi kesempatan baik melaksanakan restorasi pemahaman keluarga, restorasi pemahaman pernikahan, peranan bapak dan ibu dan restorasi peranan anak di dalam keluarga.

Menurutnya, kehidupan keluarga masyarakat Batak Kristen yang perlu restorasi, penyegaran pemahaman ulang, pemulihan makna kehidupan antara lain: Teologi Pernikahan.

Melihat maraknya kasus perceraian akhir-akhir ini, baik di kalangan yang bukan Kristen maupun di kalangan Kristen, maka sudah perlu diadakan restorasi pemahaman tentang teologi pernikahan. Penyegaran ulang teologi pernikahan ini perlu diikuti oleh setiap pasangan suami isteri.

Dengan demikian disegarkan kembali makna perkawinan yang sedang dilakoninya.

Demikian juga Tuhor ni Boru, sesuai dengan cerita penciptaan manusia (Kej 1:26 – 2:4a dan 2:15-25), Hawa bukan hasil temuan, pencarian apalagi hasil pembelian Adam. Hawa sama dengan Adam, hasil ciptaan Allah sendiri. Allah sendiri yang memberikan Hawa kepada Adam sebagai pasangan hidupnya.

“Dalam ritus perkawinan yang dirancang dan diberlakukan manusia ada suatu transaksi ekonomis, dengan kata tuhor, boli, mahar, dan lain-lain. Pihak keluarga laki-laki membeli anak gadis dari pihak keluarga perempuan. Ungkapan yang dipakai untuk transaksi ini memakai bahasa jual-beli, layaknya harta benda dan tidak lepas dari nilai-nilai ekonomi pada zamannya”, katanya.

Pemahaman terhadap pelaksanaan transaksi jual beli ketika hendak mengikat hubungan suami isteri ternyata mempunyai ekses negatif. Seolah-olah suami adalah pemilik sah atas isterinya. Makna implikatifnya, suami berhak atas semua kehidupan isterinya. Isteri adalah sebagai harta benda, property, sang suami.
Pemahaman hubungan suami dan isteri yang seperti itu perlu direstorasi, disegarkan ulang, sesuai dengan pemahaman yang sebenarnya. Hubungan suami dan isteri adalah hubungan kesalingan, saling mencintai, saling melindungi/menjaga, saling memiliki, saling menghormati, saling mengisi, saling memahami, saling memperbaharui. Dengan demikian posisi dan status suami dan isteri adalah sejajar, sepadan dan setara antara yang satu dengan yang lain, katanya.

Sama halnya Pelaksanaan Adat Perkawinan, ritus perkawinan keluarga Batak selalu disertai dengan pesan-pesan etis, harapan dan cita-cita di masa depan terhadap kedua mempelai dominan mengenai hamoraon, hagabeon dan hasangapon. Suami isteri yang baru menikah itu sudah sejak awal diharapkan memiliki sejumlah keturunan, memiliki harta kekayaan dan menjadi orang yang terpandang. Hampir tidak ada umpasa yang berisikan pesan teologis dan etis, misalnya tentang peranan dan hubungan suami isteri, tentang kesetiaan di dalam perkawinan, takut akan Tuhan.

Oleh karena itu, hubungan dan peranan suami dan isteri seperti itu perlu direstorasi, agar kembali kepada pemahaman yang sebenarnya.

Posisi dan peranan suami dan isteri dalam keluarga masih dominan dipengaruhi adat budaya Batak yang sifatnya patriarchat dan sangat androsentrik – sifat yang selalu mengutamakan laki-laki.

Sikap diskriminatif itu sangat jelas kelihatan dalam masyarakat Batak.

Oleh karena itu, pemahaman demikian perlu direstorasi, direvisi, diperbaharui, disegarkan ulang dan diluruskan sesuai harkat, martabat dan kodrat kemanusiaan.
Salah satu pokok dari tujuan restorasi kehidupan keluarga  juga adalah pembentukan ama na marsahala – bapak yang berwibawa, ina Salah satu pokok dari tujuan restorasi kehidupan keluarga  juga adalah pembentukan ama na marsahala – bapak yang berwibawa, ina  soripada ­– isteri teladan dan anak sioloi poda – anak yang patuh pada nasihat orangtua. Melihat keadaan dan kondisi keluarga masa kini, sudah sangat jauh dari pola hidup dan karakter itu.

Demikian juga kebiasaan orang Batak, setelah lama tidak bertemu dengan seorang kenalannya dan ingin tahu keadaan hidupnya, maka akan bertanya: Nunga piga tahe gellengmu? Lalu dijawab: Onom do lae, opat ma i baoa, dua ma i boru. Lalu secara spontan direspon: Bah, martua na i ho lae!Kemudian dijawab lagi: Tole ma nian lae, asal ma mangolu!

“Ini betul-betul   mengerikan sekali, bila tujuan perkawinan untuk memperoleh anak adalah hanya asal ma mangolu. Memiliki anak harus menjadi anak yang berguna, bagi kehidupannya sendiri dan bagi kehidupan orang lain. Jadi pemahaman tentang memiliki perlu direstorasi. Bukan berapa anakmu, tetapi sudah bagaimana anakmu?”, kata Lumbantobing.

Melihat keadaan hidup keluarga masa kini, restorasi kehidupan keluarga sebut Pdt Dr Darwin Lumbantobing, mutlak diperlukan,  dilakukan dengan program bina keluarga, baik secara kategorial. Misalnya kepada anak-anak dan orang tua, atau secara posisional, terhadap anak, suami dan isteri. Kondisi keluarga masa kini mengharuskan restorasi kehidupan keluarga itu tidak dapat ditawar-tawar lagi, sudah menjadi keharusan. Bila tidak, kehidupan keluarga dan kehidupan warga jemaat akan semakin parah lagi di masa depan, ujarnya. (R.4a/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru