Washington (SIB) -Lebih dari 11 ribu orang di Amerika tewas akibat kekerasan menggunakan senjata api pada 2016. Jumlah akibat kejadian tragis yang terus berulang ini mencapai dua pertiga dari keseluruhan pembunuhan. Banyaknya kasus penembakan di Amerika Serikat mengingatkan kembali langkah yang pernah dilakukan Partai Demokrat.
Anggota kongres dari Partai Demokrat tahun 2016 mendesak dilakukannya voting terhadap undang-undang kepemilikan senjata. Mereka bahkan melakukan aksi duduk di lantai dan menolak keluar dari ruang rapat paripurna jika tidak dilakukan voting.
Hampir 100 wakil rakyat duduk di lantai meminta agar pengecekan latar belakang 'calon' pemilik senjata api dilakukan lebih dalam. Mereka juga mendesak agar senjata dilarang dijual kepada terduga pelaku teror. Ketua DPR Amerika, Paul Ryan, saat itu menyebut itu merupakan "aksi berlebihan untuk menarik perhatian masyarakat".
Ryan menyampaikan kepada CNN bahwa ia tidak akan mendukung dalam pemungutan undang-undang kepemilikan senjata, di DPR. "Mereka (anggota DPR dari Partai Demokrat) tahu bahwa kami tidak akan mengesahkan RUU yang akan merampas hak warga negara yang dijamin konstitusi tanpa proses terlebih dahulu," katanya.
Meski perdebatan penguasaan senjata berjalan alot, Barack Obama yang saat masih menjabat sebagai presiden, mengeluarkan aturan yang memperketat kepemilikan senjata. Kebijakan baru tersebut juga termasuk aturan mengenai keharusan setiap penjual untuk mengantongi lisensi resmi.
Menurut kebijakan tersebut, Badan Pengatur Alkohol, Tembakau, Senapan dan Bahan Peledak Amerika Serikat, akan melakukan pemeriksaan latar belakang bagi setiap individu yang hendak membeli senjata api termasuk membeli secara online.
Di Amerika, kepemilikan senjata api dijamin oleh konstitusi, di mana diperkirakan ada sekitar 300 juta senjata api yang beredar di negara ini atau berarti hampir setiap orang dari 322 juta warga Amerika memiliki senjata api. Namun kepemilikan ini terpusat hanya pada sepertiga warga Amerika di mana salah seorang anggota keluarga memiliki senjata api.
Senjata api dijual di ribuan toko di Amerika, dari toko-toko kecil hingga jaringan raksasa seperti Walmart, penjual senjata api terbesar di Amerika. Ada lebih dari 54 ribu penjual senjata api yang terdaftar secara resmi di Amerika, 7.800 toko pegadaian dan 2.000 hingga 5.000 pameran senjata api setiap tahun.
Mereka yang membeli senjata api dari toko yang terdaftar, diharuskan menjalani pemeriksaan latar belakang singkat oleh pihak federal dan dirancang supaya tidak memakan waktu lebih dari 30 detik, dan jika pembelian itu tertunda maka transaksi masih bisa terlaksana apabila FBI tidak menyatakan keberatan dalam tiga hari.
Ada beberapa kategori bagi penolakan pembelian senjata, termasuk pembeli yang pernah dijatuhi hukuman penjara satu tahun atau lebih, buronan, pelanggar narkoba, orang yang oleh pengadilan dinilai secara mental tidak kompeten, warga ilegal, dan orang yang dipecat dari militer secara tidak hormat.
Di masa kepresidenan Donald Trump, perdebatan kepemilikan senjata juga masih berjalan alot menyusul insiden penembakan brutal di Las Vegas Oktober lalu yang menewaskan puluhan orang. Menurut survei yang dilakukan Pew Research Center belum lama ini, mayoritas warga Amerika mendukung pembatasan penjualan senjata, termasuk tindak pemeriksaan latar belakang dan dibuatnya database federal untuk melacak pembelian. Tapi pihak Partai Republik di Kongres memilih melonggarkan undang-undang senjata dalam beberapa tahun terakhir daripada memperketatnya.
Teridentifikasi
Peristiwa penembakan massal di gereja First Baptist Church di Sutherland Springs, Texas, Amerika Serikat, menewaskan 26 orang. Sebanyak 8 orang korban yang meninggal dunia sudah teridentifikasi. Dilansir dari AFP, Kamis (9/11), pengumuman tersebut disampaikan Wakil Presiden AS Mike Pence saat bertemu dengan korban selamat dan keluarga korban. Rencananya, Pence juga akan menghadiri ibadah malam.
Adapun korban tewas dalam peristiwa tersebut berusia antara satu hingga 77 tahun. Di antaranya terdapat anak yang belum lahir dari seorang ibu hamil bernama Crystal Holcombe. Anggota keluarga Holcombe lainnya juga menjadi korban dalam peristiwa itu, yakni Nuh Holcombe.
Dalam peristiwa itu, terdapat 20 orang lainnya yang mengalami luka-luka. Salah satu warga yang terluka, Roseanne Solis mengatakan kepada San Antonio Express-News, bahwa dia dan warga lain meringkuk di bawah bangku saat pria bersenjata itu melakukan penembakan membabi buta.
Roseanne mengatakan dia sempat mendengar suara anak laki-laki meneriakkan nama ibunya saat penembakan tersebut berhenti, namun tidak ada tanggapan.
Selanjutnya penembakan itu kembali berlanjut. "Saya tahu jika saya pindah, maka saya akan mati. Saya merasa bersalah karena saya bertahan dan semua anak kecil ini tidak memiliki kesempatan," ujar Roseanne.
Sementara itu ada 7 anak meninggal dunia ketika tim evakuasi tiba. Salah satunya Emily Garcia (7) yang meningggal di rumah sakit. Pelaku penembakan yang bernama Devin Patrick Kelley tewas karena luka tembakan di kepala oleh dia sendiri.
Sementara itu legislator negara bagian Texas, Nicole Collier mengatakan isu kekerasan senjata harus mulai ditangani. Sebab banyaknya peristiwa serupa terjadi di AS. "Kita harus memulai proses menangani kekerasan senjata, dan kita harus melakukannya hari ini," ujar Nicole saat konferensi pers di Ibu Kota negara bagian Austin.
Sebelumnya, pelaku penembakan brutal di gereja Texas, Amerika Serikat (AS), Devin Patrick Kelley pernah melarikan diri dari fasilitas kesehatan mental pada tahun 2012. Di tahun yang sama, diketahui, Kelley juga pernah dinyatakan bersalah oleh pengadilan militer Angkatan Udara AS atas kasus kekerasan dalam rumah tangga karena menyerang istri dan anak tirinya.
(berbagai sumber/f)