Tapteng (SIB)- Hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) mengalami penurunan akibat cuaca buruk selama sepekan terakhir. Kondisi itu diperparah lagi dengan tidak diizinkannya alat tangkap modern jenis pukat ikan beroperasi sehingga mempengaruhi harga jual ikan di sejumlah tangkahan yang cenderung mengalami kenaikan.
Salah seorang nelayan, A Sihombing (45) mengaku hanya 3 kali pergi melaut dalam sepekan karena badai dan hujan deras. Sementara hasil tangkapan kadang-kadang kosong, kalau pun ada tidak cukup biaya operasional. “Cuaca dalam sepekan terakhir tidak mendukung pekerjaan nelayan, kadang badai diiringi hujan deras sehingga menyulitkan untuk melaut,†kata Sihombing kepada SIB, Selasa (15/3).
Menurunnya, hasil tangkapan ikan berbading lurus dengan naiknya harga ikan di pasar. Meski demikian para pedagang tetap berlomba – lomba memesan ikan karena pasokan terbatas. Bahkan para pedagang ada yang langsung memesan seraya memberi panjar (uang muka) sebelum nelayan pergi melaut.
Salah seorang pedagang di pasar Sibuluan, br Sitohang mengatakan, kenaikan harga ikan tergantung jenis ikan yang dijual, namun untuk jenis ikan teri naik menjadi Rp45.000 sampai Rp.50.000 perkilonya, dimana sebelumnya berada di kisaran Rp30.000.
Menyikapi kenaikan harga komoditas laut itu, para pedagang mengaku tidak bisa berbuat banyak. Mereka juga terkadang susah menjualnya, karena konsumen berkurang. Namun kenaikan harga itu terpaksa dilakukan sebab dari nelayan saja sudah naik. â€Kita berharap kondisi cuaca bisa membaik, supaya hasil tangkapan ikan nelayan semakin banyak, dan harga bisa normal kembali,†kata boru Sitohang di Pasar Sibuluan, Selasa (15/3).
(E05/ r)