Jakarta (SIB)- Saksi Prabowo-Hatta memilih walk out dari proses rekapitulasi suara hari terakhir atas perintah Prabowo Subianto. Komisioner Bawaslu Nasrullah mengatakan hal itu tidak berdampak pada legitimasi hasil penetapan suara.
"Sesungguhnya tidak akan mengganggu sisi legalitas. Bahwa ada sedikit sisinya yang tidak komplit. Sekali lagi tidak akan berpengaruh pada aspek legalitas dan keabsahan," ujar Nasrullah kepada wartawan di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Rabu (22/7).
Namun menurut Nasrullah, Prabowo Subianto tidak dapat lagi menolak pelaksanaan Pilpres 2014 karena sudah memasuki tahap akhir. Sebaliknya, ia meminta agar setiap pasangan calon dapat menyikapi hasil ini dengan dewasa.
"Tidak ada undang-undang yang memberikan mandat mundur setelah kompetisi. Mundur boleh pada masa pencalonan. Sekarang sudah jauh saya pikir tidak boleh karena ini sudah clear," lanjutnya.
"Tentu kita semua ada sikap kedewasaan setelah proses kompetisi dilalui. Kita siap menang dan kalah. Begitu ada hasil semestinya ada sikap menerima hasil itu," ucap Nasrullah.
Meski demikian, dia mengaku capres nomor urut 1 itu tidak dapat dikenakan sanksi apa pun. Pasalnya, secara administratif mundur di akhir penetapan tidak lah lagi dimungkinkan.
"Ruang sisi administrasi tidak memungkinkan lagi karena sudah selesai. Mundur itu jauh hari saat pencalonan karena ini sudah usai pertarungan," jelasnya.
Prinsipnya, lanjut Nasrullah, bila benar Prabowo benar mengambil langkah itu maka hal tersebut tidak dibenarkan.
"Mohon maaf justru kalau muncul seperti itu, orang kan menilai Anda tidak mengerti administratif. Tidak dibenarkan ketika seseorang sudah selesai berkompetisi. Istilahnya, ijabnya sudah berjalan sudah berproses," pungkas Nasrullah.
Ini Kata Megawati
Apa tanggapan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri selaku partai pengusung pasangan Jokowi-JK?
"Masalah yang telah dikatakan Pak Prabowo menurut saya itu kami serahkan sepenuhnya kepada KPU karena yang menjadi penyelenggara adalah KPU," ujar Megawati saat menggelar konferensi pers, di kediamannya Jl Kebagusan, Jakarta.
Menurut Mega, dalam hal ini pihaknya hanyalah sebagai peserta pemilu. Sehingga semua hal yang terkait penyelenggaraan pemilu diserahkan kepada KPU.
"Sehingga dengan demikian secara etika hukum juga semuanya diserahkan kepada KPU," imbuhnya.
Jokowi: Saya Yakin Pak Prabowo Negarawan
Apa kata Jokowi soal sikap Prabowo itu?
"Saya saya yakin Pak Prabowo negarawan.
Yang akan lebih mementingkan negara dan bangsa dibandinkan yang lain," terang Jokowi di Waduk Pluit, Jakarta Utara.
Jokowi tak mau berbicara menanggapi lagi. Capres nomor 2 pasangan Jusuf Kalla ini berharap, damai dan aman di Indonesia. Semua demi rakyat.
"Itu saja, cukup," tambahnya.
JK Soal Prabowo: Kami Menyayangkan
Cawapres nomor urut 2 Jusuf Kalla menyayangkan sikap Prabowo, namun tetap menghargainya.
"Pertama, kami menyayangkan, namun kita menghargai sikap beliau. Apa pun dalam hal ini adalah sikap beliau. Menarik dan tidak menarik pada dasarnya pemilu sudah berjalan. Patokan berjalan, saat pencoblosan dimulai dan itu tidak mempengaruhi apa-apa," kata JK saat ditemui di rumahnya, Jl Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
JK menambahkan, pihaknya tetap akan bersikap dan berjalan sesuai Undang-undang.
"Bagi kami, tetap lurus, sesuai undang-undang. Apa yang kami lihat di KPU dan Bawaslu, yang menyatakan bahwa Bawaslu tidak pernah merekomendasikan 5.000-an TPS pemungutan ulang. Saya yakin di TPS juga ada tanda tangan kedua saksi," imbuhnya.
Apakah sikap Prabowo ini sebagai pendidikan politik yang tidak bagus?
"Itu biar masyarakat yang menilai. Tapi kan sikapnya setelah pencoblosan tidak ada efek apa-apa. Apa pun yang terjadi setelah pencoblosan itu legitimate, tapi kami juga menyayangkan Pak Prabowo selalu mengatakan siap kalah dan siap menang, apabila ada masalah bawa ke MK. Kami berbesar hati dengan pernyataan beliau itu," jawab JK.
Ketum GP Ansor: Prabowo Kekanak-kanakan
Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid menyebutkan sikap capres Prabowo Subianto yang menolak pelaksanaan Pilpres menjelang usai rekapitulasi KPU nasional, merupakan sikap kekanak-kanakan. Sikap itu menegaskan Prabowo tak siap kalah di Pilpres.
"Itu merupakan sikap kekanak-kanakan, tidak siap kalah dan menyepelekan rakyat. Sikap itu jauh dari negarawan sesungguhnya yang menghormati kehendak rakyat sesuai dengan sistem. Dia bukan politisi yang baik juga bukan prajurit sejati. Hanya ingin menang dengan menghalalkan segala cara," kata Nusron dalam siaran persnya.
Politisi Golkar yang terancam dipecat karena mendukung capres Jokowi-JK ini mengatakan sikap Prabowo ini sungguh upaya maksimalnya untuk mendelegitimasi negara. Menganggap pilpres tidak absah dan tidak legitimate dengan dalih menyalahkan penyelenggara pemilu yakni KPU dan Bawaslu.
Nusron menyebut instruksi menarik diri seharusnya bukan sekarang. Tapi dimulai ketika begitu banyak kampanye hitam dilakukan, dengan berbagai tuduhan yang tidak berdasar. Saat itu seharusnya Prabowo melakukan langkah seperti itu karena menganggap Pilpres yang tidak berkeadaban.
Terima Kasih kepada Prabowo
Sikap Capres Prabowo Subianto menolak pelaksanaan Pilpres justru diucapkan selamat oleh Guru Besar Hukum Tata Negara UGM Denny Indrayana. Dia menilai apa yang dilakukan Prabowo telah menghadirkan presiden terpilih tanpa menunggu keputusan MK.
"Dalam sisi yang lain, saya berpendapat kita baiknya mengucapkan terima kasih kepada Prabowo.
Dengan caranya, Prabowo telah menghadirkan presiden terpilih tanpa kita harus menunggu putusan MK satu bulan lagi," jelas Denny.
Menurut dia, pengunduran diri Prabowo itu sebenarnya tidak ada pengaruhnya lagi di ujung proses penetapan akhir suara nasional di KPU.
"Justru, dengan demikian KPU bisa lebih leluasa menetapkan hasil pilpres, dan menetapkan Jokowi yang memperoleh suara terbanyak sebagai pemenang Pilpres," terang Denny yang juga menjabat sebagai Wamenkum ini.
Namun Denny mewanti-wanti, yang tentu tetap perlu diantisipasi adalah keamanan. "Dan saya yakin aparat kepolisian dan TNI akan bisa menjaga keamanan dan ketertiban kita. Jadi, dengan caranya, mari kita ucapkan terimakasih kepada Prabowo, dan selamat datang Presiden Jokowi. Selamat kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah melaksanakan proses transisi kepresidenan ini dengan baik," tutupnya
.(dtc/c)