Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026
Anggota DPR RI Dr Ir Nurdin Tampubolon :

Rencana dan Pelaksanaan Program Kelistrikan dari Pusat Sampai Daerah Belum Sinkron

*PLN Sebaiknya Jangan Memonopoli pembangunan Pembangkit Dan Distribusi
- Senin, 10 November 2014 20:50 WIB
346 view
 Rencana dan Pelaksanaan  Program  Kelistrikan dari Pusat Sampai Daerah Belum Sinkron
Jakarta (SIB)- Anggota DPR RI dari Partai Hanura Dr Ir Nurdin Tampubolon berpendapat, sesungguhnya daerah Sumut merupakan sebuah wilayah yang serba ada. Sebab, sangat kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM).

Misalnya di bidang Sumber Daya Alam, Sumut memiliki lahan yang luas untuk padi, perkebunan, kelapa sawit, teh, coklat dan lain sebagainya. Bahkan dulunya, Sumut pengekspor gula terbesar dari Pulau Sumatera melalui perkebunan tebu, dan tembakau Deli sangat termasyhur di dunia  sehingga sangat digemari dan harganya  cukup  mahal.

Selain itu, Sumut sangat kaya dengan lautnya, baik yang terdapat di pantai Barat maupun Timur. Bukan hanya itu, di daratan  juga ada peternakan ikan. Juga punya hewan, seperti sapi, kerbau dan ternak lainnya yang cukup banyak.

"Jadi, kalau daerah Sumut dikelola dengan benar dan mendekatkan masyarakat melalui infrastruktur yang baik dan terjangkau maka daerah itu bisa cepat maju dan berkembang," kata Nurdin Tampubolon kepada SIB di ruang kerjanya, sembari menyebutkan, jika pembanguan irigasi dan jalan-jalan yang  menghubungkan sentra-sentra produksi petani tersedia baik,  maka daerah Sumut akan menjadi daerah yang surplus beras. Apalagi lahan untuk pertanian masih bisa diperluas.

Nurdin menegaskan, jika dilihat dari Sumber Daya Alam (SDA) di bidang agro dalam arti luas, termasuk perkebunan, padi, holtikultura, ikan, daging dan lainnya, maka sesungguhnya Sumut tidak perlu import.

Namun, wakil rakyat dari Partai Hanura ini masih bingung terkait masih terjadinya pemadaman bergilir di daerah Sumut, bahkan teriakannya seakan-akan tidak lagi  didengar oleh pemerintah Pusat.

Padahal, katanya, daerah Sumut memiliki energi yang cukup besar. Misalnya, tenaga air, geotermal, tenaga surya dan lain sebagainya. Artinya, jika dilihat dari potensi tersebut, sebenarnya Sumut tidak perlu kekurangan energi.

"Jadi, saya mengamati  pengelolaannya selama ini  memang masih tidak benar," ujar Nurdin sambil menambahkan, penyebab utamanya adalah tidak sinkronnya antara rencana dan pelaksanaan para penyelenggara kelistrikan dari pusat sampai daerah, sehingga produk tidak sebanding dengan permintaan atau kebutuhan masyarakat  banyak.

Karena produk energi listrik tidak sebanding dengan kebutuhan, maka harganya sangat mahal. Apalagi, masih terdapat kesan "mental korup" dari oknum- oknum tertentu, yang dampaknya merugikan keuangan negara. Selain itu, pembangunan infrastruktur listrik di Sumut juga masih banyak bermasalah, sehingga perlu dibenahi.

Menurutnya, PLN sebaiknya difungsikan hanya sebagai fasilisator, sedangkan untuk  membangun pembangkit listrik diserahkan saja kepada pihak swasta.

"Tulis besar-besar saja. PLN  jangan memonopoli, pembangunan pembangkit dan pendistribusiannya,” ujar Nurdin seraya menyebutkan, kalau monopoli transmisi dan distribusi tidak apa-apa, namun untuk pembangunan pembangkit, berikan saja kepada pihak swasta supaya terjadi daya saing. Dengan demikian, diharapkan daerah Sumut pulih dari persoalan listrik.

Potensi lain di daerah Sumut adalah wisatanya. Menurut Nurdin, telah berulang kali dikemukakannya, seandainya dibuka Segi Lima Emas Pariwisata Sumut, mulai dari Berastagi, Danau Toba, Pulau Nias, Madina/Tapsel, sampai Rantauprapat, Labuhanbatu merupakan kawasan yang sangat bagus. Tentu syaratnya, harus dibangun infrastrukturnya.

Dikatakan, Danau Toba harus betul-betul dilestarikan dan digunakan sebagai daya tarik bagi wisatawan domestik dan manca negara.

Pendukungnya, di kawasan itu harus dibangun airport atau Bandar Udara (Bandara) yang bisa didarati pesawat berbadan lebar, sehingga penerbangan bisa langsung dari Singapore, Kuala Lumpur (Malaysia), bahkan dari Bangkok Thailand.

Paling penting lagi, masyarakat di sekitar Danau Toba harus melakukan revolusi mental yang bisa diterima oleh para wisatawan. Perilaku, yang terkesan kurang ramah kepada wisatawan harus dirubah.

Untuk melakukan revolusi mental, kata Nurdin, di samping diharapkan adanya peran aktif dari tokoh  adat, cerdik pandai, pemuka agama dan lembaga keagamaan  serta lembaga sosial masyarakat lainnya, sangat diperlukan kesepakatan semangat  daripada kepala daerah yang berada di kawasan Danau Toba.
Setidaknya, terdapat 6 kabupaten masuk kawasan Danau Toba, yakni Tobasa, Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, dan Taput. (G1/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru