Jakarta (SIB)- Mahfud Md buka-bukaan soal cerita di balik kegagalan dirinya menjadi cawapres untuk mendampingi Joko Widodo (Jokowi). Mahfud Md 'dijegal' lewat 'label' kader NU termasuk adanya ancaman NU meninggalkan Jokowi di Pilpres 2019.
Mahfud Md dalam program Indonesia Lawyers Club tvOne, Selasa (14/8) malam memaparkan dinamika politik terkait pemilihan cawapres. Selain soal komunikasi dirinya dengan pihak Istana, Mahfud juga pernah ditemui Ketum PBNU Said Aqil Siroj.
"Saya ketemu Pak Aqil Siroj pada hari Rabu (8/8), saya bilang Pak Aqil itu NU ngeluarkan surat pernyataan begitu harus kader 4 orang. OK, saya tidak keberatan tapi juga kalau presiden mau di luar itu, tidak menolak," kata Mahfud.
Dalam pertemuan dengan Said Aqil Siroj, Mahfud menyinggung pernyataan soal dirinya yang diberi label bukan kader NU. "Saya bilang apa juga haknya NU itu mengancam-ngancam kalau bukan kader NU, NU akan tidur. NU akan meninggalkan pemerintah. Apa betul ada begitu," kata Mahfud mengulangi pembicaraannya dengan Said Aqil.
Mahfud Md bicara soal pernyataan Ketua PBNU Robikin Emhas pada Rabu (8/8) yang menyatakan NU akan meninggalkan Jokowi bila cawapres yang dipilih bukan kader NU. Pernyataan ini disebut Mahfud memunculkan 'kegaduhan'
"Lalu dibantah (Said Aqil), (yang bicara), nggak ada pernyataan itu. Padahal pernyataan itu ada Robikin yang menyatakan dan yang menyuruh itu Kiai Maruf Amin. Bagaimana saya tahu Kiai Maruf Amin? Muhaimin yang bilang ke saya. Hehehe...ini saya ceritain, menarik ini ceritanya, loh saya memang jujur sih," lanjut Mahfud.
Konfirmasi soal label kader NU dan ancaman NU meninggalkan Jokowi ditanyakan langsung saat Mahfud bertemu Muhaimin Iskandar di restoran, Jl. Taman MPU Sendok, Kebayoran Baru, Jaksel. Mahfud mengaku dipertemukan dengan Cak Imin atas inisiatif eks Waketum PBNU As'ad Said Ali.
"Ketemu lah saya dengan Muhaimin. Di situ Muhaimin mengatakan Pak Mahfud kita dipermainkan politik...," kata Mahfud.
"Terus saya tanya gimana itu main ancam-ancam? Nggak itu yang nyuruh Kiai Ma'ruf katanya. Gimana ceritanya? Gini katanya, biar clear ya, Rabu jam 11 atau jam berapa Kiai Ma'ruf dipanggil oleh presiden, Aqil Siroj dipanggil oleh presiden, Muhaimin dipanggil," lanjut Mahfud.
Dalam pertemuan dengan Jokowi, Muhaimin--dijelaskan Mahfud-- bicara soal Jokowi yang tidak menyebut nama cawapres dalam pertemuan terpisah dengan tiga tokoh tersebut.
"Nah ketemu tiga orang ini di PBNU dan berkesimpulan berarti bertiga ini bukan calonnya karena waktu dipanggil tidak disebut calon. Lalu mereka sepertinya marah-marah dan membahas. Kemudian Kiai Ma'ruf kalau gitu kita nyatakan kita tidak bertanggungjawab secara moral atas pemerintah ini kalau bukan kader NU yang diambil. Ini kata Muhaimin, Robikin bilang begitu ke pers, datang Robikin ini kata Muhaimin. Didikte kalimatnya oleh Ma'ruf Amin," sambung Mahfud menegaskan pernyataannya ini didapat dari perbincangan dengan Cak Imin.
"Itulah permainan," sebut Mahfud Md
Tapi Mahfud Md menegaskan, persoalan kegagalan dirinya menjadi cawapres sudah diselesaikan personal dengan Jokowi. Mahfud bertemu Jokowi di Istana usai Jokowi mengumumkan nama Ma'ruf Amin sebagai cawapres pada Jumat (10/8).
Saya katakan begini, saya ini orang NU tetapi mau berangkat bukan sebagai kader NU tapi kader bangsa. Kenapa NU mengancam ngancam, ini kesan saya. Sehingga saya bilang di NU banyak guyonan sehingga saya merasa tidak sakit hati tapi senang mengungkap ini saya lahir batin saya NU," tutur Mahfud.
Tafsir Pribadi
Sementara itu, Sekjen Partai Golkar Lodewijk F Paulus mengatakan apa yang disampaikan Mahfud merupakan tafsir pribadi. Sebab, alasan terpilihnya Ma'ruf Amin sebagai cawapres hanya Jokowi yang tahu.
"Kita belum tahu, biarlah orang itu, itu kan tafsir dan yang tahu sendiri kan Pak Jokowi, gimana sampai beliau putuskan Pak Ma'ruf sebagai pendamping beliau," ujar Lodewijk di Posko Cemara, Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (15/8).
Apakah dari Koalisi Indonesia Kerja (KIK) akan menyiapkan atau membahas strategi melawan pernyataan Mahfud? Lodewijk enggan berkomentar.
"Itu kami no comment soal itu," katanya.
Jamin Solid
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan tidak ada partai koalisi Joko Widodo (Jokowi) yang pernah menghubungi Mahfud Md untuk bersiap-siap menjadi cawapres Jokowi. Hasto menyebut seleksi cawapres menjadi kewenangan Jokowi.
"Oh nggak pernah. Kami nggak pernah lakukan karena itu ranah dari Presiden dan Presiden meminta beberapa orang melakukan persiapan karena apa pun menyangkut pemimpin negara harus ada opsi, opsi dan opsi. Opsi itu dilakukan para ketua umum partai dan kami melihat goreng menggoreng penetapan calon ini kan digenderangnya oleh pihak lain," ujar Hasto di Istana Negara.
Hasto mengatakan, timnya tidak mempersoalkan pernyataan Mahfud tersebut. Menurutnya, pernyataan Mahfud akan digunakan tim lawan sebagai serangan.
"Padahal buat kami bukan persoalan, Pak Mahfud MD sendiri dari pernyataan beliau tidak ada persoalan hanya ada pihak lawan yang mencoba menggunakan hal ini sebagai upaya mengganggu soliditas dalam tim kampanye. Kami tidak bergeming. Semua solid," ujar Hasto. (detikcom/l)