Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 25 Februari 2026

China Batasi Ekspor ke 40 Perusahaan Jepang, Ketegangan Beijing–Tokyo Kian Memanas

Redaksi - Rabu, 25 Februari 2026 10:27 WIB
100 view
China Batasi Ekspor ke 40 Perusahaan Jepang, Ketegangan Beijing–Tokyo Kian Memanas
Thomas Peter/REUTERS
ILUSTRASI. Bendera Jepang dan China.

Jakarta (harianSIB.com)

Hari Selasa (24/2/2026), China resmi memberlakukan pembatasan ekspor terhadap 40 entitas Jepang, memperparah perselisihan yang telah berlangsung berbulan-bulan antara kedua kekuatan ekonomi terbesar di Asia.

Kebijakan yang diumumkan mencakup barang "kegunaan ganda" dengan fungsi sipil maupun militer. Sebanyak 20 entitas menjadi target utama, termasuk lima anak perusahaan Mitsubishi Heavy Industries dan badan antariksa JAXA. Selain itu, 20 organisasi lainnya seperti Subaru masuk daftar pantauan dengan peninjauan ketat.

Baca Juga:

Pihak China dalam pernyataan resmi yang dikutip AFP dan melansir CNBC Indonesia menyatakan, langkah ini sebagai pertahanan diri terhadap kebijakan Jepang, menegaskan sesuai hukum internasional dan bertujuan mengekang "remiliterisasi" serta ambisi nuklir Jepang.

Pemerintah China juga menjamin perusahaan tidak terlibat aktivitas militer tidak perlu khawatir.

Tensi bermula dari pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu tentang kemungkinan intervensi militer jika Taiwan diserang wilayah yang dianggap China sebagai bagian darinya.

Pemerintah Jepang memprotes keras dan menuntut penarikan kebijakan. Sebelumnya, dampak sudah terlihat dengan penurunan 61% wisatawan China ke Jepang pada Januari dan peningkatan ketegangan militer. Setelah pengumuman, saham perusahaan industri berat Jepang merosot Kawasaki Heavy Industries turun hampir 5%, Mitsubishi Heavy Industries sekitar 4%, dan IHI hingga hampir 7%.

Baca Juga:

Jepang saat ini menyetujui anggaran pertahanan rekor 9 triliun yen, dengan PM Takaichi menyatakan perluasan kapabilitas militer akibat situasi keamanan yang kompleks. Ahli seperti Noriyuki Kawamura dari Universitas Studi Asing Nagoya menganggap kebijakan ini akan menjadi beban berat bagi korporasi Jepang yang bergantung pada rantai pasok China.

Dunia kini menunggu bagaimana kedua negara menyelesaikan perselisihan tanpa memperparah ketegangan regional.(*)

Baca Juga:
Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Kejati Sumut Tahan Tiga Eks Kepala KSOP Belawan, Diduga Rugikan Negara Miliaran
PGN Masuk 500 Perusahaan Asia-Pasifik Terbaik Versi TIME
Tesla Tersalip Volkswagen dan BYD, Strategi Banting Harga Jadi Senjata Bertahan di 2026
Tekan Angka Pengangguran, Pemprov Sumut Buka Kesempatan Magang ke Jepang
Ledakan Toko Kembang Api di Hubei Tewaskan 12 Orang saat Libur Imlek
Imlek Digital: Generasi Muda China Transformasikan Tradisi ke Dunia Maya
komentar
beritaTerbaru