Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 28 Juni 2026

Rupiah Loyo, Pemerintah Tertekan Utang Dolar

- Sabtu, 22 Februari 2014 16:39 WIB
412 view
Rupiah Loyo, Pemerintah Tertekan Utang Dolar
Jakarta (SIB)- Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Hendy Sulistiowaty mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah akan membebani pemerintah yang banyak berutang dalam bentuk dolar. Dari total keseluruhan, utang luar negeri pemerintah dalam dolar 47 persen atau setara US$ 57,6 miliar.
Jumlah itu paling besar ketimbang utang dalam mata uang lain, termasuk rupiah. "Pemerintah sangat memperhatikan pelemahan rupiah karena itu menambah beban," kata Hendy di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (20/2/2014).

Adapun utang pemerintah dalam rupiah 22 persen atau setara US$ 27,4 miliar, 19 persen dalam yen Jepang setara US$ 23,5 miliar, 5 persen masing-masing dalam euro dan dolar Singapura setara US$ 5,9 miliar dan US$ 6,2 miliar, serta 2 persen dalam mata uang lainnya setara US$ 2,5 miliar. Total utang jangka panjang pemerintah US$ 123,5 miliar.

Hendy mengatakan utang pemerintah biasanya berbentuk pinjaman bilateral, pinjaman multilateral, fasilitas kredit ekspor, dan obigasi jangka panjang. Sedangkan utang jangka pendek biasanya berupa surat utang jangka pendek surat perbendaharaan negara dan sertifikat Bank Indonesia.
Pilih Melunasi, Pemerintah Tak Gencar Berutang.

Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Hendy Sulistiowaty mengatakan utang pemerintah mengalami perlambatan pada Desember tahun lalu ketimbang periode sebelumnya. "Cenderung melambat sebab lebih banyak melunasi ketimbang nambah utang," katanya di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (20/2). Pertumbuhannya mencapai 4,6 persen lebih kecil ketimbang 2012, yakni 12 persen.

Hendy mengatakan utang luar negeri Indonesia jangka panjang US$ 217 miliar dan US$ 47 miliar utang jangka pendek. Utang jangka panjang tumbuh 4,1 persen dan jangka pendek 7,1 persen. Namun dibandingkan 2012, kedua utang ini melambat. "Total utang pemerintah dan swasta mencapai US$ 264,1 miliar (setara Rp 2.905 triliun)," katanya.

Pertumbuhan utang luar negeri lebih kencang dari pihak swasta. Pertumbuhan kelompok swasta 11,3 persen. Bandingkan dengan pertumbuhan utang pemerintah yang terkoreksi 2 persen. Besarnya pertumbuhan utang swasta menggambarkan peran swasta yang membesar dalam perekonomian.

(Tempo.co/q)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru