Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Akibat Corona, Harga Emas Melonjak Diprediksi Bisa Rp 1 Juta per Gram

* Antam Cari Titik Eksplorasi Baru
Redaksi - Senin, 24 Februari 2020 11:25 WIB
361 view
Akibat Corona, Harga Emas Melonjak Diprediksi Bisa Rp 1 Juta per Gram
Emas batangan Cina
Jakarta (SIB)
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga emas saat ini disebabkan perekonomian global yang tidak menentu akibat wabah virus corona (Covid-19) di Cina serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Ia menduga, harga logam mulia tersebut pada tahun 2020 akan terus meningkat hingga menyentuh level Rp 1 juta per gram.

"Nah pelemahan mata uang rupiah akan kembali ke Rp 14 ribu dan ini akan diuntungkan untuk orang melakukan investasi emas, karena logam mulia bisa kembali naik dan bisa saja logam mulia bisa kembali ke 1 juta per-gramnya," kata Ibrahim Assuaibi, Minggu (23/2).

Adapun harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau emas Antam pada Minggu (23/2) berada pada level Rp 804 ribu per gram.

Ibrahim mengatakan, aksi Bank Indonesia (BI) pada beberapa hari lalu yang menurunkan tingkat suku bunga acuannya menjadi 4,75 persen ini belum sanggup membuat rupiah menjadi perkasa. Karena itu, melemahnya rupiah bisa membuat harga emas semakin tinggi.

"Nah ini wajar harga emas cenderung mengalami penguatan," ucapnya.

Faktor lain menguatnya harga emas karena mewabahnya virus corona di beberapa negara selain Cina, seperti Korea Selatan, Jepang, dan Filipina.

"Nah tingkat Asia ini sudah sangat luar biasa, bahkan sampai saat ini WHO berfokus kepada apa yang terjadi di Korea Selatan yang sudah mengakibatkan begitu banyak merasakan dampaknya, di sisi lain pun negara-negara di luar Tiongkok telah terimbas terkena virus (Corona)," katanya.

Ibrahim menduga bahwa wabah virus corona akan berlangsung selama satu semester pada 2020. "Kemungkinan besar pada Q1 dan Q2 pertumbuhan ekonomi global tidak sesuai dengan ekspektasi bank dunia maupun IMF," ujarnya.


Padahal, kata Ibrahim, masalah perekonomian global sebelumnya sudah mulai reda, yakni perang dagang Amerika Serikat dan Cina yang telah teken perjanjian fase pertama.

"Tapi kenyataannya setelah virus corona menyebar ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi global terus mengalami perlambatan, sehingga ada dugaan virus corona lebih jahat dibandingkan perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok," tuturnya.
Karena itu ia berharap kepada Bank Sentral negara-negara maju bisa menggelontorkan stimulus guna memukul kembali dampak virus corona bagi perekonomian.

EKSPLORASI BARU
Sementara itu, di tengah tren penguatan harga emas global, emiten pertambangan logam, PT Aneka Tambang Tbk, terus berupaya mencari titik eksplorasi baru untuk memperkuat cadangan dan sumber daya emas yang dimiliki perseroan.

SVP Corporate Secretary Kunto Hendrapawoko mengatakan bahwa perseroan sedang melakukan tinjauan ke beberapa daerah prospek tambang untuk dilakukan eksplorasi. Hal tersebut sejalan dengan rencana jangka pendek dan panjang perseroan untuk mempertahankan cadangan emasnya.

“Untuk memperkuat cadangan dan sumber daya emas yang dimiliki, perseroan secara aktif akan tetap melakukan pencarian cadangan dan sumber daya emas,” ujar Kunto, Jumat (21/2).

Saat ini, emiten berkode saham ANTM itu tengah melakukan eksplorasi di tiga tambang miliknya, yaitu di Pongkor Jawa Barat, Cibaliung Banten, Pegunungan Bintang di Papua. Hingga akhir 2019, kegiatan eksplorasi yang dilakukan di wilayah tambang emas Pongkor, adalah model geologi dan pemboran.

Sementara itu, di Cibaliung kegiatan eksplorasi yang dilakukan masih dalam tahap uji pemboran, sedangkan Pegunungan Bintang, Papua meliputi pemetan geologi, pengukuran lintasan, geology test spectral, pemerian inti bor, dan pemboran inti dan geofisika.

Adapun, Kunto mengatakan bahwa perseroan masih mengoptimalkan tambang emas di Pongkor dan Cibaliung dengan tingkat produksi emas dari kedua tambang tersebut mencapai sekitar 2 ton. Berdasarkan data perseroan, sepanjang 2019 volume produksi unaudited emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 1.963 kg.

Di sisi lain, pada 2019 total penjualan unaudited emas berhasil naik 22 persen menjadi 34.023 kg, lebih besar daripada capaian 2018 sebesar 27.894 kg. Penjualan tersebut pun menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah perseroan.

Dalam kesempatan berbeda, perseroan melalui entitas anak usahanya PT Sumbawa Timur Mining (STM) berhasil menemukan deposit bijih tembaga-emas Onto di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. (T/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru