Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026
Ingin Jadi Negara Maju, Indonesia Masih Kekurangan Pengusaha

Indonesia Tidak Boleh Lagi Ekspor Barang Mentah

- Selasa, 15 Juli 2014 13:59 WIB
318 view
Indonesia Tidak Boleh Lagi Ekspor Barang Mentah
Jakarta (SIB)- Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebut salah satu syarat Indonesia menjadi negara maju adalah tumbuh dan berkembangnya para pengusaha besar. Sayangnya jumlah pengusaha besar di Indonesia dinilai masih minim.

"Untuk menjadi negara maju harus banyak entrepreneurship (kewirausahaan). Indonesia itu sangat kurang, menggunakan indikator manapun kita sangat kurang. Ini menjadi fakta," kata Bambang saat menghadiri sebuah acara bertemakan Hari Kependudukan Dunia di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (14/7).

Bambang melihat perkembangan daftar orang terkaya di Indonesia sejak tahun 1990. Hingga saat ini daftar orang terkaya di Indonesia mayoritas masih dipegang oleh orang yang sama. Atau paling tidak yang berubah hanya kepemilikan yang dipegang dan diwariskan oleh sang anak.

"Agak menyedihkan banyak nama di tahun 90-an yang muncul kembali di tahun 2013. Artinya untuk jadi orang kaya di Indonesia itu susah. Sangat sedikit orang kaya baru atau OKB beneran. Boleh dibilang kita krisis pengusaha yang berkualitas dan kompetitif. Kita belum bisa seperti Korea. Pengusahanya hanya itu-itu aja, paling yang berkembang pemilik jadi anaknya," paparnya.

Menurut Bambang, mayoritas atau kebanyakan pengusaha di Indonesia tergolong pengusaha yang nanggung atau bukan sulit menjadi pengusaha besar. Contohnya Indonesia mempunyai banyak pengusaha di sektor UKM tetapi hanya sedikit dari jumlah pengusaha di sektor itu yang berhasil naik kelas. Kemudian banyak pengusaha Indonesia juga lebih tertarik masuk ke dunia politik.

"Indonesia ini butuh pengusaha lebih banyak. Kalau cepat masuk ke politik akibatnya kita kekurangan pengusaha. Negara yang kekurangan pengusaha tidak pernah jadi negara maju," imbuhnya.

Untuk sektor ini, Indonesia harus banyak mencontoh negara Tiongkok. Bambang menjelaskan laju perkembangan pengusaha besar di Tiongkok meningkat cukup signifikan setiap tahunnya.

"Dalam konteks geopolitik China yang akan menjadi pesaing Amerika untuk entrepreneurship. Jadi kita perlu dorong entrepreneurship ini. Negara Filipina kenapa ekonominya stuck di middle income trap? Karena tidak berkembang entrepeneurship. Hal lain yang menjadi masalah ekonomi di Filipina adalah ekonomi mereka hanya dipegang 15 orang," jelas Bambang.

Tak Boleh Ekspor Barang Mentah

Wamenkeu punya pandangan sendiri bagaimana mengelola sumber daya alam yang melimpah di Indonesia contohnya produk tambang. Salah satu yang harus dilakukan adalah dengan tidak lagi mengekspor produk tambang mentah tetapi dalam bentuk olahan.

"Kita jangan lagi mengeskpor komoditas yang masih mentah. Ini seperti kita jual tanah air. Timah ore, kapalnya seperti bawa tanah. Kita sedih apalagi kalau kita ekspor tanah yang masih merah," ungkap Bambang.

Selain tambang, produk komoditas lainnya seperti kakao, karet dan CPO juga harus diekspor dalam bentuk olahan. Khusus CPO, Bambang punya perhatian lebih karena komoditas ini banyak dihasilkan oleh Indonesia.

Volume ekspor CPO beserta produk turunannya pada tahun 2013 mencapai 21,2 juta ton atau naik 16% dari tahun sebelumnya yang hanya 18,2 juta ton. Nilai ekspor CPO Indonesia adalah yang tertinggi di dunia disusul Malaysia di tempat kedua.

"CPO jangan puas sebagai eksportir CPO terbesar di dunia. Akan lebih bagus Indonesia menjadi negara terdepan industri turunan dari CPO. Belum lagi karet, kakao dan sebagainya," imbuhnya.

Untuk itu, Bambang menegaskan Indonesia harus merubah pandangan ekonominya yang selama ini terjebak pada pendekatan komperatif di mana ekspor barang mentah diutamakan. Di negara dunia manapun saat ini, pendekatan komperatif sudah tidak lagi digunakan dan dialihkan kepada produk bernilai tambah.

Masalahnya sekarang adalah Indonesia membutuhkan teknologi industri artinya program intelectual capital yang dilakukan oleeh Korea Selatan sangat penting penting. Bambang menyebut Korea menjadi negara maju di duni karena konsisten dengan konsep intelectual capital dan industrinya.

"Ingat, Samsung ini begitu besar kekuatannya saat ini. Dulu kalau kita mau beli TV kita pilih merek Sony tetapi sekarang cari Samsung. Hari ini Samsung bisa bersaing dengan Apple. Sedangkan mobilnya Korea bersaing dengan Toyota," cetusnya.(dtf/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru