Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 07 Maret 2026

Siborongborong Jadi Pusat Lokasi Pemeliharaan, Peternak Hewan Khas Belum Beroleh Tuntunan

Redaksi - Rabu, 10 Maret 2021 12:16 WIB
430 view
Siborongborong Jadi Pusat Lokasi Pemeliharaan, Peternak Hewan Khas Belum Beroleh Tuntunan
Foto: Dok/#SaveBabiSU
PENGURUS #SAVEBABI : Ketua Pengurus #SaveBabiSU Toman Purba (tengah) didampingi Sekretaris Herry Ginting dan Wakil Nico Nadeak ser
Medan (SIB)
Pengurus #SaveBabi Sumatera Utara (SU) meminta pemerintah serius dan fokus membina peternak hewan khas itu. Sejak wabah yang mematikan melanda SU, belum ada sama sekali bantuan atau tuntunan agar peternak kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Ketua Pengurus #SaveBabi SU Toman Purba didampingi Sekretaris Herry Ginting dan Wakil Nico Nadeak serta Bendahara Ance Simamora di Medan, Selasa (9/3) mengatakan hal itu. Menurutnya, peternak babi di SU telah mematuhi imbauan dan arahan dari pemerintah tapi belum berujung. Mau bagaimana langkah selanjutnya dan tiba-tiba dipublikasikan menjadikan Siborongborong, Tapanuli Utara, SU sebagai lokasi percobaan peternakan. “Sampai sekarang belum ada action lanjutan. Sudah setahun lho,” ujar Toman Purba.

Menurutnya, pasca unjuk rasa di depan kantor DPRD SU pada Senin, 10 Februari 2020, peternak babi sama sekali tidak diarahkan. Dibiarkan menunggu. “Sepertinya kegiatan itu antiklimaks, yang padahal sebagai awal. Kini kami menagih janji pemerintah,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, pasca-wabah African Swine Fever (ASF) atau Hog Cholera menyerang membuat hewan khas itu mati secara masif. Pengurus #SaveBabi SU mencatat dua ratus ribuan babi mati. “Data tersebut beda dari apa yang dicatat Badan Ketahanan Pangan dan Peternakan SU,” jelas Erry Ginting.

Ia mengutip hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) Pengurus #SaveBabi dengan Komisi B DPRD SU pada 19 Oktober 2020 yang dihadiri Victor Silaen dan Tunai Lumbantobing.

Ketika itu Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan SU melaporkan di SU ada 1.140.057 ekor babi dan mati 114.057 ekor. “Mengindahkan anjuran pemerintah, peternak untuk sementara tidak beternak. Sesuai perkembangan, Siborong-borong dijadikan lokasi peternakan pasca AFS, tapi sampai sekarang, peternak belum diarahkan atau dituntun bagaimana selanjutnya,” tambah Nico Nadeak.

Pengurus #SaveBabi mengatakan, pihaknya belum dapat sharing pada para peternak di SU karena belum ada guidens yang baku dari pemerintah pasca ASF. Peternak babi di SU mencapai puluhan ribu tapi baru sekira 4.500-an peternak Medan - Deliserdang yang bergabung. Untuk komunikasi peternak diimbau urun rebug dengan #SaveBabi SU di sekretariat Jl Bunga Rampai Raya No 99 Kel Simalingkar B Medan Tuntungan - Medan.

Pengurus mengharap, Pemprov SU dan Pemkab / Pemko di SU memberi perhatian serius. Apalagi Mendagri telah menyurati Gubernur SU pada 29 Nov 2019 dengan isi mengalokasikan anggaran dalam penanganan AFS yang menyerang peternak meski tidak ada dalam APBD. “Tetap sampai kini memamg belum dianggarkan. Padahal, untuk wabah Covid-19, yang juga dalam situasi darurat, dilakukan refokusing sampai Rp1,5 triliun,” jelasnya.

Pengurus #SaveBabi memastikan, pihaknya masih terus memperjuangkan nasibnya sebagaimana yang dijanjikan pemerintah. Perjuangan itu, tegas Toman Purba, tanpa muatan politik karena murni memperjuangkan nasib peternak. (R10/f)

Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
BBM Mulai Langka di Saribudolok

BBM Mulai Langka di Saribudolok

Simalungun(harianSIB.com)Bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dan solar mulai langka di daerah Saribudolok, Kecamatan Silimakuta, Kabupa