Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 29 Maret 2026

Ironi di Tanah Rencong: Bank Aceh Untung Ratusan Miliar, Tapi Rp7 Triliun Dana Rakyat 'Diparkir' di Luar Daerah

Redaksi - Jumat, 19 September 2025 09:23 WIB
1.436 view
Ironi di Tanah Rencong: Bank Aceh Untung Ratusan Miliar, Tapi Rp7 Triliun Dana Rakyat 'Diparkir' di Luar Daerah
Ist/SNN
PT Bank Aceh Syariah (BAS) sedang melayani nasabah.

Aceh(harianSIB.com)

Di tengah lesunya perekonomian Aceh yang sangat bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), sebuah ironi terungkap dari lembaga keuangan kebanggaan daerah. PT Bank Aceh Syariah (BAS) berhasil mencetak laba Rp443 miliar, namun pada saat yang sama "memarkirkan" dana masyarakat sebesar Rp7,05 triliun dalam bentuk surat berharga di luar Aceh.

Angka fantastis ini nyaris setara dengan total APBA 2025 yang berada di angka Rp11 triliun. Dana raksasa yang semestinya menjadi mesin penggerak ekonomi lokal justru "tertidur" di pasar keuangan nasional, sementara para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, serta nelayan di Aceh berjuang keras mendapatkan akses permodalan.

Berdasarkan data hingga September 2025, dari total dana masyarakat yang dikelola Bank Aceh mencapai Rp26 triliun, penempatan dana pada surat berharga nasional dan investasi antarbank menunjukkan peningkatan signifikan. Pertumbuhan investasi pada surat berharga naik 6,6%, dan penempatan antarbank bahkan melonjak hingga 21,6%.

Angka ini berbanding terbalik dengan penyaluran pembiayaan ke sektor riil di Aceh yang hanya tumbuh sebesar 7,1%. Fakta ini menunjukkan prioritas kebijakan Bank Aceh yang lebih condong pada investasi aman dengan imbal hasil jangka pendek ketimbang mengambil risiko untuk menggerakkan roda perekonomian daerahnya sendiri.

Baca Juga:
"Ini adalah prioritas kebijakan yang keliru," tegas Tarmizi Age, pengamat sekaligus mantan aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM), seperti dikutip dari baraNews, Jumat (19/9/2025). "Dana sebesar itu seharusnya menjadi motor utama pembangunan kerja, dan memberdayakan ekonomi rakyat. Bukan justru dinikmati oleh pasar nasional sementara daerah kita berjalan di tempat."

Kondisi ini diperparah dengan realisasi APBA 2025 yang berjalan lambat akibat transisi politik pasca-Pilkada. Keterlambatan ini memukul langsung daya beli masyarakat dan sektor usaha kecil yang sangat bergantung pada proyek-proyek pemerintah.

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Antisipasi Risiko Gagal Panen, Petani Sergai Diimbau Manfaatkan Asuransi Tanaman Padi
Swasembada Pangan Ala Orba Diungkap, Petani Tidak Sejahtera dan Tidak Bebas Tanam Padi
Jokowi Minta Para Menteri Siapkan Jurus Baru Kerek Investasi
RI Bidik Investasi Kelapa Sawit dan Wisata di Kepulauan Solomon
Cara Baru Menambah Jumlah Petani
Harga Sawit ke Titik Terendah, Petani Minta Genjot Produksi Biodiesel
komentar
beritaTerbaru