Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Kenaikan Harga BBM Jadi Rp 8.000/Liter Dinilai Efektif Kurangi Konsumsi

- Senin, 14 Juli 2014 14:31 WIB
288 view
Kenaikan Harga BBM Jadi Rp 8.000/Liter Dinilai Efektif Kurangi Konsumsi
Jakarta (SIB)- Wacana yang dikeluarkan pemerintah untuk pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi memang sudah cukup banyak. Mulai dari puasa konsumsi ketika hari libur, transaksi non tunai, hingga pengurangan nozel di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Akan tetapi, tetap saja wacana tinggal wacana. Tak ada yang terealisasi. Ini pula yang membuat Badan Anggaran DPR sempat melontarkan komentar bahwa program pembatasan konsumsi BBM di bawah koordinasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) nol besar.

Pengamat energi ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, pada dasarnya target dari program-program tersebut adalah mengurangi konsumsi BBM. "Selama inti permasalahan kita yaitu subsidi masih besar dan sulit untuk mengurangi konsumsi BBM. Apalagi program yang ada tidak sesuai antara biaya dengan manfaat," katanya, Minggu (13/7).

Karena itu, Komaidi menegaskan kebijakan yang paling tepat adalah menaikkan harga BBM bersubsidi menjadi Rp 8.000 per liter. Langkah ini dinilai mampu mengurangi beban anggaran negara, dan membantu pengembangan bahan bakar gas (BBG).

"Jadi paralel. Konversi ke gas juga bisa langsung, karena harganya pasti akan kompetitif," sebut Komaidi.

Sedangkan untuk program pembatasan, seperti yang sempat diwacanakan, menurutnya juga bisa dijalankan meski hasilnya tidak maksimal. "Paling kalau semua dilaksanakan bisa mengurangi konsumsi 1 juta KL (kiloliter). Tapi dengan harga BBM naik, konsumsi sudah pasti berkurang," ujarnya.

Ia mengakui, dalam waktu dekat memang tidak tepat bila kebijakan kenaikan harga diambil pemerintah. Menaikkan harga BBM baru bisa dilakukan oleh pemerintahan mendatang. "Kalau dari visi-misi, kedua calon presiden ingin memperbaiki itu. Tapi kita tetap tunggu berani atau tidak, karena pastinya ini bukan kebijakan yang bisa menyenangkan masyarakat," jelasnya.(dtf/c)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru