Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026

Sistem “Jagung Babat” Buat Pebisnis Jagung Biji di Simalungun Atas Terancam Gulung Tikar

Redaksi - Rabu, 29 Januari 2020 15:06 WIB
617 view
Sistem “Jagung Babat” Buat Pebisnis Jagung Biji di Simalungun Atas Terancam Gulung Tikar
SIB/Mey Hendika Girsang
JAGUNG : Inilah salah satu tanaman jagung di Kecamatan Silimakuta Kabupaten Simalungun. Pebisnis jagung biji di daerah itu terancam gulung tikar, lantaran banyak petani menjual jagungnya dengan sistem jagung babat. Foto dipetik, Selasa (28/1).&am
Simalungun (SIB)
Pebisnis jagung biji kering di Simalungun bagian atas meliputi Kecamatan Silimakuta, Purba, Pematang Silimahuta dan Dolok Silau terancam gulung tikar. Pasalnya, banyak petani wilayah itu menjual jagungnya dengan sistem "jagung babat".

Jagung babat ini istilah dari bahasa setempat. Artinya, petani menjual tanaman jagungnya di usia 4 bulan, dimana daunnya masih hijau dan buahnya belum layak panen. Tanaman itu dibabat habis bersama pokoknya, kemudian dijual.

Harga jagung babat dibandrol pembeli Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu per rante. Yang membabat jagung pembelinya langsung.

Petani tinggal terima uang. Informasinya, jagung babat itu untuk makanan ternak lembu milik perusahaan swasta di Kabupaten Karo.

"Harganya tergantung kesuburan tanaman jagung. Kalau pokok jagung mencapai 2 meter lebih, dihargai Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu per rante. Kalau ukuran pokok jagungnya kecil, Rp 600 ribu per rante. Hal ini sudah saya lakukan," kata seorang petani jagung daerah itu Lormen Naibaho, Selasa (28/1).

Petani menjual jagungnya dengan sistem jagung babat, karena dinilai lebih simpel dan menguntungkan dari pada menjual jagung biji kering. Pasalnya, jagung babat hanya membutuhkan tempo 4 bulan, sedangkan menjadikan jagung biji kering butuh waktu 6-7 bulan, dengan hasil produksi yang belum pasti.

"Kalau menjadikan jagung biji, masih banyak tantangannya, seperti hama dan harga. Sedangkan jagung babat, minim tantangan, karena tanaman jagung masih hijau dan buahnya masih muda sudah bisa dibabat, dengan harga segitu," kata petani itu.

Adanya jagung babat itu, yang sudah berlangsung sekira 1 tahun terakhir, membuat pebisnis jagung biji terancam gulung tikar. Hal tersebut diutarakan seorang pebisnis jagung biji wilayah itu, R Purba.

"Sudah susah sekarang ini, gara-gara jagung babat itu. Untuk mengumpulkan jagung biji kering sebanyak 2 ton per bulan pun sudah sulit," keluhnya seraya menyebut, sebelum jagung babat ada, pihaknya dapat mengumpulkan jagung biji kering sebanyak 10 ton per bulan. (S06/q)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru