Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 28 Juni 2026

BI Minta Perbankan Sumut Selektif Salurkan Kredit

- Senin, 24 Februari 2014 19:07 WIB
418 view
BI Minta Perbankan Sumut Selektif Salurkan Kredit
Bank Indonesia
Medan (SIB)- Bank Indonesia meminta  perbankan di Sumatera Utara tahun ini lebih selektif menyalurkan kredit karena perekonomian masih cenderung melambat dan 2013 kredit sudah tumbuh tinggi.

"Penahanan kredit dinilai perlu dilakukan mengingat pada tahun 2014 perekonomian juga diprediksi belum stabil dan tahun lalu kredit sudah tumbuh cukup tinggi atau naik 18,56 persen menjadi Rp156 triliun," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah IX (Sumut-Aceh), Hari Utomo di Medan, Minggu.

Meskipun,  pertumbuhan kredit di 2013 itu sudah cenderung menurun dari 2012 yang bertumbuh  23,49 persen, tetapi dinilai masih cukup tinggi sehingga perlu direm.

 Hari menjelaskan, perkembangan perbankan mengikuti pertumbuhan ekonomi sehingga kalau ekonomi melambat maka bank juga harus mengimbanginya.

"Jangan sampai penyaluran kredit menimbulkan masalah kredit macet yang akhirnya juga merugikan bank dan perekonomian nasional," katanya.
Tahun  lalu, kredit bermasalah perbankan Sumut masih cukup aman atau  2,12 persen.

"Walau masih cukup aman, NPL (kredit bermasalah) di 2013 itu sudah naik dari angka 2012 yang masih   1,89 persen dan itu harus diantisipasi/diwaspadai," ujarnya.

Menurut data, dari total kredit yang disalurkan tahun lalu, terbesar untuk kredit modal kerja atau mencapai Rp75,67 triliun.

Kredit itu naik 13,64 persen dari 2012. Kredit terbesar kedua untuk kredit investasi yakni mencapai Rp43,61 triliun dimana jumlah itu juga naik cukup besar atau 42,89 persen.

Adapun untuk kredit konsumsi bertumbuh 6,53 persen atau menjadi Rp36,72 triliun.

"Laju pertumbuhan kredit bermasalah harus direm seperti halnya juga harus menahan laju inflasi," katanya.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumut, Firsal Ferial Mutyara menyebutkan, hingga mendekati bulan Maret, pengusaha masih sangat hati-hati menggunakan jasa kredit perbankan.

Alasan dia, pengusaha masih menahan investasi menunggu usai Pemilu sembari juga melihat pergerakan bisnis di pasar.

"Dewasa ini yang masih bagus investasi di perdagangan saham dan ritel, sementara untuk investasi yang memerlukan dana besar masih harus melihat perkembangan politik dalam negeri dan situasi pasar dunia," katanya. (Ant/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru