Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026

Gunung Anak Krakatau Erupsi 576 Kali Sehari

* Lombok Diguncang Gempa Beruntun, Pasien RSUP NTB Dirawat di Parkiran
- Senin, 20 Agustus 2018 10:29 WIB
343 view
Gunung Anak Krakatau Erupsi 576 Kali Sehari
SIB/Instagram/Lambe_turah
LONGSOR: Warga berhamburan di jalanan saat salah satu bukit di kaki Gunung Rinjani longsor akibat gempa Lombok, NTB, Minggu (19/8) siang.
Jakarta (SIB) -Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda Provinsi Lampung kembali meletus. Kemarin tercatat Gunung Anak Krakatau sudah meletus 576 kali.

"Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau PVMBG melaporkan Gunung Anak Krakatau erupsi sebanyak 576 selama sehari pada Sabtu (18/8). Tinggi letusan bervariasi 100 meter hingga 500 meter dari puncak kawah," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangannya, Minggu (19/8).

Sutopo menyebut amplitudo dan durasi letusan Gunung Anak Krakatau bervariasi. Sutopo menambahkan letusan itu mengakibatkan lontaran abu vulkanik dan pasir.

"Selama 24 jam dari pukul 00.00-24.00 WIB pada Sabtu (18/8), Gunung Anak Krakatau meletus 576 kali kejadian dengan amplitudo 23-44 mm, dan durasi letusan 19-255 detik. Letusan disertai lontaran abu vulkanik, pasir, lontaran batu pijar, dan suara dentuman. Secara visual pada malam hari teramati sinar api dan guguran lava pijar. Hembusan berlangsung 80 kali kejadian, amplitudo 5-30 mm dengan durasi 10-80 detik," paparnya.

Dia menambahkan kepulan abu terlihat membubung ke angkasa hingga mencapai lebih kurang 500 m di atas puncak. Meski begitu, Sutopo mengatakan letusan ini tidak memiliki dampak merusak.

"Meskipun terjadi letusan sebanyak 576 kali, namun tidak ada letusan yang besar yang menimbulkan dampak merusak. Letusan yang terjadi hanya kecil namun beruntun. Letusan tidak berpengaruh pada jalur penerbangan dan jalur pelayaran di Selat Sunda," terangnya.

Dia mengatakan tak ada peningkatan status gunung api. Meski terpantau mengalami sejumlah peningkatan aktivitas letusan, Sutopo mengatakan situasi ini tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 km.

Sutopo menambahkan peristiwa meletusnya Gunung Anak Krakatau ini menjadi momentum untuk membangun pariwisata dan edukasi tentang gunung api. Sebab gunung ini terus bertambah tinggi dengan rata-rata 4-6 meter per tahun setiap kali meletus.

"Justru sesungguhnya ini adalah peluang untuk wisata dan edukasi gunung api. Tidak semua negara memiliki gunung api. Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. 13 persen gunung api aktif di dunia ada di Indonesia," terangnya.

"Tinggal bagaimana kita menyikapi dan harmoni dengan alamnya. Selalu ada berkah di balik bahaya yang mengancamnya selama kita mengenali dan berada di tempat yang aman. Kita bisa mengemas paket wisata letusan Gunung Anak Krakatau sekarang. Apalagi legenda letusan Gunung Krakatau begitu mendunia," sambungnya.

Dia megimbau masyarakat tak perlu khawatir dan selalu waspada. Sebab petugas terkait terus melakukan langkah antisipasi.

"Masyarakat diimbau tetap tenang. BPBD Provinsi Banten, BPBD Provinsi Lampung, PVMBG dan BKSDA telah melakukan langkah antisipasi. Yang penting masyarakat mematuhi rekomendasi tidak melakukan aktivitas di dalam radius 2 km dari puncak kawah. Di luar itu aman," ucap Sutopo. 

Diguncang Gempa Beruntun
Pasien di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB (RSUP NTB) berhamburan keluar ruangan saat gempa mengguncang Lombok, Minggu (19/8) siang. Gempa membuat pasien panik dan ada pasien yang dipindah ke luar gedung.

Gempa beruntun di hari yang sama sebelumnya berkekuatan 5,4 pukul 12.06 Wita dan 6,5 Skala Richter pukul 12.10 Wita membuat panik hampir seluruh pasien yang dirawat inap di dalam gedung RSUP.

Inaq Sahar (60) keluarga pasien asal Mantang, Lombok Tengah yang ikut merawat inap keluarganya yang sakit bertambah panik selang beberapa detik setelah gedung RSUP kembali terdampak bergetar akibat guncangan gempa 6,5 skala Richter.

"Saya tidak tahu mau bilang apa. Sebelumnya saya takut akibat gempa 7,0 malam hari Minggu lalu itu (5/8). Waktu itu saya masih di gedung lantai tiga sedang rawat anak saya yang sakit gagal ginjal. Sekarang lagi saya dikagetkan begini. Ya Allah," tuturnya.

Cerita yang sama juga diungkapkan Hardianto (35) warga Desa Teniga, Tanjung, Lombok Utara. Ia menuturkan saat gempa pertama ia dan istrinya, Irni (32) yang sedang dirawat akibat tulang panggulnya patah yang sebelumnya tertimpa reruntuhan dinding rumahnya yang ikut hancur saat gempa 7,0 SR lalu.

"Tadi saat gempa pertama tidak ada yang rasakan, hanya sebagian saja. Perawat menyuruh kami keluar dari dalam gedung ICU. Pas saat keluar sangat terasa sekali getarannya. Saya dorong lebih kencang istrinya saya di atas kursi rodanya untuk keluar dari ruangan," tuturnya.

Hardianto juga menceritakan tentang keadaan keluarganya yang menjadi korban gempa 7,0 SR. Selain istrinya, anak perempuannya yang berusia 7 tahun ikut tertimba reruntuhan. Anaknya juga sempat dirawat lama di RSUP karena mengalami luka robek bagian kepala.

Dari pantauan, hampir semua pasien yang dirawat di RSUP dipindah rawat ke halaman parkir. Hanya sebagian yang masih berada di dalam gedung depan lobi RSUP.

Keluarga dan pasien masih tampak waspada akan adanya gempa susulan. 

Rusak
Gempa tersebut juga membuat 2 masjid di Pulau Sumbawa mengalami rusak di bagian atap dan dindingnya retak-retak.

Saat kejadian, di dalam masjid tidak ada seorang pun Jamaah. Atap, genteng, kayu dan kaca masjid hancur total.

"Ada satu masjid yang rusak akibat gempa tadi atapnya ambruk. Satu lagi hanya dindingnya yang sudah retak-terak," kata Kalak BPBD Sumbawa Barat, Lalu M Azhar, saat dihubungi.

Sementara ini hanya dua masjid yang terdata akibat gempa. Untuk kerusakan di tempat lain masih dilakukan pendataan dan menunggu laporan.
 
Longsor
Akibat gempa tersebut bukit di kaki Gunung Rinjani juga dilaporkan longsor.

"Iya betul, kemungkinan hampir semuanya," kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Sudiyono saat dihubungi.

Sudiyono menambahkan longsoran itu terjadi di daerah Sembalun, Lombok Timur. Dia menambahkan lokasi longsor sudah jauh dari rumah warga.
"Daerah Sembalun, (lokasi longsor) jauh dari permukiman warga," terangnya.

Dia memastikan tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Saat ini warga masih berada di tenda pengungsian.

Pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani ditutup dari tanggal 29 Juli lalu. Belum diketahui sampai kapan kawasan pendakian tersebut dibuka kembali.

Tebing di Bali Longsor
Sementara itu, Tebing Gunung Abang, Kintamani, Bangli, Bali mengalami longsor akibat diguncang gempa. Polisi memastikan tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

"Pukul 12.00 Wita, akibat gempa tadi siang tebing sebelah Timur Desa Buahan mengalami longsor," kata Kasubbag Humas Polres Bangli AKP Sulhadi lewat pesan singkat.

Sulhadi menambahkan longsoran tersebut mengganggu akses jalan utama di Desa Buahan dan Desa Trunyan. Meski begitu dia memastikan tak ada korban jiwa akibat peristiwa itu.

"Akibat longsoran menutupi sebagian jalan umum sehingga menyebabkan akses lalu lintas dari Banjar Dukuh Desa Abang Batu Dinding dan Desa Terunyan menuju Desa Buahan lalu lintas agak terganggu," ucapnya

"Tidak ada korban jiwa maupun material dari kejadian tersebut mengingat jauh dari permukiman," sambungnya.

Sulhadi mengimbau warga agar selalu waspada karena tebing tersebut masih labil. Apalagi jika terjadi hujan deras atau gempa susulan.

"Tebing tersebut masih labil dan sering longsor. Apabila ada angin kencang atau gempa atau hujan deras akan terjadi longsor disertai jatuhnya material batu kecil," pesannya Sulhadi. 

Gempa 7 SR
Sementara itu, gempa berkekuatan 7 Skala Richter (SR) kembali mengguncang Lombok, Minggu malam. Aliran listrik di Lombok Timur saat ini terputus.

"Kondisinya gelap gulita. Listrik padam," kata Kepala Staf Kodim 1615/Lombok Timur Mayor (Inf) Arifianto melalui sambungan telepon.

Saat telepon masih tersambung, Arifianto kembali menyampaikan gempa terjadi. Dia menyebut guncangan terasa kuat.

"Gempa lagi. Gempa besar lagi. Allahuakbar Allahuakbar," teriak Arifianto.

"Minggir, minggir, jangan dekat tower. Allahuakbar," sambung dia. Terdengar riuh di seberang sambungan telepon.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya menyampaikan gempa berkekuatan 7,0 (SR) terjadi pukul 21:56.
Sutopo mengatakan titik gempa berada di koordinat 8,28 Lintang Selatan dan 116,71 Bujur Timur atau 30 KM timur laut Lombok Timur. Pusat gempa berada di kedalaman 10 KM.

5,6 SR
Setelah gempa berkekuatan 7 SR, terjadi gempa susulan 5,6 SR. Kali ini pusat gempa 18 KM barat laut Lombok Timur.

"#Gempa Mag:5.6 SR, 19-Aug-18 22:16:37 WIB," cuit Badan Meteorologi, KLimatologi dan Geofisika (BMKG) lewat akun Twitter @infoBMKG.

Titik koordinat gempa berada di 8.35 Lintang Selatan, 116.53 Bujur Timur, Lombok Timur. Pusat gempa berada di kedalaman 10 KM.

Terasa Hingga Makassar
Efek gempa tersebut juga dirasakan oleh sebagian warga Makassar, Sulsel.

Getaran ini terasa sekitar pukul 23.00 WITA, Minggu (19/8). Sebagain warga Makassar menyadari ada gempa tersebut.

"Iya ini terasa gempanya sampai di sini. Bukan Makassar kan?" kata Supardin di Makassar.

Hal ini juga dirasakan oleh Neny Marlina. Dirinya mengira getaran berasal dari kendaraan berat yang melintas di jalanan depan rumahnya.

"Ternyata bukan. Ini terasa sekali getaran gempanya," ucapnya.

Meski getaran gempa di Lombok terasa hingga Makassar, namun terlihat tidak ada tanda-tanda kepanikan yang membuat warga berhamburan. Arus lalin di Kota Makassar pun tetap berjalan normal. Bahkan beberapa warga lainnya mengaku tidak merasakan getaran gempa itu.

"Saya tidak merasakan gempa sama sekali. Mungkin karena sedang menonton," kata Nur Vita. (detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru