Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Kejari TBA Bantu Siswa Putus Sekolah

Redaksi - Selasa, 25 Februari 2020 15:25 WIB
280 view
Kejari TBA Bantu Siswa Putus Sekolah
SIB/Usni Pili Panjaitan
PUTUS SEKOLAH : Kajari TBA AAG Satya M SH didampingi Kasi Intelijen AB Silitonga SH, berkunjung ke rumah Supriadi siswa putus sekolah dan menetapkan Supriadi sebagai adik asuh Kejari TBA, Selasa (25/2/2020).
Tanjungbalai (SIB)
Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Asahan (Kejari TBA) memberikan bantuan kepada seorang siswa SMPN 6 yang putus sekolah, Selasa (25/2/2020).

Kejari TBA AAG Satya M SH didampingi Kasi Intelijen AB Silitonga SH mendatangi kediaman Supriadi (16) yang putus sekolah. Setiba di rumah kontrakan berdinding papan di pinggir rel kereta api, di Kelurahan Sei Raja Kecamatan Sei Tualang Raso, Kota Tanjungbalai, Satya dan rombongan disambut ibu kandung Supriadi, Samini (51).

Samini menuturkan, anak keduanya dari dua bersaudara itu, terpaksa berhenti bersekolah di SMPN 6 Tanjungbalai karena tidak mampu membiayai sekolah anaknya. "Anak saya putus sekolah karena tidak ada biaya untuk menyekolahkannya," tutur Samini.

Mendengar pengakuan tulus Samini, Kajari TBA AAG Satya M SH lantas menyatakan kedatangannya ke rumah Samini ingin menjadikan Supriadi sebagai adik asuh, dan akan menanggung biaya sekolah Supraidi hingga tamat SMA.

"Kami punya program Jaksa Masuk Sekolah (JMS), yang merupakan salah satu upaya kami untuk membantu siswa putus sekolah agar tetap bersekolah. Supriadi harus terus belajar dan akan jadi adik asuh Kejari TBA sampai tamat SMA," ujar Kajari.

"Segala kebutuhan sekolahnya akan kami tanggungjawabi, yang penting rajin belajar dan jadilah anak yang pintar dan berbakti kepada orang tua," kata Satya.

Saat ditanya keinginannya untuk terus bersekolah, siswa kelas VIII B SMPN 6 Tanjungbalai itu tanpa ragu mengatakan dirinya sangat ingin tetap sekolah. "Saya ingin sekolah seperti teman saya yang lain," ujar Supriadi sembari menangis.

Sejak Supriadi berhenti sekolah tepatnya 31 Oktober 2019 lalu, dirinya bekerja di usaha pembuatan lemari yang tak jauh dari rumahnya. "Sejak saya bekerja di sini saya setiap minggu diberi upah Rp200 ribu. Upah ini untuk membantu orang tua saya," kata Supriadi kepada sejumlah wartawan. (*)
Editor
:
SHARE:
komentar
beritaTerbaru