Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 26 September 2026
Kepala KR 5 OJK Sumatera:

Semua Industri Keuangan Harus Bersinergi

- Selasa, 24 November 2015 15:05 WIB
366 view
Semua Industri Keuangan Harus Bersinergi
SIB/dokumen
Kepala OJK Regional 5 Sumatera Achmad Soekro usai memotong nasi tumpeng pada HUT OJK ke 4 dan menyerahkannya kepada salah satu pimpinan bank di Medan, Senin siang.
Medan (SIB)- Kepala Kantor Regional (KR)  5 Sumatera OJK Achmad Sukro Tratmono menegaskan,pihaknya  ingin semua industri keuangan dan perbankan bersinergi sehingga menjadi tangguh di masa depan untuk meningkatkan perekonomian dan pembangunan.

"OJK ingin adanya sinergi dalam industri keuangan yang saling menopang satu sama lain, jangan terpisah-pisah dan harus  menjadi satu kekuatan membangun perekonomian,"tegas Sukro pada perayaan HUT ke 4 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) KR 5 Sumatera di lantai 9 Gedung Bank Indonesia (BI) Jalan Balai Kota Medan, Senin (23/11).

Sinergi yang dimaksud Sukro   seperti antara perbankan dan asuransi juga pasar modal. Banyak produk asuransi yang mendukung perbankan. Targetnya agar industri keuangan bersinergi yakni mampu membuat produk bagi masyarakat untuk kesejahteraan dan pembangunan. Pasalnya pertumbuhan industri keuangan sangat pesat . Ada 50 konglomerasi dan 229 industri jasa keuangan (perbankan, pasar modal, asuransi dan industri jasa keuangan non bank lainnya).

Secara nasional,katanya, ada enam KR yakni KR I Jakarta, KR II Bandung, KR III Surabaya, KR IV Semarang, KR V Medan dan KR VI Makasar. Untuk mendekatkan OJK dengan masyarakat, akan didirikan Kantor Regional (KR) baru di Sumatera Selatan.

Menurutnya, kini industri jasa keuangan, juga pasar modal aktif dalam mengembangkan alternatif investasi. Sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB), juga menunjukkan beberapa alternatif untuk bisa bersinergi dalam industri jasa keuangan lainnya seperti produk asuransi pertanian yang gilirannya mendukung sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Selain itu, OJK kini juga ada tugas baru dalam edukasi dan perlindungan konsumen. Dalam edukasi banyak yang dilakukan OJK seperti layanan keuangan tanpa kantor dalam rangka keuangan inklusif (Laku Pandai) ditujukan untuk meningkatkan industri keuangan di daerah. Sebab masyarakat di daerah masih banyak yang belum banyak tahu tentang perbankan.

Sejumlah bank sudah meluncurkan laku pandai seperti BRI Link (layanan transaksi keuangan tanpa kantor). BNI , BCA dan BPTN . Juga ada program jangkau, sinergi, dan guideline atau JARING dengan menggandeng bank, lembaga pembiayaan, perusahaan asuransi dan KADIN untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor kelautan dan perikanan.

"Di Sumut sebentar lagi juga segera  diluncurkan program JARING. Ini sangat membantu dalam meningkatkan transaksi keuangan di daerah," katanya.

OJK juga mengajak seluruh asosiasi keuangan seperti Perbanas, Perbarindo dan asosiasi pembiayaan lainnya agar bersatu, bersinergi membangun perekonomian di wilayah Sumatera. "Mari industri jasa keuangan bergandengan tangan untuk membangun perekonomian yang bersinambungan," katanya.

Dengan luasnya cakupan pengawasan itu maka OJK melihat bahwa penegakan good governance dalam sektor jasa keuangan menjadi modal utama dan terpenting dalam menunjang keberhasilan kemajuan perekonomian sebuah negara.

Secara nasional di industri keuangan non-bank sampai  semester I 2015,aset perusahaan asuransi mencapai Rp777 trilliun, aset perusahaan pembiayaan sebesar Rp435 triliun dan aset dana pensiun sebesar Rp195 triliun.

“Di perbankan sampai  Semester 1 2015 total aset bank umum sebesar Rp5.793 triliun atau 55 % dari GDP.  Sampai  Juli 2015 nilai kapitalisasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp4.522 trilliun atau sekitar 43 % dari GDP(Gross Domestic Produc), kapitalisasi obligasi telah mencapai Rp1.657 trilliun atau 16 % dari GDP. Semua itu diawasi OJK”,imbuhnya.(A2/c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru