Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 28 Juni 2026

Kerja Keras Sumut Menekan Inflasi Tahun Politik

- Senin, 24 Februari 2014 19:19 WIB
653 view
Kerja Keras Sumut Menekan Inflasi Tahun Politik
Sib/Eva Rina Pelawi
MENGANYAM : Dua orang ibu, Bakti Surbakti dan br Ginting warga desa Gurukinayan, Selasa menganyam "sumpit" untuk mengisi waktu luang dan menambah pendapatan mereka selama berada di pengungsian posko PPWG Zentrum GBKP Kabanjahe. Hasil kerajinan tangan ters
Medan (SIB)- Pemerintah Provinsi Sumatera Utara gerah dengan besaran inflasi tahun 2013 yang cukup tinggi. Secara kumulatif mencapai 10,18 persen dan berharap dengan Tahun Politik 2014, angka itu bisa ditekan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi 6,1 persen seperti tahun lalu.

Berbagai langkah untuk menekan inflasi tahun inipun tampaknya sudah dilakukan sejak awal tahun.

Bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) misalnya, Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemerintah Kota Medan melakukan kerja sama membangun Pusat Informasi Harga Pasar (PIHP) di sejumlah pusat pasar.

Dengan adanya PIHP diharapkan masyarakat dan pedagang mengetahui harga berbagai barang di pasar yang akhirnya bisa meredam aksi spekulan yang bisa membuat lonjakan harga jual.

Masih bekerja sama dengan BI, Pemprov dan pemkot/pemkab juga membentuk tim pengedali inflasi daerah (TPID) yang rutin melakukan pertemuan dan koordinasi untuk  menyikapi permasalahan atas berbagai barang dan harga di pasar.

"Bagaimana tidak gerah, inflasi yang tinggi membuat pertumbuhan ekonomi Sumut melambat.Jadi tidak ada cara lain, penekanan inflasi harus mulai dilakukan sejak dini," kata Asisten II Ekonomi Pembangunan Pemprov Sumut, Sabrina.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi Sumut bukan saja mengganggu perekonomian Sumut tetapi juga terhadap nasional.

Tahun lalu, kata dia, inflasi Sumut memberikan andil sekitar 4,8 persen pada inflasi nasional.

"Pemprov Sumut sudah meminta Pemkot/Pemkab menjaga besaran inflasi di daerahnya masing-masing dan Pemprov Sumut sendiri melakukan berbagai langkah,"katanya.

Tahun ini, kata dia, Pemprov Sumut menargetkan besaran inflasi  di kisaran 4,5 persen plus minus satu persen.

Kota Medan

Dari 33 kota/kabupaten Sumut, daerah yang menjadi pusat perhatian Pemprov Sumut untuk menekan inflasi adalah Kota Medan.

Alasan Sabrina, karena kota yang menjadi ibu kota Provinsi Sumut itu memberi andil besar dalam inflasi Sumut atau tahun lalu hingga  82 persen.

"Medan harus dapat perhatian besar dalam penanganan inflasi dan itu juga sudah dilakukan," katanya.

Selain berupaya keras menjaga kelancaran pasokan berbagai barang, upaya penekanan harga dilakukan dengan menggelar operasi pasar (OP) beras dan penyaluran beras untuk warga miskin(raskin).

Pelaksana tugas Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin, mengaku, sebagai ibukota Sumut, Medan sangat riskan dengan fluktuasi harga.

"Mengapa OP beras dilakukan secepatnya.Jawabnya karena perlu antisipasi kenaikan harga setelah TPID melihat ada tren kenaikan harga bahan pokok itu di pasar dampak berbagai hal termasuk karena belum masa panen dan cuaca ekstrem," katanya.

OP semakin dinilai perlu karena di Medan dan Sumut secara keseluruhan, inflasi selalu dipicu dari kenaikan harga beras dan termasuk sayur-mayur khususnya bawang dan cabai merah.

Tahun lalu, kenaikan harga beras yang terjadi empat kali memberikan kontribusi cukup besar dalam inflasi Sumut.

Dia berharap, OP beras dan termasuk penyaluran raskin yang disalurkan secara lebih cepat dan lancar bisa menekan inflasi di Kota Medan yang pada Januari lalu masih di angka 1,0 persen.

Meski inflasi di Medan pada Januari 2014 itu sudah turun dari angka 2013 yang 1,21 persen tetapi dinilai masih mengkhawatirkan dan perlu ditekan.

Optimistis Turun

Di tengah kekhawatiran, Pemprov Sumut optimistis bisa menekan  inflasi.

Keyakinan semakin besar setelah melihat meski sudah mendekati Pemilu, perekonomian dan termasuk harga barang belum atau tidak mengalami lonjakan harga yang cukup berarti.

"Pemprov Sumut semakin optimistis karena diyakini harga bahan bakar minyak (BBM) tidak naik tahun ini,"katanya.

Kenaikan harga BBM seperti diketahui juga menjadi penyumbang utama inflasi di daerah yang tidak bisa dielakkan.

Kepala Perwakilan BI Wilayah IX, (Sumut-Aceh), Hari Utomo menyebutkan, dengan inflasi di Sumut yang lebih rendah dari tahun lalu atau seperti yang ditargetkan sebesar 4,5 persen plus minus, maka  pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut bisa lebih dari 6,1 persen seperti angka tahun lalu.

Dia menegaskan dengan mengacu pada inflasi Sumut di Januari 2014 yang sudah bisa ditekan menjadi 1, 10 persen dari 1,39 persen pada bulan sama di 2013 dan 1,74 persen pada 2012, BI juga menyakini kuat, inflasi Sumut bisa ditekan.

Inflasi yang bisa ditekan ditambah geliat bisnis yang lumayan bagus pada tahun politik ini maka pertumbuhan ekonomi bisa di atas 6,1 persen. (Ant/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru