Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 April 2026
H3 Galang Donasi dari Komunitas Sekitar Rp 300 Juta

Ketum H3 Dumoly Pardede: Tragedi Kapal Tenggelam Cermin dari Tragedi Berbagai Aspek di Danau Toba

* Ajak Semua Pihak Berpartisipasi Berbenah Total
- Minggu, 01 Juli 2018 11:19 WIB
624 view
Ketum H3 Dumoly Pardede: Tragedi Kapal Tenggelam Cermin dari Tragedi Berbagai Aspek di Danau Toba
SIB/Victor Ambarita
Foto bersama menutup Konser Peduli Kasih Duka Danau Toba bertajuk “Hidup Ini Adalah Kesempatan” yang digelar oleh Komunitas Horas Halak Hita (H3) bersama para artis Batak di Toba Dream Cafe, Jakarta, Jumat malam, (29/6). Nampak dalam gambar, antara lain,
Jakarta (SIB)  -Komunitas "Horas Halak Hita" (H3) menggelar Konser Peduli Kasih Duka Danau Toba bertajuk "Hidup Ini Adalah Kesempatan" di Toba Dream Cafe, Jakarta, Jumat, (29/6). 

Acara dimulai dengan ibadah dengan liturgis, Pdt Eldarton Simbolon (Pendeta Resort HKBP Duren Sawit), dan renungan Firman Tuhan dibawakan Pdt Welman Tampubolon (Pendeta Resort HKBP Jatiwaringin).

Komunitas H3 menggagas konser ini bekerjasama dengan para artis Batak, Toba Dream Cafe dan Roma Catering. Nampak para artis Batak yang hadir, antara lain, Trio RNB, Rita Butarbutar, Jack Marpaung, Novita Dewi dan Amigos Band. Pada malam itu diadakan pengumpulan dana guna sebagai bentuk kepedulian kepada korban tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba.

Sedangkan sumbangan masih terus berdatangan hingga berita ini diturunkan, sudah mencapai Rp 262 juta lebih serta 1.000 Yen dan 800 dolar AS.

Penyumbang yang sudah mencapai hampir 70 orang terdapat diantaranya Ketum Komunitas H3 Dumoly F Pardede, juga Pemimpin Redaksi Harian Sinar Indonesia Baru GM Immanuel Panggabean, yang disampaikan oleh Kepala Biro Redaksi DKI Jakarta, Josmar Naibaho. Sedangkan Maruarar Sirait penyumbang terbesar sebesar Rp 50 juta.   

TRAGEDI BERBAGAI ASPEK
Dumoly Pardede, dalam sambutannya, mengajak para hadirin untuk bersatu membantu para korban tenggelamnya kapal di Danau Toba tersebut.

"Semua komunitas Batak pasti merasakan betul air mata mengalir atas tragedi ini. Ini saatnya kita berbagi. Mari kita bersatu dan saling mendukung serta peduli atas tragedi tersebut sekaligus jadikan momen ini bagi bangkitnya Bangso Batak," ujar Dumoly.  

Ia juga menekankan perlunya bercermin dari tragedi ini. Dari sambutan-sambutan yang disampaikan pada acara itu, antara lain oleh Hinca Siburian, Ketua Panitia, Wakil Artis maupun Anton Sihombing, dapat dicernai bahwa peristiwa tenggelamnya kapal di Danau Toba merupakan peristiwa kolektif yang membutuhkan perubahan secara menyeluruh. 

Bukan merupakan hanya peristiwa tenggelamnya kapal, tapi masih banyak tragedi tragedi lain seperti kerusakan lingkungan, kerusakan attitude/sikap dan etika masyarakat, apatisme yang berlebihan, moral conduct, aparat yang korup, kehidupan yang masih di bawah standard, kapital/investasi yang masih rendah, dan soft skill (keterampilan) yang masih belum terbangun. 

Pemikiran pemikiran dari kaum intelektual sangat diperlukan untuk berkontribusi dalam menghadapi masalah pembangunan Danau Toba ini.

Ini memerlukan keterpanggilan, bukan pekerjaan yang mengharapkan reward (imbalan), imbuhnya.

Kalau kita terpanggil maka semua akan mudah berjalan. Team work H3 dari atas ke bawah diperlukan. Mau atau tidak mau. Mari berbuat sesederhana apa pun untuk membangun keseluruhan Danau Toba. Itu bukan hanya milik orang Batak tapi milik semua masyarakat Indonesia, ujar Dumoly seraya menyampaikan terimakasih kepada semua pihak termasuk para donatur.

SESALKAN BASARNAS
Sementara Anggota DPR RI, Anton Sihombing, yang terjun langsung ke lokasi usai tragedi tersebut merasakan betul duka mendalam yang dialami para keluarga korban. 

Bahkan, lanjut Anton, ketika presiden mengutus menteri sosial dengan membawakan bantuan, para keluarga korban pun langsung berteriak, "Kami tak butuh uang, tapi saya mau ketemu anak saya (yang menjadi korban tenggelamnya kapal tersebut) ". 

Sebagai wakil rakyat yang kini membidangi tentang pelayaran, Anton menegur keras kepala dinas Basarnas di kawasan Danau Toba yang sangat lambat menolong para korban yang kapalnya tenggelam tersebut. 

"Kenapa kejadian kapal tenggelam pukul 16.00 WIB, kapal Basarnas tiba ke lokasi kapal tenggelam pukul 19.20 WIB. Tiga jam (Basarnas baru sampai ke tempat tenggelamnya kapal), padahal kala itu kapal Basarnas ada sekitar Ajibata. Pun ternyata, dana APBN kini telah dianggarkan untuk mengatur lalu lintas di Danau Toba, yakni untuk Simanindo Rp30 miliar, Tigaras Rp11 miliar dan Ajibata Rp36 miliar," tandasnya. (J03/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru