Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 24 Februari 2026
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang :

Kepala Daerah Harus Mendorong Masyarakat Mengemas Produk Pertanian Menjadi Home Industri

- Kamis, 28 Maret 2019 16:44 WIB
2.060 view
Kepala Daerah Harus Mendorong Masyarakat Mengemas Produk Pertanian Menjadi Home Industri
Marwan Dasopang
Jakarta (SIB)-Produk pertanian yang banyak tumbuh di kawasan Tapanuli, khususnya daerah Kabupaten Labuhanbatu sampai Padangsidimpuan Tapanuli Selatan, Provinsi Sumut bisa dikemas menjadi home industri. Kuncinya, ada niat, ketekunan dan kreatifas dari masyarakat untuk merubah sumber penghasilan dari pola lama menjadi yang baru.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang menyatakan hal itu kepada wartawan, Selasa (26/3) di ruang kerjanya, gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Caleg Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari Dapil 2 Sumut ini menyatakan, dirinya sudah sering berkunjung ke daerah Sumut, dan melihat secara langsung potensi produk pertanian dan perkebunan yang bisa diandalkan menambah penghasilan masyarakat petani di pedesaan.

Diberinya contoh, pohon holat bisa dijadikan industri karena kulit arinya bisa dipoles sebagai bumbu masak untuk masakan mentah.

Paling menarik lagi, buah balakka, sangat cocok diminum atau dimakan 2 biji yang sudah matang dicampur 2 gelas air menjadi manis seperti minum teh.

Ada pula buah haramonting, tumbuhan sebesar ibu jari, rasanya manis dan enak.

Diceritakannya, semasa kanak kanak, kalau pergi mengembala kerbau tidak perlu bawa nasi dan ikan banyak. Cukup cari buah haramonting, dimakan enak apalagi dijus.

Tetapi, karena tidak dijadikan sebagai home industri maka tidak bisa diandalkan sebagai penopang hidup keluarga.
Cerita lainnya, pernah pula adiknya minta bantuan kepadanya supaya dicarikan pekerjaan anaknya, tidak diladeninya, tetapi disuruhnya supaya membuat dodol.

Awalnya marah-marah, namun setahun kemudian senyum senyum karena dodol yang dibuatnya bisa menjadi sumber penghidupan antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta per bulan.

" Saya sudah keliling seluruh Indonesia, memang rata-rata punya dodol, tetapi tidak ada dodol seenak dodol di kampung kita, termasuk dodol Garut yang cukup terkenal," ujar Marwan Dasopang sambil menambahkan, dodol tersebut dibuat di kampung asalnya, lalu dikirim ke Medan dan dijual lewat media sosial (medsos).

Dikatakan, terong Belanda meskipun kurang enak dimakan karena asam, kalau dijadikan jus harganya bisa mahal, antara Rp 20.000 s/d Rp 40.000 , tergantung tempatnya.

Politisi PKB ini mengharapkan agar kepala daerah mendorong masyarakat meningkatkan kreatifitas mencari hal hal baru sebagai sumber penghidupan.

"Jangan biarkan masyarakat menghabiskan uangnya hanya untuk membeli ikan lele dan telor, melainkan harus mencari hal-hal baru," ujar Marwan Dasopang sembari menambahkan, walaupun pemerintah sudah mengucurkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur, namun sangat terbatas.

Masyarakat yang penghidupannya dari menderes atau mengguris, tidak boleh dibiarkan hanya di situ saja. Kepala Daerah harus mencari hal hal baru yang ada di lingkungan itu sendiri.

Diakuinya, pemerintah yang menggulirkan anggaran melalui Program Keluarga Harapa (PKH) tidak mungkin terus menerus setiap tahun. Makanya, harus disiapkan masyarakat yang punya penghasilan dan bisa menyelesaikan persoalannya sendiri.

Dia melihtat apa yang sudah digagas oleh Pemerintah Pusat belum ditangkap masyarakat sesungguhnya, termasuk terkait daerah tujuan wisata . Di daerah NTT ada hiasan dari kain yang dibuat semacam vigura dalam kaca harganya bisa Rp 1 juta. Hal semacam ini bisa juga dibuat dan dikembangkan di kawasan Tapanuli.

Jika masyarakat setempat sudah mampu menghidupi dirinya sendiri, atau lepas dari program PKH maka anggarannya bisa digeser untuk membangun sekolah dan kebutuhan masyarakat lainnya. (J01/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru