Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 23 September 2026

Gugus Tempur AS Batal ke Korea dan Lintasi Selat Sunda

* JK: Ketegangan Semenanjung Korea Rumit, Kita Bisa Kena Akibat
- Kamis, 20 April 2017 11:12 WIB
491 view
Selat Sunda (SIB)- Gugus tempur Angkatan Laut Amerika Serikat yang terdiri dari sebuah kapal induk dan kapal perang lainnya ternyata tidak berlayar menuju Korea Utara.

Berbeda dari yang diumumkan sebelumnya, kapal USS Carl Vinson ternyata sedang berbalik arah menuju yang berlawanan, yakni ke Australia.

Pada 8 April 2017, Angkatan Laut AS mengatakan, USS Carl Vinson diarahkan menuju ke Semenanjung Korea, sebagai langkah kesiagaan.

Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan sedang mengerahkan sebuah armada.

Namun, armada dimaksud justru bergerak menjauh selama akhir pekan lalu, dan mengarah ke Samudera Hindia melalui Selat Sunda.

Komando Pasifik AS, Selasa (18/4), mengatakan bahwa mereka telah membatalkan rencana berlabuh di Perth, dan sudah menyelesaikan pelatihan yang dijadwalkan bersama Australia setelah meninggalkan Singapura pada 8 April.

Gugus tempur itu sekarang melanjutkan perjalanan ke Pasifik Barat seperti yang diperintahkan.

Tidak jelas apakah hal itu merupakan langkah pengecohan yang disengaja, yang mungkin dirancang untuk menggertak pemimpin Korut, Kim Jong Un, atau memang perubahan rencana atau malah sekadar miskomunikasi saja.

Pengerahan gugus tempur ini membuat hubungan Korut dan AS makin menegang selama beberapa pekan terakhir, bahkan Korut mengancam untuk melancarkan serangan nuklir.

Korut menggelar unjuk kekuatan militer sebagai bagian dari parade selama akhir pekan lalu dan menguji coba rudal lain, Minggu (16/2), namun meledak segera setelah peluncuran, kata Pentagon.

AS menuduh Korut mencoba untuk melakukan provokasi, dan Menteri Pertahanan AS James Mattis menyebut uji coba yang gagal ittu merupakan langkah gegabah.

Pyongyang mengatakan mereka tidak gentar pada AS, dan siap menguji-coba rudal setiap minggu, dan memperingatkan "perang habis-habisan" jika AS mengambil tindakan militer.

"Jika AS merencanakan serangan militer terhadap kami, kami akan bereaksi dengan serangan-serangan pendahuluan menggunakan nuklir dengan gaya dan metode kami sendiri," kata Wakil Menteri Luar Negeri Korut, Han Song Ryol.

Kita Bisa Kena Akibat
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK menganggap memanasnya situasi di Semenanjung Korea adalah perkara yang rumit. Meski begitu dia berharap negara-negara yang terlibat langsung dalam situasi itu bisa segera mencari penyelesaian damai.

"Ini memang serba sulit di Korea itu," kata JK di Kantor Wapres, Jakarta. Dia mengatakan status Korea Utara yang didukung Cina dan Rusia dan Korea Selatan yang didukung Barat hingga kini masih perang. Status yang ada hanyalah genjatan senjata (cease fire). "Jadi ini masalah yang sudah 60 tahun juga masalah itu. Itu bukan masalah baru juga antara pertengkaran," kata Kalla.

Kalla berharap ketegangan bisa segera mereda, sebab situasi memanas bisa berpengaruh ke kawasan termasuk pada Indonesia. "Kita kan berpengaruh juga, tapi ya, cukup jauh," kata Kalla. (Kps/T/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru