Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 08 September 2026

Aceh Musnahkan 3.000 Hektare Lahan Sawit di Leuser

* Lahan Sawit akan Dikembalikan Jadi Hutan
- Selasa, 31 Maret 2015 11:01 WIB
250 view
 Aceh Musnahkan 3.000 Hektare Lahan Sawit di Leuser
Banda Aceh (SIB)- Sekitar 3.000 ha perkebunan kelapa sawit akan dimusnahkan karena masuk dalam hutan lindung Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Pemusnahan tersebut dilakukan Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh, bekerja sama dengan Forum Konservasi Leuser (FKL).

Pemusnahan lahan perkebunan milik perusahaan dan pribadi masyarakat tersebut mulai dilakukan sejak 29 September 2014. Hingga Minggu (29/3), luas perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang yang telah dimusnahkan mencapai 200 ha.

“Lahan sawit yang dimusnahkan akan dikembalikan menjadi hutan," kata Koordinator Forum Konservasi Leuser, Rudi Putra.

Ia menyebutkan, pemusnahan tahap pertama akan dilakukan seluas 1.000 ha dengan 120.000 batang kelapa sawit. "Tahap pertama, kami akan memotong mengikuti batas kawasan hutan lindung dengan lahan perkebunan. Setelah itu, kebun kelapa sawit yang masuk dalam hutan lindung seluas 3.000 ha akan dimusnahkan semuanya," tutur Rudi.

Ia mengatakan, pemusnahan batang kelapa sawit produktif tersebut tidak mudah. Butuh waktu lama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dan perusahaan kelapa sawit. "Tapi karena didukung pemerintah, pemusnahan dapat dilakukan dengan mudah dan masyarakat atau perusahaan menerimanya," ujar Rudi.

Hutan Alami

Rudi juga menyebutkan, setelah ditebang hutan akan dibiarkan kembali untuk menjadi hutan alami. "Pengalaman kami pada pemusnahan 800 ha beberapa tahun yang lalu, meskipun lahan yang telah ditebang kelapa sawit tersebut dibiarkan, tidak sampai lima tahun hutan kembali tumbuh subur," katanya.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Aceh, Husaini Syamaun yang hadir dalam kegiatan pemusnahan tersebut, mengatakan pemusnahan kebun kelapa sawit merupakan langkah yang sangat tepat. Perkebunan dalam kawasan hutan lindung sangat tidak baik terhadap lingkungan.

"Ini kegiatan yang sangat luar biasa, kebun yang telah ditanami dapat dimusnahkan untuk dikembalikan menjadi hutan. Saya sangat menghargai kegiatan seperti ini, yang tidak akan berjalan mudah jika tidak ada pemahaman semua pihak," tuturnya.

Husaini mengatakan, keberadaan hutan lindung sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Jika hutan semakin rusak, dampak yang akan timbul juga dirasakan masyarakat. "Banjir bandang yang telah merugikan masyarakat merupakan salah satu bukti hutan harus diselamatkan. Saat hutan masih lebih baik, banjir bandang pada 2006 terjadi sangat besar. Apalagi, kalau terjadi saat ini setelah luas hutan semakin berkurang," ujarnya. (SH/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru