Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 Juli 2026

Catat ! 4 Bahan Makanan Ini Diprediksi Harganya Naik di 2025

Robert Banjarnahor - Rabu, 01 Januari 2025 14:54 WIB
253 view
Catat ! 4 Bahan Makanan Ini Diprediksi Harganya Naik di 2025
Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman
Warga membeli daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Rabu (13/3/2024). Memasuki bulan Ramadan harga daging sapi di Pasar Senen tembus mencapai Rp140.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp125.000.
Jakarta (harianSIB.com)
Di penghujung 2024, harga pangan global mencapai level tertinggi dalam 18 bulan terakhir, dan tren kenaikan ini diprediksi akan berlanjut pada tahun 2025.

Menurut data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, Indeks Harga Pangan global mencatat kenaikan sebesar 2% pada Oktober, mencapai level tertinggi sejak April 2023. Indeks ini melacak harga lima kategori utama: biji-bijian, daging, susu, minyak sayur, dan gula.

Kenaikan terbesar terjadi pada kategori minyak sayur, yang melonjak 24% sepanjang Januari hingga Oktober, didorong oleh naiknya harga minyak kelapa sawit, kedelai, bunga matahari, dan lobak. Kategori susu juga mengalami kenaikan signifikan, sebesar 17%, dipimpin oleh kenaikan harga keju dan mentega. Sementara itu, harga daging naik 10% sepanjang tahun.

Sebaliknya, kategori sereal, termasuk gandum dan beras, mengalami penurunan 4,5%, diikuti oleh gula yang turun hampir 5% dibandingkan tahun lalu.

Dikutip dari CNBC Indonesia, para analis menyebutkan bahwa faktor-faktor seperti kondisi cuaca dan masalah logistik menjadi penyebab utama kenaikan harga tersebut.

Meskipun indeks FAO mencatat harga komoditas mentah, bukan harga ritel, tren ini diperkirakan akan berdampak langsung pada konsumen. Analis, pialang, dan pedagang juga memproyeksikan bahwa ada empat bahan makanan utama yang kemungkinan besar harganya akan terus meningkat tahun ini.

Berikut daftarnya:

1. Kopi dan kakao
Pasar gula, kopi, dan kakao menghadapi ketidakpastian harga yang lebih besar daripada komoditas lainnya. Kondisi ini dipaparkan oleh analis komoditas BMI Matthew Biggin.

"Meskipun harga kopi dan kakao tidak tercermin dalam indeks FAO, harga kedua komoditas tersebut menghadapi risiko paling besar," kata Biggin, dikutip dari CNBC Internasional, Senin (1/1/2025).

Cuaca yang tidak menguntungkan di produsen kopi utama Brasil telah mendorong sentimen bullish di pasar, menurut laporan BMI.

Kontrak berjangka kopi yang diperdagangkan di ICE telah melonjak hampir 70% tahun ini hingga menyentuh US$ 3,18 per pon.

"Risiko momentum kenaikan untuk muncul kembali dalam 2-3 bulan ke depan tinggi," kata analis Citi, yang memperkirakan harga kakao akan naik menjadi US$ 10.000 per ton dalam tiga bulan ke depan. Kakao adalah bahan utama dalam cokelat, dan harga camilan kesayangan ini pada gilirannya telah terpengaruh.

2. Buah-buahan dan sayur-sayuran
Bradley Rickard, profesor ekonomi pangan dan pertanian di Charles H. Dyson School of Applied Economics and Management mengungkapkan kategori bahan pangan buah dan sayur akan "sangat terdampak" oleh kebijakan yang diusulkan oleh Presiden terpilih AS Donald Trump.

"Dan ini akan menjadi lebih rumit jika perubahan kebijakan lain memengaruhi pasokan tenaga kerja pertanian di Amerika Serikat," kata Rickard.

Trump baru-baru ini mengatakan bahwa ia akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10% untuk barang-barang dari China dan bea masuk sebesar 25% untuk Kanada dan Meksiko. Pasar AS khususnya akan terpukul lebih keras dengan kebijakan ini.

3. Minyak kelapa sawit dan minyak nabati lainnya
Harga minyak nabati diperkirakan akan naik secara signifikan tahun depan dan minyak kelapa sawit menjadi sorotan karena permintaan global yang lebih tinggi memenuhi kendala pasokan. Hal ini disampaikan oleh Cheang Kang Wei, seorang pialang pertanian fisik di perusahaan jasa keuangan StoneX.

"Fenomena cuaca El Nino terbaru memengaruhi budidaya buah kelapa sawit di Indonesia, yang merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar dan menyumbang lebih dari setengah pasokan dunia," ungkap unit penelitian Fitch Solutions BMI menulis dalam sebuah laporan.

Menurut asosiasi minyak sawit Tanah Air, produksi dalam negeri dalam delapan bulan pertama tahun 2024 mengalami penurunan hampir 5% dari periode yang sama tahun lalu.

"Hal ini diperparah oleh dorongan Indonesia untuk menggunakan lebih banyak minyak sawit untuk produksi biodiesel, yang semakin memperketat pasokan," kata Cheang, dikutip dari CNBC Internasional.

Minyak nabati lainnya, seperti minyak lobak, juga bisa menjadi lebih mahal sebagai akibat dari tantangan pasokan yang serupa, tambah pialang StoneX.

4. Daging Sapi
Stephen Nicholson, seorang ahli strategi di bank agribisnis Rabobank mengungkapkan harga daging sapi melonjak akibat kekeringan di dataran selatan AS. Kondisi ini "sangat mengurangi" jumlah ternak.

Operasional peternak sapi potong bergantung pada curah hujan. Hal ini terkait dengan pasokan pakan bagi kawanan hewan mereka. Pasokan ini rentan terhadap kekeringan.

Selama musim kemarau ketika produksi menurun dan ketersediaan pakan ternak ikut berkurang drastis. Alhasil, produsen sering kali membeli pakan tambahan, atau mengurangi jumlah hewan mereka. Ini menyebabkan biaya yang lebih tinggi. AS adalah produsen daging sapi terbesar di dunia dan salah satu eksportir teratas.

Saat ini, harga sapi bakalan berjangka yang diperdagangkan di Chicago Mercantile Exchange naik 16% menjadi US$ 2,59 per pon tahun ini, menurut data dari FactSet. Sapi bakalan adalah sapi muda yang cukup dewasa untuk digemukkan dan disembelih.

Rabobank dan Badan Pengembangan Pertanian dan Hortikultura Inggris memperkirakan penurunan keseluruhan produksi daging sapi global akan membuat harga tetap tinggi pada tahun 2025.

"Kontraksi hewan ternak di empat negara penghasil daging sapi terbesar di dunia akan menyebabkan pengurangan pasokan daging sapi global pertama sejak pandemi Covid-19," tulis analis Rabobank dalam laporan terbarunya.(*)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru