Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 28 Juni 2026

BI Rate Tetap, Margin Laba Perbankan Akan Tertekan

- Sabtu, 15 Februari 2014 18:15 WIB
410 view
BI Rate Tetap, Margin Laba Perbankan Akan Tertekan
SIB/Int
Bank Indonesia
Jakarta (SIB)- Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 7,5 persen akan mengakibatkan margin laba bersih emiten perbankan kembali tertekan. Analis PT BNI Securities, Thendra Chrisnanda mengatakan tahun ini margin laba emiten perbankan akan tertekan karena level BI rate masih cukup tinggi. “Perbankan masih akan tertekan dampak negatif BI rate,” ujarnya ketika dihubungi Kamis (13/2/2014).

Thendra berpendapat, peningkatan harga saham perbankan yang terjadi beberapa waktu terakhir, sudah cukup sejalan dengan kondisi fundamental emiten perbankan. Walau masih tertekan dampak negatif BI rate dan aturan pengetatan uang muka (loan to value), emiten perbankan tetap mampu membukukan kinerja keuangan yang membanggakan.

Kondisi itu disebabkan tingginya angka BI rate membuat perbankan harus menekan margin laba bersihnya. Sebab sejak kenaikan BI rate menjadi 7,5 persen pada November 2013 lalu, belum semua emiten perbankan merespon dengan menaikkan suku bunga pinjaman. Sebab kenaikan suku bunga pinjaman akan berdampak risiko kredit macet meningkat. Akibatnya emiten sektor perbankan lebih memilih menekan margin labanya.

Dalam hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Kamis, BI rate diputuskan tetap dipertahankan di level 7,5 persen dengan suku bunga lending facility 7,5 persen dan suku bunga deposit facility pada level 5,75 persen. Level BI rate 7,5 persen sudah berlaku empat bulan ini dan merupakan level tertinggi sejak April 2009.

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan, margin laba bersih perbankan umum konvensional per November 2013 tertekan menjadi 4,88 persen dibandingkan November 2012 sebesar 5,48 persen. Meski tertekan, namun secara nilai pendapatan bunga bersih perbankan umum konvensional pada November 2013 tumbuh 16,6 persen menjadi Rp 231,2 triliun dibandingkan November 2012 sebesar Rp 198,2 truliun.

(Tempo.co/f)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru