Jakarta (SIB) -Polisi menilai peristiwa ambruknya selasar di Tower II gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai freak accident atau kecelakaan yang aneh. Polisi akan menyelidiki faktor penyebab ambruknya selasar dengan memeriksa blueprint gedung dan kontraktor.
"Kalau orang Barat biasa sebut freak accident, kejadian aneh, 'nggak mungkin ah, tapi kejadian'. Kalau ini bangunan tua, ya iyalah. Tapi bangunan sebagus itu, ini menurut saya aneh tapi nyata," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (15/1).
Setyo menjelaskan dalam blueprint akan terlihat gedung BEI dibangun dengan kekuatan yang bisa bertahan berapa tahun. Jika bagian gedung roboh lebih cepat daripada batasan usia yang ditentukan, wajar bila ada kemungkinan kecerobohan pemeliharaan gedung.
"Bangunan punya blueprint. Pasti ada kekuatannya untuk berapa tahun. Misalnya kekuatannya dibangun untuk 25 tahun. Nah ini belum sampai 25 tahun (sudah roboh), lah ini ada apa. Pertanyaannya seperti itu," ujar Setyo.
"Gedung tinggi ada waktu tertentu dicek. Nggak mungkin nggak dicek. Memang ini mungkin lolos pengamatan. Freak accident tadi," tandas dia.
Setyo mengatakan saat ini kegiatan yang dilakukan kepolisian di tempat kejadian perkara masih fokus pada evakuasi korban. "Masih evakuasi, yang penting selamat dulu," imbuh dia.
Jadi 72 Orang
Polri memperbarui jumlah korban luka akibat selasar gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) ambruk. Total korban luka tercatat 72 orang.
"Kita update jumlah korban 72 orang," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto.
Para korban luka ditangani di sejumlah rumah sakit, yakni 28 orang di RS Siloam, 17 orang di RSAL Mintohardjo, 20 orang di RS Jakarta, 7 orang di RS Pusat Pertamina, dan 1 orang di RS Tarakan.
Ada 5 orang yang sudah diperbolehkan pulang. " Ada korban yang patah tulang masih dirawat," sebutnya.
Polisi masih menyelidiki penyebab ambruknya selasar di gedung BEI pada pukul 11.56 WIB. Selasar di lantai 1 Tower II ambruk saat puluhan mahasiswa tengah mencari ruangan dalam rangka kunjungan.
Terkait peristiwa ini, Polri meminta masyarakat tidak menyebarkan video detik-detik ambruknya selasar. "Saya imbau mohon jangan disebarluaskan karena ini tidak etis. Kalau itu keluarga kita atau kerabat, pasti kita tidak tega. Demi kemanusiaan, saya mohon tidak menyebarkan video," sambung Setyo.
DIKUNJUNGI MAHASISWA
Sebelumnya, seorang pekerja di Tower II Bursa Efek Indonesia (BEI), Sugeng (35), sempat melihat sejumlah mahasiswa berdiri di selasar sesaat sebelum selasar ambruk. Mahasiswa tersebut sedang melakukan kunjungan ke kantor BEI.
Setelah melihat mahasiswa tersebut, Sugeng kemudian menuju kantornya yang berada di lantai 16. Namun, sesaat setelah itu, dia mendengar suara gemuruh. Dia kemudian kaget melihat selasar sudah ambruk.
"Selasarnya itu sudah kayak gitu (ambruk). Saya juga lihat tuh ada tamu dari anak-anak mahasiswa juga yang berkunjung pada berdiri di selasar. Tadi pas saya lihat sebelum ambruk," ujar Sugeng.
Menurut Sugeng, suara selasar jatuh terdengar dari lantai 16 kantornya, seperti suara barang yang jatuh. Suara tersebut hanya terdengar sesaat.
"Suara kayak orang bawa barang jatuh gitu. Bentar doang kok suara itu," katanya.
Sesaat setelah selasar jatuh, lift di gedung kemudian tidak aktif. Karyawan yang panik langsung berlarian lewat tangga darurat.
"Setelah itu lift nggak bisa, langsung karyawan-karyawan lewat tangga darurat," ucapnya.
Menurut Sugeng, peristiwa tersebut terjadi pada pukul 12.02 WIB. Di awal, dia sempat tak menduga suara gemuruh berasal dari selasar yang ambruk.
"Tadi sekitar jam 12.02 WIB saya dengar ada suara gemuruh gitu. Awalnya saya biasa aja saya kira tuh ada proyek gitu," imbuhnya.
Kaca Bank Dipecahkan
Kaca Bank BCA sempat dipecahkan petugas pemadam kebakaran untuk mengevakuasi korban akibat ambruknya selasar Tower II Bursa Efek Indonesia (BEI).
Para korban dievakuasi lewat tangga.
Informasi tersebut disampaikan salah seorang saksi mata, karyawan asuransi AIG bernama Ari (39), kepada wartawan di gedung BEI, Jakarta.
"Tadi ada petugas pemadam yang mecah kacanya terus keluarin karyawan. Saya lihat sendiri. Katanya ada karyawan yang nggak bisa keluar, terus sebagian keluar lewat situ," ujarnya.
Menurut Ari, hanya sebagian kecil karyawan yang dievakuasi lewat tangga melalui lubang di kaca yang dibuat tersebut. Sebagian besar menyelamatkan diri lewat tangga darurat atau jalur evakuasi.
Ari mengatakan suasana saat kejadian begitu mencekam. Seperti sejumlah saksi lainnya, dia mengaku mendengar suara gemuruh saat selasar Tower II BEI ambruk.
DITanggung BPJS
Korban akibat insiden selasar ambruk di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta Selatan, ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan. Korban yang ditanggung adalah korban yang sudah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan.
"Yang sudah terdaftar langsung ditangani oleh BPJS Ketenagakerjaan," ujar Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Jakarta-Gambir, Singgih Marsudi.
Dia mengatakan, bagi yang belum terdaftar BPJS, nantinya akan diurus oleh pemerintah. Dia mengatakan, pihaknya pasti akan fokus pada korban baik yang terdaftar ataupun tidak.
"Yang belum daftar nanti ada perubahan sendiri di situ ada pemerintah melalui BPJS Ketenagakerjaan," ucapnya.
Singgih menjelaskan, korban yang terdata ada 72 orang dan kondisinya luka-luka. Dia menegaskan, korban akan dicover BPJS hingga kondisinya sembuh.
"Mereka yang sudah tercover dari BPJS ketenegakerjaan semua ditanggung BPJS semua sampai dengan sembuh, unlimited," ujar Singgih.
Habis Bulan Ini
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) Tower II Bursa Efek Indonesia (BEI) akan habis bulan ini. Kelaikan gedung dicek terakhir kali oleh Pemprov DKI pada Mei 2017.
"Inspeksi dilakukan, izin terakhir itu keluar di situ. SLF-nya itu berlaku sementara dan akan berakhir pada tanggal 25 Januari 2018. Jadi 10 hari dari sekarang," kata Anies saat jumpa pers di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.
Anies mengatakan hasil inspeksi dinyatakan bahwa gedung tersebut memenuhi standar. Hingga kemudian, Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI memberikan rekomendasi penerbitan SLF.
"Secara umum gedung tidak ada permasalahan. Dan digarisbawahi di situ bahwa surat ini layak, SLF ya, di sini ada, sertifikat laik fungsinya itu di dalam rekomendasi teknis oleh Dinas Penataan Kota. Dikatakan bahwa diberikan rekomendasi untuk penerbitan perpanjangan sertifikat laik fungsi di PTSP dengan catatan bahwa rekomendasi teknis ini hanya menyatakan kelaikan fungsi bangunan," papar Anies.
Pada saat inspeksi terakhir tim Pemprov DKI memang tidak bisa mengecek seluruh gedung. Namun, menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Edy Junaedi, rekomendasi penerbitan SLF tetap diberikan karena pengelola gedung memiliki jaminan yakni Izin Pelaku Teknis Bangunan (IPTB).
"Ya, jadi pada saat dilakukan inspeksi tanggal 25 Mei 2017 itu sedang ada aktifitas bursa di sana, sehingga tidak seluruhnya memang diperiksa. Namun, itu ada penjamin struktur dari IPTB yang melakukan daily checking dan mereka menjamin bahwa struktur yang ada di seluruh gedung tersebut sudah sesuai dengan peraturan kehandalan bangunan. Jadi mereka menjamin," terang Edy.
(detikcom/h)