Jakarta (SIB)- Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, siap menyambut penerbangan komersial pertama, hari ini, Jumat (10/1). Adalah maskapai Citilink yang melakukan penerbangan pertama di bandara tersebut.
Tak tampak keramaian sehari menjelang pengoperasian fungsi Halim sebagai bandara komersial. Bahkan, suasana bandara bisa dikatakan sepi.
General Manager Bandara Halim Perdanakusuma Iwan Krishadianto mengatakan Citilink menjadi maskapai komersial pertama yang beroperasi di bandara tersebut. Dua lainnya yaitu Garuda Indonesia beroperasi pada akhir Februari 2014 dan Air Asia di bulan Maret.
Menurut Iwan, setiap maskapai komersial yang melakukan pendaratan dan penerbangan di bandara tersebut harus menaati kesepakatan awal dengan TNI Angkatan Udara (AU). Sebab TNI AU kerap melakukan latihan penerbangan di sekitar bandara. Bandara pun sering menjadi tempat pendaratan atau pemberangkatan Presiden.
Kesepakatan itu berupa jadwal penerbangan dan keberangkatan atau slot sebagai berikut:
- dua jadwal kedatangan dan dua pemberangkatan mulai pukul 06.00-12.00
- tiga jadwal kedatangan dan tiga pemberangkatan mulai pukul 12.00-18.00
- dua jadwal kedatangan dan dua pemberangkatan mulai pukul 18.00-21.00
- tiga jadwal kedatangan dan tiga pemberangkatan mulai pukul 21.00-06.00.
“Kesepakatan slot itu juga tetap memperhatikan kepentingan TNI AU,†kata Iwan.
Bila ada jadwal mendadak, pihak bandara akan menyampaikan informasi tersebut pada setiap maskapai sepekan sebelumnya. Sementara pengamanan bandara melibatkan anggota TNI AU. Prosedur pengamanan sama dengan bandara internasional.
KEBIJAKAN YANG DIRAGUKANSementara, Chappy Hakim menilai bagaimanapun strateginya, pengalihan penerbangan komersial yang merupakan “buangan†dari Soekarno Hatta (Soetta) ke Halim akan mengganggu aktivitas TNI AU dan penerbangan komersial itu sendiri. Karena bandara tidak hanya menjadi bandara pesawat carter, VVIP melainkan menjadi kawasan pertahanan nasional.
“Dalam kawasan bandara ada markas besar komando pertahanan udara nasional antara lain skuadron udara, skuadron teknik pemeliharaan pesawat dan sekolah penerbangan,†ujarnya.
Chappy sekilas menjelaskan, Halim pada awalnya dulu hanya menampung sementara pelayanan penerbangan komersial ketika menunggu selesainya pembangunan bandara Soetta.
Di Halim hanya memiliki satu Runway, dan tidak ada tersedia Taksi Way (tempat pesawat menunggu/antri sebelum ke jalur runway untuk take off). Tidak ada apron untuk parkir pesawat layaknya bandara komersial.
Sementara itu, bandara itu cukup susah untuk diakses diakibatkan akan terjadi rawan macet di beberapa titik apabila bandara dibuka bagi masyarakat, keluhnya.
Chappy justru menuding pemerintah seenaknya mengambil keputusan (pemindahan) ke Halim tanpa terlebih dulu membuka apa permasalahan yang menyebabkan kepadatan penerbangan di Bandara Soetta sehingga mengancam keselamatan manusia. Padahal yang menjadi pemicunya adalah pemberian izin yang berlebihan karena ingin duit saja walaupun mengenyampingkan keselamatan. Lalu setelah jadi masalah, seenaknya memutuskan pindah ke Halim tanpa mengajak diskusi (elemen stake holders-red).
Rute Penerbangan Komersial Tiga maskapai yang mengalihkan rute penerbangan komersialnya dari Bandara Soetta ke Halim adalah Citilink, Garuda Indonesia dan Air Asia. Namun, tiga maskapai ini mulai beroperasi pada watku yang berbeda. Setidaknya, antar maskapai memulai perjalanan dari Bandara Halim dengan selisih waktu satu bulan.
Berikut rencana daftar rute dari tiga maskapai penerbangan yang akan dialihkan dari Bandara Soetta ke Bandara Halim Perdanakusuma berdasarkan rilis Kementerian Perhubungan yang diterima kemarin:
Citilink (Pesawat Airbus A320) - 10 Januari 2014 : 1. Rute Halim-Yogyakarta, 2. Rute Halim-Semarang, 3. Rute Halim-Malang
Garuda Indonesia (Boeing 737) - Februari 2014 : 1. Rute Halim-Surabaya, 2. Rute Halim-Semarang, 3. Rute Halim-Palembang, 4. Rute Halim-Yogyakarta, 5. Rute Halim-Pontianak.
Air Asia (Airbus A320) - Maret 2014 : 1. Rute Halim-Yogyakarta, 2. Rute Halim-Medan, 3. Rute Halim-Surabaya.
Pada tahap awal, maskapai Citilink menjadi maskapai pelopor yang mengalihkan penerbangan domestiknya melalui bandara ini. Baru kemudian Garuda Indonesia pada Febuari 2014, dan Indonesia Air Asia pada Maret 2014.
Dari sisi fasilitas bandara udara, saat ini Bandara Halim sudah menyediakan tiga parking stand untuk pesawat sejenis B-737-800 NG /B 737-900 dari 13 parking stand yang ada.
Mengingat Bandara Halim saat ini peruntukannya tidak hanya bagi penerbangan komersial namun juga melayani penerbangan militer dan VIP, kapasitas runway di bandara ini secara keseluruhan adalah 12 pergerakan setiap jam dengan slot time yang tersedia saat ini sebanyak 126 slot untuk pengoperasian 24 jam.
Tarif Bus Untuk mempermudah akses bagi calon penumpang, Kementerian Perhubungan akan menyediakan transportasi bus Damri ke bandara.
“Bus Damri akan kami operasikan dari 7 titik dan jika kurang akan ditambah,†kata Menteri Perhubungan, EE Mangindaan di Jakarta, kemarin.
Adapun tujuh titik itu adalah di Rawamangun, Bogor, Cengkareng, Bekasi, Depok, Pulogebang dan Gambir. Selain Damri, Mangindaan mengungkapkan, PT Angkasa Pura II juga telah bekerja sama dengan lima perusahaan taksi.
Berikut tarif layanan bus Damri ke Bandara Halim Perdanakusuma: 1. Dari Cengkareng, Bandara Soekarno-Hatta (Rp30 ribu), 2. Dari Rawamangun (Rp20 ribu), 3. Dari Gambir (Rp25 ribu), 4. Dari Bekasi (Rp25 ribu), 5. Dari Bogor (Rp30 ribu), 6. Dari Depok (Rp30 ribu), 7. Dari Pulogebang (Rp25 ribu).
(dari berbagai sumber/Dik2/f)