Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026
Hubungan Bilateral

“Bertukar” Minyak Sawit Mentah dengan Sukhoi

- Kamis, 07 Agustus 2014 16:14 WIB
285 view
“Bertukar” Minyak Sawit Mentah dengan Sukhoi
Jakarta (SIB)- Pada 18-19 Juli lalu, Indonesia mengikuti Pertemuan Tingkat Menteri Perdagangan Kelompok 20 Ekonomi Terbesar (G-20) di Sydney, Australia. Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Perdagangan menuai sejumlah hasil yang cukup menggembirakan.

Dua di antaranya adalah pertemuan bilateral Indonesia dengan Rusia dan Turki. Dari pertemuan dengan kedua negara itu, Indonesia sepakat melanjutkan kerja sama bilateral.

Indonesia melalui produk unggulan minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan turunannya bisa “bertukar” Sukhoi dengan Rusia serta membuka pintu gerbang pengembangan pasar ke Eropa dan Asia Barat melalui Turki.

Di sela-sela pertemuan G-20 itu, Menteri Perdagangan M Lutfi bertemu dengan Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia Av Ulykaev.

Pada pertemuan itu, mereka membahas peluang pasar Indonesia-Rusia.

Indonesia menawarkan CPO kepada Rusia, sedangkan Rusia menawarkan gandum dan tepung terigu kepada Indonesia.

Selain itu, kedua menteri juga membahas rencana maskapai Indonesia membeli atau menyewa Sukhoi Superjet 100 dari Rusia.

Dalam rilis dari Kementerian Perdangangan, Ulykaev menyatakan, rencana pembelian atau menyewa Sukhoi Superjet 100 Rusia perlu dijajaki.

Hal itu diperlukan guna mengantisipasi kebutuhan Indonesia yang tengah membuka rute-rute penerbangan baru.

Ulykaev juga menyebutkan kebutuhan gandum dan tepung terigu Indonesia kemungkinan besar akan meningkat.

Hal itu karena Indonesia memiliki perusahaan multinasional di bidang produk hilir, khususnya mi siap saji. Perusahaan itu berkepentingan meningkatkan investasi dan mendapatkan diversifikasi pasokan bahan baku.

Adapun Indonesia, menurut Lutfi, menjual produk turunan CPO dengan harga murah. Biaya produksinya tujuh kali lebih murah dibandingkan dengan produk pesaing di Eropa. “Kami akan merancang kerjasama yang lebih konkret dan terperinci dengan Rusia pada Agustus ini. Kami akan bertemu di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri Ekonomi ASEAN (AEM) di Myanmar. Kami berencana membawa kalangan usaha masing-masing agar pembahasannya lebih konkret dan lengkap,” kata Lutif.

Dalam pertemuan G-20 itu, Lutfi juga bertemu dengan Menteri Ekonomi Turki Nilhat Zeybekci.

Kedua menteri membahas tentang upaya meningkatkan nilai perdagangan dan kemitraan, baik pemerintah maupun hubungan bisnis.

Peningkatan perdagangan konprehensif dan kerja sama ekonomi itu akan dilakukan dalam tiga pilar, yaitu pengaturan perdagangan bebas, peningkatan kapasitas, serta fasilitas perdagangan dan investasi. Nilhat Zeybekci menyatakan, Turki membutuhkan Indonesia dan ASEAN sebagai rekan kerja yang saling melengkapi. (Kps/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru