Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 22 April 2026

Mengenal Siklon Tropis Seroja, Namanya Cantik tapi Berbahaya

Redaksi - Rabu, 07 April 2021 11:44 WIB
405 view
Mengenal Siklon Tropis Seroja, Namanya Cantik tapi Berbahaya
(Foto: Ant/Ari Bowo Sucipto)
SIKLON TROPIS SEROJA : Petugas Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) mengamati pergerakan siklon tropis Seroja melalui citra satelit Himawari di Stasiun Klimatologi BMKG Karangploso, Malang, Jawa Timur, Selasa (6/4). &l
Jakarta (SIB)
Siklon tropis Seroja melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) dan meninggalkan dampak yang luar biasa. Meskipun siklon tropis itu dinamai dengan nama bunga, fenomena alam ini sangat berbahaya.

Sebagaimana diketahui, siklon tropis Seroja yang menerjang NTT telah menimbulkan bencana banjir bandang hingga tanah longsor.

Siklon tropis bernama bunga cantik ini berdampak di delapan wilayah administrasi kabupaten dan kota. Di antaranya di Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka, Lembata, Ngada, Sumba Barat, Sumba Timur, Rote Ndao, dan Alor.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan soal 10 siklon tropis yang terjadi sejak 2008. Semua siklon tropis ini dinamai dengan nama-nama bunga. Siklon tropis Seroja yang melanda NTT sejauh ini menjadi yang terkuat.

"Di Indonesia telah tercatat sejak 2008 ada 10 tropical cyclone (siklon tropis). Namun 2008 terjadi sekali. Baru terjadi 2010.
Berikutnya terjadi 2014," ujar Dwikorita dalam siaran langsung dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (6/4).

Intensitas terjadinya siklon tropis terus naik dari tahun ke tahun. Tercatat sejak 2017, siklon tropis terjadi hingga dua kali dalam setahun.

"Tapi dari sekitar dua sampai empat tahun sekali, tetapi sejak 2017 itu setiap tahun terjadi. Bahkan dalam satu tahun bisa dua kali," ungkapnya.

Dwikorita menyebut siklon Seroja inilah yang cukup dahsyat. Menurutnya, siklon seroja ini tidak lazim.

"Dan seroja ini baru yang pertama kali benar-benar cukup dahsyat. Dahsyat karena masuk sampai ke daratan. Ini yang tidak lazim," ujarnya.

Berikut ini nama-nama siklon tropis yang mengambil nama bunga sejak 2008:
2008: Durga
2010: Anggrek
2014: Bakung
2017: Cempaka & Dahlia
2018: Flamboyan & Kenanga
2019: Lili
2020: Mangga
2021: Seroja

Alasan Memakai Nama Bunga
Pada 2018, Dwikorita menuturkan dasar penamaan siklon tropis berubah dari pewayangan menjadi nama bunga. Sebab, dijelaskan oleh Dwikorita, saat menggunakan nama Durga, muncul perbedaan persepsi di masyarakat.

"Kita gunakan nama bunga meskipun awalnya menggunakan nama wayang, Durga. Namun saat menggunakan wayang ada persepsi kurang baik di masyarakat. Ada yang anggap Durga baik, ada yang tidak," ujar Dwikorita, Rabu (28/3/2018).

Dengan digunakannya nama bunga sebagai untuk siklon tropis, ia berharap siklon tropis tak jadi momok yang menakutkan bagi masyarakat. Meski begitu, Dwikorita tetap mengimbau masyarakat selalu waspada.

"Secara psikologis tidak menakut-nakuti, tapi yang penting kewaspadaan," imbaunya.

Berangkat dari hal itu, Deputi Meteorologi Mulyono Prabowo menjelaskan, tak hanya nama bunga, TCWC pun telah menyiapkan nama-nama buah sebagai cadangan.

"Pada saat sidang Tropical Cyclone Commitee itu kita men-submit nama. 2008 sudah muncul sementara Durga kemudian ada perbedaan persepsi. Akhirnya kita men-submit nama bunga. Sebagai cadangannya kita siapkan nama buah," tutur Mulyono melanjutkan Dwikorita.

Berbeda dengan Indonesia, di Amerika Serikat, fenomena badai seperti ini dinamai dengan nama orang berdasarkan abjad.

Dikutip dari buku 'Segala Sesuatu tentang Bencana' yang disusun oleh Yusup Somadinata, nama-nama itu seperti badai Harvey di Texas atau badai Irma di Florida. Selanjutnya ada badai Jose, Katia, Lee, dan Maria. Semua berdasarkan urutan abjad, yakni H, I, J, K, L, dan M. (detikNews/a)
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru