Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Setoran Pajak Baru Tercapai 41% dari Target Rp 1.072 Triliun

- Sabtu, 28 Juni 2014 16:46 WIB
1.275 view
Setoran Pajak Baru Tercapai 41% dari Target Rp 1.072 Triliun
Jakarta (SIB)- Tahun ini, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan menargetkan penerimaan atau setoran pajak Rp 1.072,376 triliun. Berapa yang sudah diraup hingga Juni 2014?

Menurut data Ditjen Pajak yang dikutip, Jumat (27/6), target setoran pajak tahun ini naik 16,4% dibandingkan tahun lalu Rp 921,26 triliun.

Hingga 20 Juni 2014, Ditjen Pajak telah berhasil meraup setoran Rp 442,56 triliun atau hanya 41,2% dari target. Realisasi ini memang naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 385,97 triliun.

Berikut rincian setoran pajak tersebut: PPh Non Migas Rp 229,78 triliun, naik dari tahun lalu Rp 194,482 triliun. Target tahun ini Rp 485,97 triliun, PPN dan PPnBM Rp 172,152 triliun, naik dari tahun lalu Rp 151,657 triliun. Target tahun ini Rp 475,587 triliun. PBB Rp 919,95 miliar, naik dari tahun lalu Rp 781,85 miliar. Target tahun ini Rp 21,742 triliun. Pajak lainnya Rp 2,33 triliun, naik dari tahun lalu Rp 2,284 triliun. Target tahun ini Rp 5,179 triliun. PPh Migas Rp 37,383 triliun, naik dari tahun lalu Rp 36,766 triliun. Target tahun ini Rp 83,889 triliun. 

Dirjen Pajak: Jangan Main-main Sama Tiongkok!

Pada masa Orde Baru, ekonomi Indonesia sangat ketergantungan kepada Amerika Serikat (AS), karena banyak ekspor Indonesia didominasi ke Pasar Negeri Paman Sam tersebut. Namun sekarang keadaan berubah, ekonomi Indonesia bergantung pada Tiongkok.

"Zaman Orde Baru ekonomi kita bergantung kepada AS, Eropa dan Jepang. Di 2005-2006 Tiongkok muncul dan sekarang 19% ekspor kita ke Tiongkok, AS hanya 9%. Jadi Tiongkok penting sekali buat kita, jangan main-main sama Tiongkok," ujar Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Fuad Rahmany di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis malam (26/6).

Selain Tiongkok, 20% ekspor Indonesia adalah ke negara-negara ASEAN. Dari fakta ini, Fuad mengatakan, perlambatan ekonomi di Tiongkok sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia dan juga pendapatan pajak.

"Tahun ini pertumbuhan ekonomi Tiongkok trennya menurun ke 7%. Ini berarti impor mereka turun, atau ekspor kita negatif. Lalu penerimaan pajak ekspor turun. Ini sudah kita rasakan juga tahun lalu," papar Fuad.

Selain pajak ekspor, pelemahan ekonomi Indonesia juga membuat impor turun. Kondisi saat ini seolah-olah defisit neraca perdagangan berkurang. Padahal ini karena ekspor dan impor turun. "Berarti pajak dua-duanya turun," kata Fuad.

Pelemahan ekonomi ini memang bisa terlihat dari penerimaan pajak yang menunjukkan perlambatan, khususnya di sektor Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Fuad memaparkan, penerimaan pajak sejumlah sektor pada Januari-20 Juni 2014 memperlihatkan pertumbuhan yang terbatas bahkan ada yang turun khususnya Pertambangan dan penggalian hingga Pertanian, kehutanan dan perikanan.

Berikut datanya: Industri pengolahan Rp 159,346 triliun, naik 10% dari tahun lalu, Perdagangan besar dan eceran Rp 68,82 triliun, naik 13% dari tahun lalu, Jasa keuangan dan asuransi Rp 60,59 triliun, naik 15% dari tahun lalu, Pertambangan dan penggalian Rp 29,454 triliun, turun 1,02% dari tahun lalu, 
Konstruksi Rp 20,129 triliun, naik 20% dari tahun lalu, Informasi dan Komunikasi Rp 16,275 triliun, naik 11,56% dibanding tahun lalu, Transportasi dan Pergudangan Rp14.285 triliun, naik 15,39% dari tahun lalu, Real Estat Rp 9,73 triliun, naik 8,23% dari tahun lalu, Jasa profesional, ilmiah, dan teknis Rp 9,36 triliun, naik 14,53% dibandingkan tahun lalu, Pertanian, kehutanan, dan perikanan Rp 7,56 triliun, turun 4,02% dibandingkan tahun lalu dan sektor lainnya Rp 38,048 triliun, naik 6,7% dari tahun lalu. (detikfinance/q) 
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru