Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 07 Maret 2026

Jaga Laut Natuna, Kapal Bakamla Dilengkapi Senjata Berkaliber 30 mm

Redaksi - Kamis, 04 Februari 2021 11:20 WIB
543 view
Jaga Laut Natuna, Kapal Bakamla Dilengkapi Senjata Berkaliber 30 mm
Foto Dok
Laksdya TNI Ann Kurnia SSos MM
Jakarta (SIB)
Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto telah memperkuat kapal Bakamla RI dengan senjata berat dan canggih. Hal ini bertujuan untuk menjaga keamanan Laut Natuna agar kapal China tidak seenaknya melakukan manuver di perairan Natuna, Indonesia.

Sejak 1 Februari 2021, armada penjaga pantai (coast guard) China resmi diperbolehkan menggunakan senjata untuk mengusir atau menangkap kapal asing di perairan yang disengketakan. UU Penjaga Pantai China itu menimbulkan protes dari negara tetangga yang selama ini bersengketa teritorial dengan Negeri Tirai Bambu, seperti Jepang, Vietnam, dan Filipina.

Indonesia juga berkali-kali berhadapan dengan kapal penjaga pantai China di zona ekonomi lepas pantai kepulauan Natuna. Beberapa kali juga terjadi insiden antara kapal pengawasan perikanan Indonesia dan kapal penjaga pantai China.

Sekadar diketahui, coast guard China sudah dilengkapi dengan senjata berat seperti meriam kaliber 75 mm. Tentu sangat berbahaya jika Bakamla berhadapan dengan kapal tersebut. Akhirnya Badan Keamanan Laut (Bakamla), yang mengoperasikan kapal penjaga pantai (coast guard) Indonesia, telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri. "Ini secara formal sudah disampaikan, kami juga sudah berkoordinasi dengan Ibu Menlu (Retno Marsudi) untuk menanyakan perihal ini," ujar Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksdya Aan Kurnia dalam keterangan tertulis, Rabu (3/2).

Dalam mengantisipasi hal itu, lanjutnya, Bakamla sudah mendapat dukungan dengan dikeluarkannya izin pembelian senjata sejak 2020. Pada Agustus 2020, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto bahkan memperbolehkan Bakamla menggunakan senjata berkaliber besar untuk mengamankan laut.

Salah satu pengamanan yang menjadi perhatian besar adalah wilayah Natuna. Sebab, lokasi ini berdekatan dengan Laut China Selatan, yang belakangan mengalami eskalasi tinggi antara Negeri Tirai Bambu dan Amerika Serikat. Aan Kurnia mengaku bersyukur karena Bakamla mendapat dukungan penggunaan senjata. "Bakamla baru mendapat izin beli senjata baru bulan Agustus tahun lalu, tapi ini masih bersyukurlah karena kita sudah ada senjata," kata dia.

Ia menyebut kondisi Laut China Selatan saat ini sangat dinamis seiring kian asertifnya posisi China yang direspons negara besar, misalnya AS. Ketegangan di kawasan tersebut pun diprediksi akan terus mengalami eskalasi. "Di mana ada risiko peningkatan eskalasi dan spill over konflik," ucapnya.

Sebelumnya, Aan Kurnia mengungkapkan senjata yang dibeli Kemenhan untuk Bakamla masih kalah besar dari coast guard China yang sudah memakai meriam kaliber 75 mm.

"Jadi selama ini coast guard China, coast guard Vietnam meriamnya sudah gede-gede, sudah 75, 57. Saya mau beli senjata saja nggak boleh. Kemarin saya menghadap Pak Menhan langsung, aturan-aturan kita lihat ternyata boleh, bisa, dan alhamdulillah bisa," ujarnya. (detikcom/d)
Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru