Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 16 Oktober 2026

Rantauprapat Diselimuti Kabut Asap, Anak-anak Sesak Nafas Sampai Muntaber

- Senin, 06 Agustus 2018 10:14 WIB
473 view
Rantauprapat Diselimuti Kabut Asap, Anak-anak Sesak Nafas Sampai Muntaber
SIB/Efran Simanjuntak
KABUT ASAP: Pengendara sepedamotor ‘menerobos’ kabut asap tebal saat melintas dari Jalan Belibis Keluharan Urungkompas Kecamatan Rantau Selatan Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu, Minggu (5/8) pagi.
Rantauprapat (SIB)- Kabut asap tebal menyelimuti Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu. Kabut asap itu sudah seminggu menimpa daerah ini. Telah banyak warga menderita batuk, flu, pilek dan gangguan pernafasan. Anak-anak bahkan banyak yang sesak nafas hingga muntaber dan sakit kepala.

Kabut asap tebal yang nampak kasat mata setiap pagi, sangat mengganggu jarak pandang pengendara, apalagi sepedamotor. Jarak pandang diperkirakan hanya berkisar 30 meter. Kabut asap ini diduga akibat kebakaran hutan di daerah Riau.

Agus, warga Padangpasir mengaku, kabut asap sudah lebih seminggu. Jarak pandang pun cuma 30 sampai 40 meter. Yang paling kasihan kita, anak-anak banyak yang jadi sakit kepala, kemudian muntaber dan sesak nafas.

Pengakuan warga tersebut diakui petugas-petugas medis di RSUD Rantauprapat. Para perawat tersebut menyebut pihaknya saat ini banyak menangani pasien anak-anak yang awalnya menderita sakit kepala hingga muntaber.

Perawat mengatakan, banyak pasien anak-anak yang muntaber. Kata orangtua pasien, anak-anak itu awalnya sakit kepala dan sakit perut kemudian muntaber. Takut dehidrasi, orangtuanya membawa ke rumah sakit dan opname 3 sampai 4 hari.

Guntur MJ Ginting menyebut, kabut asap sangat berbahaya untuk kesehatan, apalagi untuk anak-anak dan yang punya riwayat penyakit jantung. Dia menyebut beberapa penyakit yang dipicu paparan kabut asap yang terlalu lama atau intens yaitu asma.

Pada pasien dengan riwayat atau kecenderungan asma, serangan sesak nafas dapat terjadi karena adanya benda asing pemicu alergi, terutama yang terhirup saluran nafas. Partikel kecil yang terkandung dalam kabut asap dapat masuk ke saluran pernafasan, serperti rokok, sehingga memicu terjadinya peradangan di saluran nafas dan memicu sesak nafas. Warga yang mengidap asma, terutama anak-anak, adalah kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap ancaman kabut asap.

Kemudian, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), merupakan penyakit yang ditandai dengan keterbatasan jalan udara yang progresif dan tidak dapat sepenuhnya bisa pulih kembali, seperti bronkhitis kronis dan emfisema. Kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan bisa berakibat fatal pada penderita PPOK, karena mengurangi kinerja paru-paru. Semakin lama pasien terpapar kabut asap, semakin besar juga risiko kematian.

Selain itu, ISPA dan pneumonia. Pada dasarnya, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) serta peneumonia disebabkan oleh adanya infeksi bakteri/virus. Kabut asap membawa partikel dan gas yang dapat mengganggu, misalnya senyawa yang mengandung zat-zat berbahaya seperti karbon monoksida. Akibat paparan kabut asap, biasanya kemampuan paru-paru untuk menangani infeksi menjadi lebih rendah. Selain itu hal ini juga ditambah dengan adanya peradangan pada saluran nafas, penurunan daya tahan tubuh, serta faktor lingkungan, sehingga tubuh menjadi lebih mudah terkena infeksi.

Kemudian, kabut asap dapat memicu gangguan jantung, seperti henti jantung dan gangguan jantung iskemik. Hal ini dapat terjadi dengan paparan singkat (beberapa jam) atau paparan jangka panjang (beberapa tahun). Berdasarkan penelitian, partikel kecil hasil pembakaran yang berukuran 2,5 mikrometer atau kurang dapat terhisap dan masuk ke dalam aliran darah. Partikel yang disebut dengan PM2,5 ini dihubungkan dengan terjadinya proses inflamasi dan gangguan jantung. 

Kabut asap terdiri dari udara kotor dan partikel kecil. Dalam bentuk yang paling ringan, paparan kabut asap bisa menyebabkan iritasi pada mata, tenggorokan, hidung serta menyebabkan sakit kepala atau alergi.

Bahaya kabut asap disimpulkan, sulit bernafas, kerusakan paru-paru, cepat lelah, batuk dan iritasi tenggorokan, memperburuk gejala asma, infeksi pada sistem pernafasan menyebabkan ISPA, berdampak pada kinerja jantung, iritasi mata dan kanker paru-paru.

Guntur menyarankan masyarakat menghindari bahaya kabut asap. Misalnya, menghindari aktivitas terlalu lama di luar rumah atau gedung, terutama bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung dan gangguan pernafasan, menggunakan masker untuk mencegah masuknya partikel berbahaya melalui pernafasan, minum banyak air putih, bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung dan gangguan pernafasan segera konsultasi dengan dokter, menerapkan pola hidup sehat, makan makanan bergizi, istirahat cukup, tidak merokok dan memerhatikan kebersihan makanan yang akan dikonsumsi, mengupayakan agar polusi udara tidak masuk ke ruangan tertutup, dan memastikan tempat air minum dan makanan terlindung dengan baik. (BR6/h)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru